Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Desember 2012

catatan akhir tahun.


yang tersisa dalam kenangan hanya serpihan memori yang berantakan.
yang tersisa setelah mabuk adalah rasa mual dan pusing yang menggila.
yang tersisa setelah perjalanan panjang adalah lelah dan cerita-cerita.
yang tersisa setelah berbincang dengan alam semesta adalah kerinduan.
kerinduan akan gelap nya titik hitam. dan cahaya yang melampaui difinisi kata terang.\


pok tunggal. gerbang awal saat tahun baru memasuki hari pertamanya. setunggal-satu.
ada pesan aneh yang datang tiba-tiba. seperti hujan dibulan februari, seperti banjir di sungai-sungai keruh, pesan itu datang tak diundang. sebuah pesan singkat dari seseorang yang akan kau ketahui nanti.


"pok tunggal menjadi mpok tunggal-kemudian menjelma menjadi mbok tunggal, mbok berarti ibu-mbok tunggal menjelma dengan ganjil menjadi mbok manunggal,mbok kali ini berarti menjadi,menjadilah satu-bersatu-kemudian kau menyatu. tepat di tanggal satu.kebetulan?terlalu kebetulan untuk sebuah kebetulan itu sendiri"

hujan belum berhenti dan aku menunda perjalanan. mungkin esok. 
pesan itu kusimpan. kutulis dalam kertas buram, dan sore ini aku masukan ia kedalam dompet yang kusam.

IA 30 Desember, sebelum mabuk berat.


Rabu, 19 Desember 2012

Gal-waw

pagi ini aku melihat merapi dengan jelas. sebuah gunung yang terbelah ujungnnya. 

langit begitu cerah-tanpa sedikitpun ada warna abu-abu di sekumpulan biru dan putih. entah apa yang akn terjadi. mungkin ini hanya fenomena,mungkin ini hanya hiperbola-hiperbola yang lain.

tapi ada yang aneh. pagi ini aku melepaskan sesuatu dengan berat dan langit malah memberi jawabannya dengan langit yang tampak cerah berlipat-lipat. semalam, ada tiga hal yang membuat kita tak ingin mati dan pergi meninggalkan bumi begitu saja. yang pertama, mabuk berat di pantai dengan musik-musik pantai. yang kedua, pagi yang seperti ini dengan teh hangat, rokok dan musik folk. yang ketiga hujan, dengan segelas coklat panas kental, membaca buku bagus, dan suara hujan itu sendiri. tiga keputusan tersebut dibuat semalam. dan tiap hari aku berusaha mewujudkannya sebisa mungkin. akumenelan dunia bulat-bulat. entah sampai kapan.

seorang pertapa tua datang dalam mimpiku. ia diam dan hnya menatapku. ia mengenalkanku dengan seseorang yang aku kenal baik sebenarnya. dan dalam mimpi ganjil itu yang kami lakukan hanya saling menatap. aku menyelami matanya yang-hmm kamu harus lihat. tak ada kegiatan yang lain selain saling menyalami mata satu sama lain. aku tak kuasa. aku menangis. dan pergi menuju pertapa tua. ia tak ada. yang ada hanya seorang yang aku kenal dengan baik. tapi ia hanya diam. tersenyum dan menatap. aku cari lagi semesta di matanya dan...kamu harus melihatnya.

mata adalah telaga yang lucu. kamu bisa mendapat sebagian jawaban dari sebagian pertanyaanmu. 

akhir-akhir ini semua tampak lebih jelas. apa yang harus aku kejar dan aku lakukan. sedikit demi sedikit aku mencoba berani mengambil resiko. aku mulai pasrah kepada koneksi-koneksi alam semesta. dan semua tampak begitu jelas.

sejelas apa yang mata mu tawarkan dalam mimpi.

aku kejar itu.

seorang teman pagi buta membangunkan tidur. ia bercerita tentang keberanian. tentang untuk menjadi kamu yang sebenarnya. ia bercerita:

aku pernah membaca sebuah buku penyembuhan yang bercerita tentang pematung kuda yang hebat. suatu hari pematung dari luarnegri datang untuk belajar dari pematung kuda hebat tersebut. pematung luar negri bertanya, "bagaimana kamu membuat patung kuda itu dari sebongkah batu besar dan menjadikannya tampak nyata" pematung kuda yang hebat itu hanya tersenyum dan berkata, "mudah saja, aku hanya perlu membuang hal yang bukan kuda pada batu ini," sang pematung dari luar negri kaget akan jawaban ini.

dan entah. mungkin sudah saatnya aku mulai menyingkirkan hal yang bukan aku. untuk mencari aku yang sejati. tapi semua begitu sayang untuk disingkirkan. dunia ini rasanya hanya terdiri dari gula-gula-dan kau menjadi seorang anak yang sangat menyukai gula.

-IA-


Senin, 10 Desember 2012

Besok

besok hari aneh. entah mungkin karena aku tak suka dengan angka satu dan dua. angka yang sama sama aneh dan sama sekali tak masukdalam daftar angka yang aku suka. hahahaha 12-12-2012. belum, belum akhir dunia. masih banyak orang mencuri yang tiba-tiba pake peci. masih banyak orang yang masturbasi sebelum mandi untuk mencari kata "suci".

lama aku tak menulis-juga tak menggambar atau memotret. penat-dinding-dinding otak ku sedang mengalami sengketa yang serius. apalagi tugas-tugas perkuliahan yang aduhai. pagi ini satu pesan singkat aku terima-via sms:

orang pikir mereka perlu kuliah untuk mendapat hidup layak. padahal kau tau,cucuku, tak ada mata kuliah yang memberikan kita satu pun ilmu tentang hidup. ambigu bukan?

pengirim tak tercatat dalam data kontak. hanya nomer. angka. dan sekali lagi angka-angka yang aku tak suka. ah masabodoh, ibuk sudah terlanjur bayar mahal untuk uang gedung ini dan aku rasa kuliah memiliki fungsinya sendiri, entah apa.

besok masih akan tetap hari yang aneh. dengan cuaca yang sudah terlanjur aneh. ya-memang ada aksi reaksi-sebab akibat. karma. keanehan ini berdasar dari manusia-manusia yang lupa. yang tak ingat bahwa bumi yang ia injak bernapas dan menghubungkan benang panjang dengan keseimbangan alam semesta. bumi dilubangi dengan seenak hati-pohon ditebangi-satwa apapun dikuasai,ditaklukan. dan vegetasi hanya akan berakhir pada taman-taman kota yang tak mampu berbicara tentang alam semesta. sementara peristiwa-peristiwa itu berlangsung-sebagian orang malah dengan anehnya mengadakan acara pernikahan ditanggal yang aneh- tanggal cantik untuk bumi yang sakit. dan makan besar digalangkan-piring kotor-air sabun-gelas plastik dan sebutlah apapun benda aneh lainnya yang akan bertambah di tanggal ini.

kiamat?belum.

aku mencintai teori monokromatik. dimana untuk mencapai putih, hitam harus melalui tahap abu-abu dengan sabar. lapis demi lapis. dan saat ini bumi sedang mengalami masa itu. entah dari mana dan kemana kita sedang berproses, dari hitam ke putih atau sebaliknya. kita sedang mengalami masa abu-abu. monokromatik-pelajaran semester satu,matakuliah rupadasar. saat itu nilaiku C dan tak ada dosen yang membicarakan hal ini diluar teori-teori dalam buku dan internet. entah aku dapat ini dari mana-mungkin dibawa nyamuk-nyamuk yang menggigit tubuh ini sesuka hati. atau kebetulan terbawa angin kemudian termakan saat aku membuka mulut lebar-lebar. atau mungkin ini dibawa ajaran baru-paham baru: WATONISME. ah terlalu banyak isme-isme didunia ini.

monokromatik menjelaskan banyak hal dengan romantik.klasik. dan kiamat?belum.

besok adalah hari yang aneh. dengan gairah yang aneh.

dan kiamat? tetap-masih saja belum.

gitarku senarnya putus-tepat di senar nomor dua dan satu. yang tersisa hanya tinggal senar nomor tiga sampai enam. dan yang terdengar adalah dominan senar-senar tebal-antara nomor empat sampai enam. dan lagi-lagi aku merasa aneh-apa ini tanda-bahwa besok kiamat?hahaha belum.

masih banyak koruptor yang pergi haji setalah mencuri berkali-kali. dan pencuri-pencuri itu kini mulai mempertimbangkan konsep syariah. mereka mencuri kitab suci-mengkorupsi-mungkin mereka pikir tuhan akan memberikan keringanan jika yang ia curi kitab suci. hahahaha dan aku dengar ada beberapa calon bupati yang memajang foto close up dirinya pada sampul kitab suci kemudian ia bagi-bagi. hahahaha ada-ada saja aktivitas lucu dibumi.

maaf-kembali lagi.
besok aku menarik kesimpulan bahwa hari akan sangat ganjil-orang-orang berfoto sebaik mungkin untuk mendapat foto pranikah yang cantik. sekali lagi mereka mengejar tanggal cantik saat bumi sakit. dan sementara suku-suku maya menyiapkan tumpeng untuk upacara akhir dunia-sebagian manusia malah rame-rame potong kulit penis di hari yang tragis. dimana bumi sudah terlanjur amis tak sanggup lagi menangis atau hanya meringis. pasrah bersimbah darah.

hari ini, bukan besok, aku dikawal mendung. mengantarku pada pohon besar. aku duduk dibawahnya-kopi-kretek dan buku jurnal sudah ada ditangan. aku duduk di sudut dusun. Muntilan. dibawah pohon yang kesepian mendung menemaniku dengan tarian-tarian pemanggil hujan. aku resah. semoga jurnal ini tak basah.

-IA-sebelum duabelasduabelasduabelas.


Selasa, 16 Oktober 2012

Bahagia

malam sudah lewat. dan aku bangun terlalu pagi untuk bercerita kepadamu.
hujan turun begitu sempurna malam ini. hampirtanpa cacat. hari ini aku menjadi ringan. bahagia. 

aku melihat beberapa orang tersenyum dan tertawa setelah melihat bu sumirah. yng tetap bernyanya-meski bapak dan ibunya sudah mati,meski ia belum makan sejak pagi,meski a datang dari gunung kidul yang jauh tanpa alas kaki-busumirah tak memberikan ruang untuk mengeluh didepan banyak orang. ia bernynyi dengan semangat.tanpa harus hafal kunci untuk bermain ukulele ia gerakan ujung kakinya mengikuti iramanya sendiri. ia larut dalam seuasana kekeluargaan. entah dimana yang salah disini. kami ikut tertawa. ikut bahagia. mendengar bu sumirah diatas panggung. tanpa kesedihan ia bernynyi dan memetik ukulele sesuka hati. aku yakin bu sumirah juga bahagia. terlebih kami, kami terlampau larut melihat ia mau bergabung kepada kami.

lantas kebahagian dengan mudah datang malam itu. tanpa menunggu dipanggil dan dicari. apakah semudah itu kita mendapatkan rasa bahagia?datang seperti angin. begituringan seperti debu.
kebahagiaan tak selamanya melupakan rasa haru. kadang ia adalah manifestasi dari kesedihan itu sendiri.

 
aku bertemu bnyak hal hari itu. seorang kawan dari kota yang sama. kami tak saling kenal. tapi kami mencoba saling mengenal waktu itu. ia bercerita tentang desa dan mindset orang-orang dikampungnya. ia bercerita banya hal. dan aku duduk mendengarkannya. mungkin beginilah ceritanya:

ia seorang barista. dengan tattoo di lengan kiri, pierching dan rambut gondrong yang diikat. bicaranya ramah,meredamkan bentuknnya yang dianggap mengganggu kenyaman sekitar desa. ia bercerita tentang konflik yang nyata. yang masih dengan sangat bodoh dipelihara. tentang kepemimpinan.

didesanya,mayoritasadalah muslim. dan beberapa orang disana memeluk nasrani. saat itu ia menceritakan pemilihan kepala desa. sebuah partai demokrasi untuk orang-orang yang tak mampu heboh ditelevisi. dan ia bersikeras memilih seorang nasrani, yang baik dan bijak katanya. dan seluruh kampung geger. semua menghampiri rumahnya berteriak dan mengepalkan tangan. temanku keluar. orang semakin ribut. ia bilang ada apa ini. orang-orang menjawab dengan tak karuan. salah satu dari gerombolan itu berkata bahwa iakafir,tak mendukung pemimpn yang seiman. temanku yang baru aku kenal beberapa menit itu masuk kembali kedalam rumah. ambil baju. lalu keluar. 

kau pasti akan menganggap ia akan menyelesaikan masalah. berdiskusi dengan banyak orang itu. tapi,bukan itu yang ia lakukan. ia keluar beserta tas punggung yang tampak apdat. ia merantau. dikota besar. pergi meninggalkan orang-orang desa dan mindsetnya yang tak sejalan.

di perjalanan ia menangisi kampungnya. tempat ia mulai petama menginjak tanah dan tempat ia bercita-cita untuk mati. ia berkata bahwa berulang kali ia disepelkan. dicap sebagai preman karna sebuah tattoo yang masih tetap tampak meski kaos sudah dibuat besar. dan ia tak mampu menahannya lagi saat ia dicap kafir gara-gara ia memilih tuan dari ujung gang. yang setiap minggu kegereja. yang setiap imlek mebagikan kua ranjang dan amplop merah. yang lebih ramah dari siapapun disana. termasuk orangtuanya yang mulai dingin sejak ia hidup dengan prinsipnya.

ia menangisi orang-orang kamoung yang semasa kecil menjadi teman-temannya. ia heran mengapa mereka harus begitu mengkotak-kotakan keadaan. ia tahu benar bahwa sebagian calon kepala desa waktu itu memang banyak yang muslim, tapi ia tau bahwa kinerja mereka tak kompeten. salah satu diantara mereka malah p[ernah tertangkap sebuah sekandal. kini orang itu malah menampakan fotonya dengan peci dan senyum hasil rekayasa penata model fotografer. ia bilang,bukan agamanya yang jelak. ia tak mengaitkan agama sama sekali disitu. ia dengan semangat dan menggebrakan meja didepanku berkata bahwa kita seharusnya tak terkotak-kotakan oleh banyak hal. agama memili tempat sendiri saat kita berbicara tentang demokrasi,ia bilang seperti itu. dan orang-orang kampung ini begitu sadisnya menolak pengabdian seorang nasrani yang mencoba menjadi indonesia. ia berkata ini bukan masalah siapa muslim dan siapa nasrani. ini bukan masalah siapa yang melarangku tatto atau masabodoh dengan tattoo ku. bukan,bukan itu. air mukanya berubah saat itu. ia mengharapkan indonesia yang lebih humanis dan plural. yang mau bersama-sama duduk sejajar memikirkan banyak masalah yang sama,tanpa membawa privasi-privasi individu. tanpa membawa ruang agama dan ruang ketuhanan. kemudian ia membuang muka. menyalakan rokok dan memulai basa-basi yang lain.


aku mengambil nafas dalam. berharap ia mau pulang dan bertemu orang-orang kampunnya. berharap ia mau memahami mereka lebih-lebih. tapi aku bukan dia,bukan juga orang-orang kampung itu. ia bilang aku sepertinya berada disebuah kasta yang berbeda dengannya.

aku tersenyum dan mengelus dada.

bisakah manusia bersama-sama menghimpun sebuah rasa kebahgiaan?bisakah mereka melupakan kota-kotak yang ia bawa?melupakan jejak-jejak yang dibawa sejak lahir?melupakan kasta-kasta?untuk menjadi bahagia?untuk setidaknyaseperti bu sumirah yang masabodoh dengan orang-orang didepannya, asal ia bisa bernyanyi dan orang itu tertawa melihat tingkahnya?mungkin disini kita harus belajar kepada bu sumirah. yang benar-benar masabodoh dengan banyak hal. asal kamu terhibur,ia pasti tertawa. dan sat kau tertawa kau akan memberikan keping-keping rupiahmu. dan ia tambah bahagia. lalu meneruskan menyanyi dan mungkin kamu akan melihanya sedikit menari. bisakah bahagia selalu muncul sesedaerhana itu?karna temanku mencari kebahagiaan itu dikota orang. karna temanku sedih orang-orang kampungnya tampak rasial dengan hal agama. karna temanku menganggap aku dari kasta yang berbeda. karna temanku...mungkin belum melihat bu sumirah bernyanyi,yang tanpa harus bisa memainkan ukulele,ia memetik benda kecil itu,menganggukan kepala,menyanyi dan menghentakan kaki. bu sumirah yang sejak pagi belum makan itu tampk selalu bahagia, dan kita harus banyak belajar dari dia...mungkin.

-IA-

Senin, 15 Oktober 2012

setelah malam itu

kadang sesuatu hadir secara irasional. dan mengendap-endap. tenang seperti kematian. sesuatu itu, yang irasional, hinggap seperti debu. bekas kulit mati yang mengering dan berterbangan. kadang yang datang dengan cara tak masuk akal akan pergi pula dengan alasan-alasan yang tak mampu dijelaskan. seperti mabuk yang hilang saat pagi, yang pergi tetap meninggalkan jejak. meskipun berupa perasaan ham
pir muntah. lalu setelah sadar,kadang kita mengumpati arak murah yang kita beli semalam. kenapa begini-kenapa begitu. tapi mungkin,di malam yang lain,kita akan membeli lagi. mabuk lagi. muntah kemudian mengumpat. dan begitulah hal-hal yang irasional bertahan. datang dan pergi. berterbangan. melekat. dan terlalu melankolis untuk diacuhkan.

-IA-

Rabu, 10 Oktober 2012

Basa-Basi

semua tampak penuh dengan basa-basi. seperti biasa pagi tidak dapat merangsang katukku sama sekali, meski suasana begitu sexy. hmm, jika tidur dan terlelap adalah sebuah tujuan, maka rasa kantuk adalah sebuah basa-basi paling menjengkelkan.karna ia bertahan dan bergelayutan di pelupuk mata, sangat dekat, namun tak terlihat..aku tak tahu mengapa tulisan ini akan diawali dengan sbeuah paragraf yang tak menarik. bahkan kamu lebih baik baca tulisan jorok murahan dengan judul: istri tetanggaku. hah! lalu setelah itu pergilah ke kamar mandi. onani! kadang aku merasa kasihan kepada mereka yang memperlukan bacaan, tulisan, refrensi untuk sekedar mebangkitkan fantasi. otak mereka sepertinya terlampau suram untuk menciptakan keindahan.

oke..
kita mulai

orang-orang disekitraku adalah masyarakat dengan dialektika monoton. setiap saat mereka selalu melakukan pembicaraan yang sama. mereka memuji apapun yang mereka lihat dengan harapan mereka akan mendapat pujian balasan.sebuah lingkaran narsisme yang terlalu ortodoks.

tapi TIDAK semua orang yang aku kenal melakukan hal itu. beberapa diantara mereka cukup sehat untuk memberi penilaian tentang apapun itu. kadang diam adalah sebuah ketidaksetujuan yang disembunyikan, itu yang diyakini beberapa temanku yg lain.

aku tak tahu kenapa mereka diam
akupuntak tahu kenapa mereka berbicara
karna apapun yang dilakukan manusia "kadang" memiliki tujuan yang disembunyikan

apapun

bahkan doa-doa kadanng menjadi konspirasi. betapa lucunya kita. kadang kita mencoba menipu "orang-orang langit", mereka yang bertugas merangkum alam semesta.
lalu mengapa kita selalu menyembunyikan banyak hal?

orang bilang, bahwa terkadang kejujuran menjadi sbeuah racun yang menyeramkan. ia membunuh semua yang tak memiliki penawarnya.

kadang aku membayangkan jika benci dan sakit hati tidak diredam dengan basa-basi. tidak diredam dengan dialektika kompromn,mungkin dunia hany akan dipenuhi dengan orang-orang yang siap melemparkan batu kepada siapapun.

lihatlah! batu-batu berterbangan! kau harus menggenggam sebuah batu juga.
jaga jaga siapa tahu orang-orang disekitarmu ternyata memiliki dendam masalalu.

mungkin kita akan berpikir, bahwa sebuah basa-basi ternyata dapat menunda mati, dan hahahaha! aku yakin orang-orang langit akan tertawa jika kita meyakini hal itu. pil kematian sudah kita telan sejak lahir? kita hanya menunggu waktu yang tepat kapan pil itu akan berkontraksi. dan saatnya tiba, kau tak bisa lari. karna ia ada didalam tubuhmu.

basa-basi atau sebuah dialektika yang masuk akal, hanya akan berfungsi jika ia digunakan untuk meredam sebuah konflik yang belum mampu diterjemahkan nalar.

-I.A- oktober 2012

Minggu, 07 Oktober 2012

Di sebuah Jalan Pulang

sebuah cerita tak selamanya menyimpan sebuah petuah. nasihat hidup yang terselubung.

jam lima pagi, aku pulang dari kota yang pura-pura tenang, kota yang ganjil dan mengambang. tak pasti. kota salatiga.

menuju jogjakarta melewati daerah salib puith kemudian menuju kopeng yang dingin. dingin dalama arti sebenarnya. sendirian, menatap gunung yang tampak samar-samar. kabut dan gelap yang tanggung selalu mengingatkanku dengan satu hal yang kadang kita lupa, suasana pasar saat pagi. saat pedagang sayur, dan bermacam daging potong mulai menata lapak dan membersihkan dagangannya. mengipasi ikan-ikan yang terbujur kaku agar lalat tak menaruh bibit telurnya di tubuh sang ikan. karna tak ada harga untuk ikan dengan belatung yang menggeliat di mata ikan yang terlampau amis. aku tak tau akan bercerita tentang apa, karna sisa-sisa dari perjalanan tadi pagi hanyalah rasa dingin dan tulang yang terasa kaku.

saat kau melewati salib putih dini hari, kau akan mendapatkan gambaran perkampungan nasrani yang teduh. dengan hotel-hotel kecil, dan sekolah-sekolah teologi kau merasa, sedang tidak ada di indonesia. karna mata kita selalu dihadapkan dengan masjid dan plang-plang sekolah berwarna hijau atau biru. bukan, bukannya aku bosan melihat itu, aku tidak bermaksud berkata ada yang lebih baik dari masa sekarang. aku hanya merasa tak seperti biasanya, ganjil.

aku diam dan menghirup nafas dalam-dalam. menikmati matahari yang terlanjur dicuri awan mendung. awan kali ini hanya menawarkan warna kelabu. kusam dan penuh duka.

salib putih sudah dilewati, dan sebuah perkampungan yang "Seperti bukan kampung biasanya" itu menjadi kenangan. membentuk sebuah pertanyaan. apakah mayoritas selalu mendominasi? tidak hanya di indonesia. seperti halnya di amerika, saat kau akan sangat jarang menemui mushola atau sekolah dengan plang warna hijau atau biru. betapa mayoritas selalu tak mau rendah hati untuk mencoba tak mendominasi apapun di belahan dunia manapun. aku rasa, banyak hal yang tak bisa dijelaskan. termasuk adanya kemungkinan dominasi anomali.

sampailah aku pada titik dingin yang menggemaskan. di sebuah dataran tinggi bernama kopeng, dimana kau akan menemukan suasana pasar yang sedang berbenah. sayur-sayur yang diletakan dilapak-lapak sederhana. buah-buahan besar seperti semangka tak mendapat alas, tergeletak dijalan begitu saja. daging-daging digantung, dan ikan (entah bagaimana ada yang menjual ikan didaerah pegunungan. mungknkah itu ikan air tawar?dulu kakek kita yang pergi berkebun di gunung menukar kan sayur untuk mendapat ikan laut dari kakek kita yang pergi berlaut.hah, sudahlah..) ikan diletakan dalam ember putih yang berair keruh. sisa darah dan lendir-lendir kematian. di kopeng kau akan menjumpai kebun yang tak habis-habis. jalan panjang berkelok dan gerimis membuatku berhenti pada sebuah warung makan yang sepertinya baru saja buka.

seorang bapak yang sedang menanti teh hangat sama sepetiku mengambil rokoknya dan kita saling menyapa, dan basa-basipun terjadi. bapak itu berhenti saat aku menyebutkan nama kota pekalongan. ia mulai mengambil nafas panjang.

"tahukah kamu dengan sejarah haij misbach? orang kiri yang dibuang di pekalongan?"

aku belum menangkap kenapa dia  bertanya hal itu kepadaku. mungkin ia kira aku seorang aktivis atau mahasiswa yang mengebu-gebu dan gemar beorasi. kala itu aku memakai baju bergambar penulis tetralogi buru, dan di tas, pin merah bergambar seorang penyair yang hilang cukup menyita perhatian. aku sempat berpikir bahwa bapak ini salah dan terlalu cepat menilai orang. bapak terlalu sering melihat orang dari luarnya, aku hanya pengagum tokoh-tokoh itu pak. aku bukan mahasiswa yang gemar beorasi atau seseorang yang menulis artikel di koran untuk mengadukan argumen-argumen ideologisnya. aku hanya suka dengan cara mereka hidup pak, apakah aku salah?apakah aku harus mengikuti jejak langkah mereka?membuntuti dan menjadi followers yang buta?apakah bapak pikir seseorang tak boleh memiliki cara nya sendiri dalam berjalan?ah bapak terlalu cepat menyimpulkan bahwa aku tau banyak hal. tapi..aku segan dan kedinginan, aku tak memberi jawaban kepada bapak itu.

aku mencoba bersikap seperti bapak itu yang sejak awal menelanjangi pakaianku. menelanjangi barangg bawaanku. aku menatapnya dengan terperinci. dari ujung kaki tak ada yang salah, ia tak memakai boot, ia tak memakai sepatu kulit atau sepatu aneh yang biasa dipakai para intel dan polisi. disamping tempat duduknya ia hanya membawa karung yang kosong dan terlipat dan sebuah arit kotor, tampaknya seperti basah. ia tak memakai caping, ia hanya memakai kaos dengan tulis petani bersatu. aku lupa detailnya, yang pasti mungkin bapak itu mungkin mengerti tentang banyak hal, termasuk petani dan perlawanan.

"siapa haji misbach pak?"

dia diam, membuang muka seakan berkata betapa tololnya kamu, seorang mahasiswa tak mengerti siapa haji misbach. seorang islam yang komunis, aku tau itu pak. tapi aku ingin mendengar cerita bapak.

"haji misbach adalah tokoh yang gigih berjuang membela kaum tertindas. ia seorang haji yang gemar mengganyang kapitalis. jihadnya adalah melawan kapitalis. ia bergabung dengan partai komunis berlambang palu dan arit. ia tak bergabung dengan bintang dan bulan sabit. ia seorang muslim, tapi komunis juga. tapi komus sama atheis itu kan beda, iya nggak si mas?"

aku tersenyum. bapak ini pintar, mungkinkah ongkos berkebun bapak habis untuk membeli buku?

"apakah di pekalongan ada pergerakan yang memperjuangkan kaum tertindas mas?mungkin saja haji misbach membuat jaringan disana yang sampai saat ini masih bergerilya dari generasi ke generasi berikutnya. adakah anak-anak muda disana yang gencar melawan kapitalis mas?"

kalo yang bapak maksud adalah sekumpulan pemuda yang ortodok, yang tanpa ampun mengganyang hal-hal yang "Tampak" erotis. ada pak, tidak banyak. mereka suka berteriak dan memakai seragam yang sama. mengidolakan gaya hidup negeri yang nun jauh disana. namun aku tak berkata apa-apa kepada bapak itu, aku diam. diselimuti dingin yang tak kunjung lari.

"haji misbach itu mas, muslim (aku tau itu pak, karna siapa lagi yang menyandang gelar haji selain umat muslim), agamanya kuat saya rasa ia pasti membuat jaringan di pekalongan juga mas. dua tiga tahun bukan waktu yang sulit untuk membuat jaringan, meskipun didalam tahanan. pasti ada orang yang simpati dan mengikuti jejaknya, tapi kenapa mas tidak tau?"

saya meremas erat gelas teh yang hangat, berharap dingin lari dan tak kembali. saya pun tersnyum kepada bapak itu. bingung

"saya ini ndak tau apa-apa pak. mungkin ada pak, tapi memang belum banyak yang keluar untuk menunjukan eksistensinya. karna pastilah ada orang yang bersimpati kepada siapapun yang memperjuangkan rakyat kecil, meskipun cuma sekedar janji" aku tersenyum karna hanya ngomong nglantur.

bapak ini diam. menatapku
"ya banyak orang yang simpati dengan orang yang sepertinya (ia menekankan intonasinya pada kata ini) memperjuangkan rakyat lemah. banyak yang pura-pura membela petani untuk mendapat simpati, mendapat suara untuk kontes jabatan. rakyat sering terperdaya"

aku hanya menganggukan kepala. agar bapak itu tak menganggapku menyepelekannya.

"akeh wong kang ketipu, kabeh iku mergone tipi mas. beritane yo ngapusi. filme yo mung gawe wedi. nggawe wateke rakyat tumpul. bujel lan ora wani golek bener kang sejati. koyo wingi pas telongpuluh sepetember. 30 september kemarin semua mengibarkan bendera setengah tiang. agar semua tetap terperdaya dan tertipu. akeh konco-konco sing mbiyen keluargane pki dadi ra iso kerjo. padahal agamane wes islam, sholate yo wes jamaah, tapi bapake mbiyen ik mantan pki, eh ra iso kerjo. jare pki iku koyo setan, seneng mangan daging manungso, padahal setan iku yo ora ketok. setan itu nggak kelihatan, menghisap darah rakyat namun kita tak tau siapa pelakunya. setan sekarang iku nyamare dadi pejabat, nganggo dasi, nganggo peci. pokoke akeh informasi sing asline mleset mas. becik ketitik olo ketoro, ngko bakal ono jamane kawulo ngerti sopo-sopo sing setan lan sopo-sopo sing konco"

bapak ini terlalu banyak bicara. ia berbicara banyak hal di sebuah warung umum, ia seperti tak mau tau jika tiba-tiba ada intel yang datang menyamar untuk mengorek informasi dari agenda forum petani. ah, tapi agaknya bapak ini tau bahwa intel indonesia terlalu pekok-pekok dan paling tak bisa menyamar. rambut gondrong, sepatu kulit jaket kulit dan jelana jeans. memakai kacamata hitam norak. mereka sebut itu pakaian preman. hahaha preman jaman sekarang saja tak suka jika gayanya disamakan intel yang gayanya payah.

pak sudah jangan banyak bicara. bapak harus bekerja. saya tak tau apa-apa pak. namun sekali lagi aku bungkam, karna aku memang benar-benar tak mengerti mengapa bapak ini bercerita tentang banyak hal.

"bukannya bapak berkata pki benar dan harus dibangkitkan lagi. bapak hanya kasihan melihat orang-orang yang sampai mengasingkan diri karna urip ning kota iku sulit sekali kalo kita eks-pki. padahal lebih banyak eks-koruptor yang lebih nggilani. pemerintah iku koyone wedinan. wedi banget yen ngadepi wong-wong kang njaluk keadilan. wedi marang liyan." bapak itu menambahkan dengan asap rokok yang tak berhenti keluar.

aku tersenyum. bapak ini pintar dan mengerti banyak hal..

"nggih pun mas kalo mas nggak mengerti. tapi saya tau mas ini mengerti, walalupun mungkin cuma sedikit. dari tadi mas senyam-senyum tok saya bingung mau ngomongapa. mas nggak kenal haji misbach ndak apa-apa, tapi kalo mas kenal "pki yang jahat" saya minta mas coba kaji ulang, apa benar pki dan gerwani gemar mengiris kontol para jendral. ada banyak hal yang disembunyikan mas dan jangan mudah percaya, termasuk karo aku iki mas, ojo percoyo wae, cobo goleki dewe, soale kabeh iku mung perang kekuasaan mas. mbiyen taun enem-limo enem-enem ribuan pki dibantai, sekarang semua heboh dan lupa, semua terfokus kepada aksi penculikan jendral oleh pki. dewe iki butuh keadilan informasi. pki salah, negoro juga salah. kabeh podo rebut kuwasa. hanacaraka datasawala padhajayanya magabathanga"

aku tersenyum. menunjukan bahwa aku simpati terhadap arguman bapak ini. bapak yang didepanku. yang sedang aku kira-kira bahwa dia adalah aktivis kaum tani.

dia mengambil uang dari kantongnya dan ia taruh di meja. uang yang tak lagi bagus. banyak noda tanah. banyak bekas yang dihasilkan dari ratusan tangan. uang itu mungkin sudah berpindah-pindah. seperti halnya kaki bapak itu. mungkin ia sudah berjalan di ladang yang basah dan rumput yang berembun. ia pun langsung meminum teh hangatnya. sembari menelan air yang berjalan pelan, ia matikan rokoknya.

"yu, iki duite ning kene yo yu, turnuwun" ia berdiri dan mebawa serta air yang ia gulungkan dengan karung kosong.

ia menolehku, tersenyum
"monggo mas.."
"ohnggih..monggo pak" aku tersenyum.

seperti kecewa bahwa percakapan mengambang tak jelas kemana akhirnya. seperti sedang ingin mendengarkan sebuah cerita yang biasa diceritakan simbah dulu. simbah, dulu ia sering bercerita sambil menynyikn lagu-lagu jawa. sedang apa simbah?apakah simbah ikut mendengar percakapan bapak tadi?ah simbah terlau asik bermain bersama bidadari..

ibu itu datang, ia menatapku. matanya seperti mengajaku untuk melihat tempat yang diduduiki bapak tadi. ia memonyongkan bibirnya pada tempat itu dan mengangkat tangan kanannya. ia miringkan jari telunjuknya tepat didepn jidatnya yang puith bersih.sebuah simbol. sebuah kode.

aku menarik nafas panjang.
dan tersenyum kepada ibu itu. akupun pergi setelah membayar dan berbasa-basi untuk sekedar tanya jalan ke arah jogja. ia bilang , aku hanya harus mengikuti jalan ini dan menuju arha magelang. akupun pergi.


kini aku kembali di sebuah dingin.
menatap gunung-gunung yang diselimuti kabut teduh. di temani gerimis kecil. daun-daun dan jalanan tampak basah dan begitu ramah. aku ingat tentang merbabu dan bromo yang riang mengajaku menikmati matahari. namun matahari tak kunjung sempurna untuk berkolaborasi dengan awan pagi. ia hnya menghasilkan segurat warna oranye,sedikit kecewa aku terus berjalan pulang.pagi ini awan begitu kelabu, namun gunung-gunung tampak begitu jelas dan seperti memanggil untuk didaki. hari ini apalagi yang lebih indah selain menikmati pagi di samping gunung-gunung yang ramah?

-IA-

Sabtu, 30 Juni 2012

one email

apa yang membuat kunang-kunang melupakan cahaya?
malam yang lalu aku mendapat satu pesan, entah, mungkin puisi. puisi itu dikirim melalui email
dengan nama, senja

perubahan
adalah salah satu kata yang kita, manusia , tidak mengerti benar
apakah kita sedang berubah, sudah berubah, atau sama sekali tak berubah
kita hanya mengira dari perspektif yang sakit
apa indahnya gunung jika kau hanya bisa melihanya dari satu sisi awan, 
topografi mana yang menyajikan bias warna-warni matahari tebenam?

laron adalah pencari cahaya
ia tak suka kepekatan malam
laron mengejar apa saja yang bercahaya,
lampu kamar, lampu jalan, atau cahaya kecil di ujung gang
tapi, apakah ku kira laron menyukai malam yang terang?
apakah kau kira laron berharap menarik matahari untuk beredar di garis malam?
apa kau kira laron selalu ingin menarik matahari?

laron adalah pencari cahaya
ia tak suka diam dan tak berubah
ia tak mau diam di tempat pekat yang lembab
ia selalu mencari cahaya, tapi laron mengenal batas.
ia tahu bahwa
menarik matahari dimalam hari
sama saja mengajak malaikt langit untuk melucu 
didepan orang-orangan sawah.

dari: senja.
untukmu: gelap gulita

pernah kah aku pikirkan sebenarnya? bahwa perubahan-perubahan yang sedang aku kejar kadang seperti melucu didepan orang-orangan sawah? dimana sistem dan lingkungan yang memang buta tuli terhadap perubahan gerak dan laku. dimana sistem sudah impoten terhadap rangsangan-rangsangan. senja, teman dalam dunia maya itu, memberi satu pesan yang entah mengapa, bahwa kita tak mungkin menarik matahari untuk beredar di malam hari. mari kita mundur satu hari sebelum aku menerima pesan itu, seorang yang akan kau ketahui nanti pernah berkata tentang perubahan yang sebenarnya tak berubah

"dimana saat kau merasa melawan, dan mengambil arah mainstream, merasa berbeda dari yang lain, dan merasa berjalan di arah yang lain atau bertolak belakang dengan orang-orang lain, dan kau merasa itu benar-benar melawan, siapkan kepkaanmu, jangan-jangan kau malah sedang menjalankan kerangka rancangan sistem mereka yang sakit"

ia selalu mengolah kata-kata untuk susah dipahami.

semoga beberapa hari lagi aku bisa mendapat penjelasan tentang senja dan apa yang dikirimkn olehnya.

IA

Rabu, 06 Juni 2012

Lepaskan...jangan terjebak!


Dalam sebuah perjalanan pulang untuk ketemu orang-orang yang mau ikut membangun RUMAH HUJAN aku bertemu dua sosok yang wajahnya mirip wiji thukul! Ya..memang aku ndak pernah liat wajah pak wiji itu, tapi di buku atau internet aku punya pandangan tentang gestur mukanya hmm, atau obsesiku saja yang berlebihan? Orang yang pertama adalah seorang supir travel gila yang aku tumpangi. Dengan trevel tua dan bercat pudar dia gaspol teruuus jogja pekalongan tanpa tarik nafas mungkin. Yang kedua ada di warung, sosok itu, yang mirip pak wiji, memkai baju superman! Di senyum-senyum ngeliat dangdutan yang diadain empunya warung. Entah, kenapa, aku tiba-tiba menuliskan cerita ini. Sebuah cerita yang sebenarnya nggak ada hubunganya sama sekali dengan tulisanku. Mungkin dua sosok itu jadi pengingatku yang hampir-hampir lupa dengan perjuangan-perjuang pak wiji, semoga kalian yang terus berjuang tak lupa dengan yang pak wiji tempuh...dan untuk pak wiji, kita rindu bapak dalam fisik, maupun dalam sajak...hmmmm
Beberapa hari ini aku benar-benar digilakan oleh tuntutan yang tak habis-habis. Dan tahukah kalian? Disela-sela kegilaan yang sedang aku jalani, sosok itu, yang akan kau temui nanti lebih sering menampakan diri! Ya dia memang bukan genderuwo, tapi kehadiranya menyeramkan, ia bisa datang begitu saja (jangan bayangkan dia bisa menghilang!). dan terserah kalian bagaimana menyikapi tulisan-tulisan ini. Karna fakta tidak bisa membuat kalian percaya lagi. Dan apa yang kalian percaya sekarang ini hanyalah imaji-imaji yang bisa memperluas kekuasaan.
Kalau ndak salah waktu itu hari rabu malam. Rabu adalah hari yang cukup menyita keringat. Aku terpaku oleh rutinitas dari jam delapan pagi sampai jam enam sore! Dan malamnya melanjutkan apa yang tak bisa diselesaikan sore! Hahaha homunculus-ku pasti lebih sering pingsan pada hari rabu, karna akut ak mendengar kebisingan-kebisingan di hari ini. Saat itu, rabu malam, dan aku duduk di depan nasi kucing, tempe bakar, dan jeruk anget. Didepanku ada bapak-bapak paruh baya. Satu memakai jaket kulit, satu memakai kaos polo lusuh dan disamping kerahny ada lubang kecil, dari lubang itu, kulit coklat legam mengkilat tampak mengintip. Entah salah apa aku, atau mungkin dari awal mereka sudah curiga aku ikut mendengar percakapan mereka, bapak yang memakai jaket kulit bertanya.
Aku terjemahkan ke bahasa indonesia, biar ndak nulis terlalu banyaak (trnyata nulis jawa-indo-jawa-indo terus itu capek bung!)
“dek, dulu pernah dapet pelajaran bahasa jawa?”
“pernah lah pak, kenapa pak? Njenengan guru bahasa jawa ya hehe?” aku malah cengar-cengir kurang ajar

“bukan..adek pernah dengar kata ajining diri saka lathi ajining raga saka busana  agama agemaning diri?”

“pernah pak, sd saya malah nulis itu di kertas asturo buat ditempel dikelas pak”

Bapak yang memakai jaket kulit diam untuk meminum kopinya, dan bapak satunya, dengan wajah berkeringat menggntikan peran rekannya yang masih minum kopi

“adek tahu artinya?”

“hahaha ndak pak, saya tahunya bahasa indonesianya tok pak, kalau artinya ndak paham, bapak mau kasih tahu saya?”

Bapak dengan baju polo lusuh itu menghisap kreteknya, kemudian tertawa, entah kenapa

“hahaha bapak ini Cuma tukang becak dek, tapi semalam waktu bapak pergi ke musola di kampung bapak ada orang tua, orang sepuh, dia duduk di di latar sama bapak habis sholat isya..dia bilang: mas orang-orang kota itu lucu ya, mereka tahu tentang agama agemaning diri ndak tho? Kok banyak sekali orang yang merasa berpakaian ternyata telanjang bulat, dan orang telanjang kok ternyata berpakaian”

“terus bapak ngomong apa?”

“ya saya Cuma cengengesan  dek hahha orang saya ini ndak tahu apa-apa. Tapi kalo buat saya ya yang penting kelakuan kitanya dek, terserah mau pakai pakian apa. Toh Gusti Alloh itu ndak liat dari pakain kita, tapi dari kelakuan kita setelah memakai pakaian mas. Ndak patut juga sih dek kalo kita mau bantu orang tapi telanjang, anunya gondal-gandul hahaha”

Tawa di gerobak angkring pecah...

“iya..yang penting kan lakunya mas, bukan seragam atau pakaiannya”

Tiba-tiba bapak dengan jaket kulit itu ikut berbicara lagi. Mungkin ia sudah bosan dengan kepulan kopi, yang panasnya tak kunjung reda.

Dan akupun pulang, setelah melewati beberapa pembicaraan penting. Ditangan, kutenteng plastik hitam yang isinya penuh, rencanaku waktu itu untuk nonton film-film baru, dan samapai dirumah...dia, sosok yang akan kau ketahui nanti itu sudah muncul dengan kretek menyala ditangannya.

“darimana?”
 Ia bertanya dingin, hampir-hampir seperti polisi yang mengajukan pertanyaan di ruang introgasi..

“beli makanan, kamu ini tahu wae yo waktu yang pas...sial, ini gorengan, kita makan bareng-bareng”

Setelah kopi hitam kental dan gorengan tersiap, aku hapus dengan kecewa yang masih tersisa acara nonton film-film baru (atau biru)

“kamu ini masih buat lingkar diskusi?”
Lagi-lagi ia bernada seperti polisi, hmm...aku ndak pernah ada di posisi tersangka yang diintrogasi polisi dengan rokok disulutkan dikulit, aku hanya meniru apa yang televisi beri. Bukankah televisi sudah banyak mencuri peran imajinasimu?

“iya, ya masih kecil kok, Cuma dua tiga orang, belum bisa membentuk lingkaran lah kalo buat duduk haha”

“malah cengangas-cengenges! Kamu pikir dengan berdiskusi itu kamu bisa menyelesaikan ini itu?! Masalah itu kamu jalani, bukan kamu bicaraka!”

“tapi bagaimana aku bisa menjalani kalo saya ndak paham, saya bentuk diskusi agar setidaknya paham”

“ya maksudmu itu bagus, tapi tahukah kamu?pernahkah kamu dengar kata-kata, bahwa cocot iku seje ceker su! Betapa kata asu disitu menegaskan kita, bahwa kita yang masih Cuma gonggong itu belum bisa dikatan sudah menangkap maling, apakah kamu tidak tahu bahwa banyak maling sekarang yang budeg atau sekedar memakai penutup telinga, maling-maling sekarang ini kebal suara, kamu harus berjalan dan menerkam, baru kamu bisa dibilang anjing penjaga. Itu kalo kita sebagai posisi anjing, nah kalo kita ini merasa manusia yang jangan Cuma berdiskusi, ingat, awan tak akan mengubah haluanya hanya karna kita menyanyikan lagu sendu, kamu perlu melakukan aksi langsung, agar awan mau berkumpul membentuk mendung lalu memanggil hujan”

Aku tak paham apa yang ia ucapkan. Aku tak mengerti...aku pun ingin menghentakan protes, berontak barangkali

“awan mana yang bisa diatur oleh manusia, aksi seperti apa yang bisa dilakukan oleh manusia?manusia hanya bisa membicarakan awan, dan berharap agar ia mau mengikuti lagu-lagu sendu kita”

“hahaha..kamu ini sudah jadi orang kota kebanyakan, yang tak percaya dengan keajaiban-keajaibn! Apa kamu kira setiap jalan yang kamu tempuh, pilihan-pilihan yang kamu gunakan itu ndak berpengaruh buat alam? Apa kamu kira harmoni kamu itu Cuma diseputaran lingkungan manusia? Tahukah kamu tentang teori yang orang barat katakan sebagai chaos theory? Kita ini ndak tahu apa-apa, kita ndak bisa mengatur langkah-langkah alam, baik yang tampak dan besar apalagi yang kecil tak kasat mata. Kita ini maha tak mengetahui apa-apa. Setiap langkah dan jalan yang kita pilih pasti memiliki dampak. Ingat dan garis bawahi, yang akan berdampak hanya yang sudah berlaku, langkah, bukan hanya pembicaraan panjang atau buah pikiran!”

Aku merasa dikebiri, apakah lingkar diskusi ku ini benar-benar tak berati dimatanya? Dia menarik dalam-dalam kreteknya..dan menyambung lagi..

“dengarlah ini, lingkar diskusi mu itu adalah sumber mata air, yang harus dijaga benar-benar. Jangan sampai kemasukan racun! Dari sumbermu itu akan mengalir, dan mengalir. Lalu dikonsumsi banyak manusia lain. Jangan sampai kalian mempermainkan ilmu pengetahuan! Aku ragu, apakah kamu ini benar-benar sudah tahu tentang konsep ilmu pengetahuan?”

“belum..apakah untuk pengetahuan saja aku perlu konsep?”

“hahaha memang, konsep dan teori itu juga buah pikiran, masih cocot tok, tapi kamu perlu tau arti dari kata tau Tau itu ndak ada batasnya. Bahkan jik kamu ndak tahu itu berarti kamu masih tahu. Tahu bahwa kamu ndak tahu. Nah manusia kebanyakan ini merasa tahu segalanya, dan ia merasa pengetahuanyalah yang paling benar. Jangan sampai kamu menghasilkan orang-orang seperti itu di diskusimu! Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tertipu! Kamu tak bisa mengetahui segalanya. Dan jangan harap untuk bisa tahu segalanya. Setelah kau tahu segalanya kau akan jauh  denganNya. Dia yang Maha Tahu enggan memberi tahu padamu sesuatu karna kamu sudah merasa tahu akan segala sesuatu, padahal kamu ndak tahu tentang segala sesuatu, apakah kamu mau menciptakan orang-orang yang jauh dan buta tuli kepada Tuhan Yang Maha Tahu. Sang Hyang Segalanaya”

Aku diam. Untuk menghentakan nafas saja berat sekali, aku tak bisa berontak. Kubangun sedikit demi sedikit energiku, untuk membela apa yang aku bangun..

“tapi lingkar diskusiku ini hanya membicarakan aksi-aksi yang kita ambil, agar aksi yang kita ambil masih berkesinambungan dangan konsep-konsep yang kita rancang dan tidak keluar jalur, hanya itu..”

Dia tertawa dan batuk sesekali. Kreteknya terlalu dalam ia hisap...

ya, itu dari kamu, apa kamu kira semua orang di diskusi itu gobloknya sama dengan level goblok dan pekokmu? Apa kamu kira level kelicikan mereka ini sama dengan kelicikan mu?apa kamu kira kecerdikan mereka ini ndak lebih tinggi dari kamu?sehingga mereka ndak mungkin menipu daya niat lugu mu yang masih kacau balau itu?”

Saya berontak..

“saya percaya dengan mereka! Walaupun masih banyak yang Cuma bermulut besar, tapi biarlah, itu bisa menjadi acuan mereka untuk jadi lebih baik kok! Daripada kamu nyela terus apa yang tak lakuin, ceker mu sendiri sudah sampai mana?”

Dia menatapku tajam..mampus.

“hahaha! Cekerku ini ndak perlu kamu tahu sampai mana, cekerku ini tak sembunyiin, saya ndak suka orang melihat jejak-jejak kaki yang saya buat. Bukankah jejak kaki itu menunjukan eksistensi kita? Seandainya kamu benar-benar tulus, berjalanlah seperti hantu, jika kamu sulit jadi malaikat. Jangan sampai meninggalkan jejak untuk setiap kebaikanmu. Tapi biarlah, menjadi hantu atau malaikat itu terlalu sulit untuk orang-orang kota yang tak percaya dengan hal-hal tak kasat mata. Orang-orang membutuhkan hal fisik, data, dan bukti tersentuh. Mereka sudah menihilkan hal-hal tak kasat mata, kekuatan alam, atau apapun yang tak berwujud. Karna orang-orang sekarang ini suka memperlihatkan apa-apa yang ia lakukan. Ya mereka semua dan kamu ini termasuk pemuja fisik. Kamu mau orang lain melihat kerja kerasmu, untuk apa? Kamu mendustai dirimu sendiri!”

Aku mengelak waktu itu
“sudahlah, jangn terus mebunuh alam pikiranku!”

“orang kira mereka ini tulus kerja buat oganisasi sosial, padahal mereka mau dipandangan berbakti dn berguna. Orang rela mati syahid hanya untuk dianggap pahlawan, orang jadi dermawan hanya untuk memberi thu bahwa ia suka membagikan harta. Tapi biarlah, aku tak masalah juga dengan niat-niat busuk dibalik kebaikan. Asalkan kebaikan itu benar-benar dilksanakan, biar Tuhanyng menentukan. Tapi kamu? Apa kamu ndak khawatir nanti lingkar diskusimu itu Cuma terjebak di alam pikiran?kamu ndak bisa merubah sistem hannya dengan cara berpikir keras siang dan malam, kamu butuh turun lapangan dan mengganti sistemmu sendiri”

Aku semakin tak tahu dan merasa dihina. Bahkan ketika aku tak tahu sesuatu aku merasa dihina, betapa cepatny aku mengambil keputusan setiap hari...

“sudahlah, mendingan kita habisin gorengan ini, aku ndak mau kasih kamu banyak-banyak hari ini, ayo bsana buatkan aku teh hangat”

Seperti terhipnotis, kala itu aku pergi dan membuat teh hangat, dua gelas.lalu duduk diam melewatkan tempe dan pisang goreng yang habis disambar sosok itu..ia pun pergi. Dn aku sendiri dengan kebingungan-kebingunganku..

Sekarang aku sudah didepan komputer, merancang postingan blog dan artikel untuk zine minggu ini, tapi..semua itu hilang, dan aku menjadi paranoid. Aku takut jika aku jadi sosok yang hanya memakai cocot tok. Memakai mulut tok untuk mengatasi semua masalah, aku takut aku terjebak dalam alam pikiranku..

Tiba-tiba telponku berdering, dia, yang akan kau ketahui nanti mengirim pesan pendek..

“lepaskan, lepaskan semua hal yang memberatkanmu, taruh disakumu untuk sementara, kau urai lagi nanti saat waktunya tepat, jika memang kamu harus berjalan, berjalanlah, jangan sampai terjebak dalam alam pikiran. Berjalan dan uraikan hal-hal tadi dalam perjalananmu, jagan terjebak dalam alam pikiran, jangan terjebak dalam kerang-kerangka pikiran,lepaskan dan urai lagi nanti”

Aku pun berhenti menulis...dan membuat teh hangat dengan sedikit perasan jeruk nipis..aku keluar memandangi langit yang biru,jingga,oren ,gelap dan entah warna apa lagi..ternyata ini sudah pagi..dan aku belum menulis sesuatu, biarlah, aku tak ingit terpaku untuk selalu menulis, lepaskan, dan jangan terjebak kerangkan pikiran dan rutinitas yang membunuh perlahan..

jika pikiranku terlalu keras, lidahku terlalu kotak, maka imajinasiku terbungkus plastik hitam tebal. saat-saat seperti itulah aku tak bisa menulis. karna sesuatu dariku telah dicuri entah oleh siapa. entah burung nuri, entah rutinitas, atau diam-diam tersedot televisi...

-IA-

Kamis, 24 Mei 2012

Ilmu Jare

kalo anda tanya saya bagaimana cara menjadi ini, menjadi itu, bagaimana menemukan hasil seperti ini, seperti itu kok rasanya anda ini makhluk mubazir. untuk apa tangan, kaki, mata, otak, telingan, dan solar plexus di tempelin ke tubuhmu? ndak usah banyak tanya, wong jawabanya juga ndak mesti bener, mending kamu jalanin dulu, kamu cari sendiri dulu, itu ilmu yang paling nyata, bukan "ilmu jare"....


sebuah kalimat yang berhasil di tamparkan ke mukaku dua jam yang lalu.
siapa lagi kalo bukan, dia, sosok yang akan kau kenal nanti.


aku sedang bertanya waktu itu, bagaimana agar kita menjadi orang yang kuat menjalani cobaan. aku tak sedang bertanya bagaimana cara agar jadi sakti mandraguna. sosok yang kukenal itu adalah seorang yang sakti. ia selalu ada tiba-tiba disaat aku sangat tidak membutuhkanya! dan dia akan selalu menghilang ketika aku mencarinya, menggapainya. dia bukan makhluk gaib, bukan benda astral, apalagi metafisik! dia nyata, hanya saja ia bisa datang dan pergi tiba-tiba. sesuka hatinya. terserah, kalian percaya atau tidak. 

"ketika kita tak memiliki ilmu jare (ilmu katanya, kata si ini begini, kata si itu begitu) apa yang jadi patokan kita untuk menentukan berhasil atau ndak?sudah sampai apa belum?"

aku meneruskan pertanyaanku. aku tak mengerti kenapa dia menyebutku makhluk mubazir?!

"hahaha mungkin kamu ini bener-bener wong mubazir. kamu kira apa yang ada di tubuhmu itu barang rongsok semua apa? apa kamu kira otaku lebih bagus dari otakmu? apa kamu kira solar plexus mu tak lebih peka dari punyaku? apa kamu kira Gusti itu ngasih kekamu barang-brang dari barkas? ilmu jare itu ya harus kamu dengar dulu setidaknya, tapi bukan kamu yakini. ilmu jare ada untuk jadi pedoman kamu menemukan teori baru, rumusan baru, formula baru!"

aku diam. melongo dan sangat merasa gobol. 

"lalu apakah aku harus trabas kiri kanan, ndak pedulikan kanan kiri? apa aku harus rubuhkan apa-apa yang ada didepanku, masa bodoh dengan jare-jare mereka?"

dia menatapku, alisnya dinaikan, tajam. lalu tawanya mencair

"hihihi hhhhihhh kamu itu ndak tahu yang namanya harmoni? kalo kamu trabas tok itu namanya gembagus! yang dimaksud laku tanpa jare, itu ya kamu lakukan sendiri, kamu jalani sendiri apa yang ingin kamu cari, kamu gapai, dengan melihat peta-peta jare. ndak masalah kok kamu ndak ikutin arah jare-jare tadi. asal kamu masih dijalan, ndak nyemplung kali ya ndak papa, nanti yang capek kan kamu sendiri! ilmu jare bukan untuk kamu percayai total! tapi cuma sebagai pedoman paling kecil, selebihnya kamu tentukan sendiri, baik buruknya kan bisa kamu timbang dengan mengasah kepekaanmu dengan harmoni!"

aku mulai sedikit mengerti. pengertianku mulai muncul, walaupun masih temaram. walaupun masih samar-samar tak karuan.

"jadi apa kesimpulanya? apa berarti aku harus melupakan semua nasihatmu? apa aku harus melupakan semua kata-kata orang?"

dia tertawa keras sekali. aku serba salah dimatanya.

"lhah kamu ini jadi orang kok lucu. kamu tanya nasihatku untuk melupakan nasihat-nasihatku? sontoloyo. sudah, semua itu yang penting kamu bisa tahu batas, peka dengan harmoni kanan-kirimu. ilmu jare itu cuma sebagian ilmu kecil kok. ndak usah dibikin repot. kamu ndak boleh percaya sesuatu dengan berlebih, tapi kamu juga ndak boleh nggak percayaan. kembali ke harmoni tadi. perluaslah cakrawalamu!"

aku rasa, ia sedang memaki kebodohanku didalam hatinya.

"jadi itu kesimpulanya?"

dia menatapku

"oalah asu tenan koe iki, kalo untuk kesimpulan saja kamu masih tanya aku? kenapa kamu ndak buat patung wajahku? kamu sembah dan kasih buah-buahan tiap sore? kesimpulan itu ya dateng dari kamu! kok kamu percya banget sama keputusan-keputusanku?! percaya nuranimu itu lho, kamu obrak-abrik hatimu, benahin nafsumu, bersihin nurani, itu bisa dipercaya kok, ndak usah lagi-lagi tanya kesimpulan sama aku! sontoloyo! cari kesimpulan sendiri, cari jawabn sendiri, itulah ilmu sejati, kalo kamu masih tanya kesimpulan dari aku, itu lak podo wae koe seh ngasah ilmu jare! sudah pusing aku kalo ngobrol sama kamu, tak pulang ya...!"

oalah, dia pergi begitu saja. dia menggantungkan apa yang dia beri. ndak senyum ndak apa, malah pergi begitu saja. dia pake sandalku lagi. jancuk!

hah, kutinggalkan teras, dan masuk, memutar keran kamar mandi. mulepas baju. dan mulai membasahi diri.
dan aku sadar, aku tahu hakikat air itu dingin, bukan kata dia dingin. aku tahu cabe itu pedes bukan karna kata dia itu pedes, hakikat dingin dan pedas itu ndak akan kita rasakan kalo belum kita temui betul. yang ilmu jare ungkapkan hanya sebuah makna ilusi, emosi sebuah kata-kata. dinamika kata kerja. hakikat pedas, dan dingin tak bisa dirasakan hanya dengan ilmu jare..apakah mungkin ini yang dia maksud?


ah masabodoh, aku harus cepat-cepat mandi..dosen sudah kurang kerjaan datang kekampus cepat-cepat..
-IA-

Rabu, 23 Mei 2012

Pagi yang Berat

semakin hari, hal-hal yang kutemui, kulakukan semakin tak masuk akal, jauh dari kata rasional.
aku seperti mengejar keajaiban, mencari-cari kantong doraemon yang mungkin jatuh di trotoar.

aku seperti menjatuhkan diri dari tebing, bermimpi tak akan hancur terhempas kebawah, berandai-andai bisa terbang seperti elang atau rajawali yang gagah.
aku jatuhkan diriku dari tebing, tanpa baling-baling bambu..tanpa kain terbang supermen, atau permadani aladin. 

entah aliran sungai yang mana yang menggiring aku sampai jalan ini.

percayakah kalian pada keajaiban? pada sebuah optimisme? atau sebuah kata "mukjizat" ?
haha mungkin orang kota sudah tak percaya pada energi-energi yang tak kasat mata. mereka merasionalkan semua fenomena. seakan otaknya mampu mencakup tentang ruh dan lain sebagainya. 

pada pagi-pagi buta, saat cahaya hanya remang-remang dilangit. saat sejuk sangat terasa murni, aku terbangun, oleh sebuah bebunyian digital. sedikit sadar aku baru tahu itu berasal dari ponselku. sedikit lebih sadar lagi, itu sebuah panggilan. dari nala. ketika aku mencoba meraihnya, dan menekan tombol, ia memutuskan panggilanya.

asu!!! miskol esuk-esuk!

aku acak-acak kulit mataku, aku memaksa kantuk pergi. aku menggusur lemas dan meregangkan otot-otok tangan, kaki, leher, punggung. kulihat lagi ponselku. satu pesan masuk. dari nala. sang penggusur mimpi.

"apa yang kamu lakukan? apa yang kamu pikirkan sampai mau pusing buat sanggar? apa kamu kira kamu ndak akan mencetak bajingan-bajingan dari sanggar? apa kamu kira sanggar kamu ini rumah suci? apa kamu kira kamu bisa mengentaskan semua masalah mereka? kamu ini buang-buang waktu!!!"

hah, dia mempertebal keraguanku. dia menambah daftar orang yang tak setuju denganku. dan parahnya, dia melakukanya pada waktu-waktu sakralku, pagi hari yang murnni! bajingan cantik yang tengik!

"nala, yang cantik, yang busuk, yang menggusur mimpiku, aku juga belum tahu apa yang aku lakukan. otaku ini seperti tiba-tiba di lubangi, dibor oleh alien, di bilas, di cuci bersih sampai tiba-tiba merasa harus membuat sanggar, tolong aku nala..aku butuh orang sepertimu"

aku mulai bangkit, layar pada ponsel ku lap dengan sarung bantal. aku kembali mengacak-acak mataku, menunggu pesan, dan menunggu pagi benar-benar terang.

"hedonis! kamu ini terlalu gila dengan dunia, apa yang kamu kira duniawi itu cuma mabuk, dugem, konsumerisme? kamu sekarang sedang menjadi seorang hedonis, yang kamu gilai saja yang beda. kamu terlalu gila melakukan ini itu, kamu terlalu gila dengan rencana-rencanamu. mengubah negara?jangan harap aku mau menemanimu, buang-buang waktu!"

dia benar-benar racun. keraguanku semakin kental.

"haha biarlah nala, biarlah, aku ini memang hedonis yang berlagak baik, sok-sokan peduli, padahal aku ini cuma memenuhi nafsuku sendiri, nafsu rencana-rencanaku yang entah kapan akan berakhir, tapi nala, apa kamu ndak ngerti, bahwa sanggar yang aku buat ini ndak muluk-muluk? aku ndak mau ngubah negara, aku ndak mau ngubah dunia, aku cuma mau anak-anak kembali percaya dengan keajaiban, aku nggak menebar mimpi palsu, aku ini sedang mencoba menabur optimisme!"

aku gila. aku gila. aku mau bunuh diri

"kamu punya apa? kita berdua ini baru kemarin belajar, kita belum tahu apa-apa! kita ndak punya apa-apa untuk kita bagi..optimisme? motivasi? untuk apa?! agar mereka ini buta dengan kenyataan? agar mereka mengira bahwa tahi itu rasanya apel? agar mereka kira sampah itu rasanya pisang? optimisme apa yang kamu bangun? tahi kucing rasa coklat? jangan perparah kenyataan dengan impian-impianmu..! yang mereka perlukan ini membuka mata lebar-lebar!"

aku diam, lesu, aku mengharap keajaiban terjadi, aku berharap ada meteor jatuh tepat ke arah kepala wanita ini.

"tolong jangan tekan aku terus, aku tak serasional kamu nala. aku ini sedang membentuk kerajaan mimpiku.aku ndak mau menipu mereka, aku ndak mau mengajarkan mereka bahwa keledai itu sehebat harimau, aku tak akan mendongengkan mereka tentang tikus yang memakan kucing. aku ini mau mereka melihat kenyataan disekitar mereka dengan optimisme. agar saat mereka tahu bahwa tahi itu busuk, mereka tak mutah. agar saat mereka melihat darah keluar dari kaki, mereka tak berlama-lama menangis. aku ingin mereka berani menatap kenyataan"

aku menarik nafas, berjalan kearah kamar mandi. kantong kemih sudah sangat penuh. sudah tak kuat menampung air. sudah sesak dan rasanya mau meledak. setelah dari kamar mandi aku kembali ke kamar, kali ini dengan segelas air putih.

"hahahaha! keberanian? kamu mau membentuk sekelompok preman? mau mengumpulkan kekuatan untuk menggulingkan penindas dengan cara menindas balik?mau apa dengan keberanianmu, kamu sudah sering lihat tayangan di benda kotak dirumahmu! berapa banyak orang dengan keberanian mengobrak-abrik kemanusian. mengobrak-abrik nurani para pendosa"

aku minum air dalam gelas. aku tarik nafas panjang.

"nala, aku ini sedang belum tahu mau apa, aku cuma mau menebar cintaku tok, cara satu-satunya yang terbesit waktu itu ya cuma sok-sokan membuat sanggar. aku ini cuma pingin melakukan sesuatu yang ndak merugikan, mana mungkin aku didik anak-anak jadi preman-preman semacam itu? won aku ndak bisa mendidik, aku ndak ngajar, aku ndak mbimbing, yang aku bisa cuma bermain dan belajar bareng-bareng, dengan rasa kebersamaan, dengan cinta"

lama. ponsel ku lama tak berdering lagi. aku pikir nala sudah muak. atau sudah lelah menyadarkanku.

"temanku, yang sama-sama menggilai kedatangan matahari. yang sama-sama mencintai gunung dan lautan. yang sama-sama suka tidur dibawah rerimbunan hutan. aku tak tahu apa yang kamu lakukan. aku mencoba menyadarkanmu, aku tak ingin kau membuang waktumu untuk eksistensi-eksistensi. aku tak mau kau jadi pemuja tepuk tangan dan puja-puji. aku doakan sanggar mu terbentuk, tanpa ketenaran. aku tak mau kehilangan seorang teman yang tenggelam di lautan puja-puji"

aku diam. menutup mata. membayangkan jika aku bersama teman-teman mampu mewujudkan sanggar itu, apakah kita akan tenggelam di lautan puja-puji. aku bayangkan jika tepuk tangan itu menyumpal aliran nafasku. pujian menyumpal kerongkonganku. sampai aku mati tersedak oleh puja-puji. ah, betapa mengerikan mati dengan cara tersedak seperti itu!

"maaf nala, aku ini bukan tarzan! aku tak seliar kamu. aku hanya hedonis, benar katamu tadi. aku terlalu mencintai alam, dan kemanusian. tanpa tahu harus bagaimana untuk menjaga alam dan kemanusiaan. aku harap kamu mau bergabung dengan kami, aku harap kamu mau membantu ku, aku harap kamu mau menyadarkanku, mau mengingatkanku saat aku mulai keluar arah, mau mengangkatku, mengentaskanku dari lautan puja-puji"

aku keluar dari kamar, membuka pintu rumah, dan betapa gilanya! sosok itu, sosok yang akan kau ketahui nanti sudah duduk dengan kretek dan kopi! aku masih terkejut, dan mencoba fokus. aku ingat-ingat lagi apa yang sedang ia lakukan. 

oh aku ingat, ia bermalam ditempatku. semalam hujan, di tak bisa pulang. bukuku yang mau dipinjam semalam sudah dibaca. ia mau meminjam buku semalam, lalu hujan dan tak mau pulang.aku ingat sekarang.

aku duduk disampingnya. dan melihat ponsel lagi. 

"aku ini cuma bisa menebar omong kosong, seperti kamu. tapi aku tak mau ambil resiko dengan mengganggu omong kosongmu. aku hanya akan mengusikmu, tanpa kau ketahui, sudahlah, matahari sudah tak jinak lagi. daaagh...!"

hah..sudah?pesan demi pesan tadi cuma berakhir seperti ini?nala, kenapa kau tak membantuku?!
aku perhatikan tokoh itu, sosok yang akan kau kenali nanti. ia senyum-senyum melihatku.

"ono opo? mumet? kamu ini mau buat yang baik kok repot sendiri! kalo ragu ya ndak usah buat. kalo mau buat ya ndak usah ragu. kalo ndak kuat ngangkat dewe yo diajak konco-koncomu kui! inget, dulu aku pernah ngingetin kamu, kalo mau lekukan apaapa itu ya dicoba dulu, kalo jalanmu di tutupi bambu yang rimbun, ya coba disingkirkan dulu, kamu singkirkan pake tangan, jangan ditebas! kalo ndak bisa ya berarti harus muter, kalo capek muter gunung istirahat dulu, cari sungai, mandi. nanti akan sampai, pasti akan sampai!"

aku menatapnya, matanya tak bisa ditembus, matanya dilapisi dinding yang aneh, yang membuat kita gentar untuk memanjatnya. 

"aku ini ragu, benar salah apa yang aku lakukan dimata mereka. baik atau ndak baik"

dia menatapku, meletakan kopinya

"berarti kamu belum tulus! kamu masih mengharap apa yang kamu lakukan ini baik. kamu ini masih membangun nama besar atau bener-bener mau mengabdi sama mereka? kalo mau membangun nama kenapa tak buat pondok pesantren sekalian, lalu jalan-jalan pake gamis, peci? kalo kamu mau mengabdi berarti kamu harus siap diludahi! siap dianggap gila, siap dianggap melenceng, siap di celeng-celeng kan orang-orang tertentu, dikafir-kafirkan orang-orang. kamu harus siap, tapi apapun yang kamu lakukan harus benar-benar untuk kebaikan semua orang! jangan kebaikan kamu tok dan kelompok kamu tok!"

saya diam, dia menarik panjang nafasnya, mengepulkan asap kretek, dan aku tahu ia akan berpanjang-panjang bicara

"saya sering ngomong sama kamu untuk selalu memelihara sifat angon, jadi cah angon, anak gembala. tapi dengan menjadi anak gembala kamu ndak bisa seenaknya mem "bebek-bebekan" manusia lain. kamu kira kamu harus mengarahkan semua orang? kamu kira manusia ini bebek semua? setiap manusia memang pemimpin, tapi sebelum jadi pemimpin buat yang lain, kamu pimpin dulu dirimu itu. kamu atur dulu bebek-bebek dalam tubuhmu. kamu rapikan dulu itu kandang-kandang bebek di otak dan hatimu! setelah bebekmu sudah nurut sama kamu, baru kamu ajak orang lain untuk menggembalakan bebek-bebek mereka dengan benar! jangan seenaknya nyuruh anak untuk berbuat begini begitu untuk mencapai ini-itu. biarkan mereka merapikan kandang bebek mereka dulu! kamu juga harus terus jaga bebek yang ada didirimu dulu!"

aku diam, bingung, tak tahu harus apa

"tapi sudahlah, kalo kamu benahi kandang bebekmu terus ya ndak bisa buat apa-apa. kamu harus pinter-pinter bagi waktu, kapan saatnya benahi kandang pribadi, kapan saatnya bareng-bareng merapikan peternakan dunia"

aku mau meledak, keraguan yang ditebalkan nala ditambah ceramah tentang bebek oleh sosok didepanku ini..

"sudahlah! aku usahakan yang terbaik, tak lakuin semampuku dulu, aku ndak bisa ngatur kandang bebek di tubuhku ya biarlah, aku juga ndak bermaksud mengatur kandang bebek orang lain kok. aku ndak sedang membuat perserikatan bebek!!!"

orang itu malah tertawa.

"hahaha ya sudah, kamu tak dukung kok, asal jangan maksain diri, inget tentang cara muterin gunung, oke?"

aku tak menjawabnya. bingung atau entah kenapa.
yang aku yakin, aku tak sedang tebang tanpa parasut....

-IA-


Rabu, 16 Mei 2012

Bapak di Candi kala Siang

Gunung, dahulu kala...adalah pusat spiritual manusia.
dipuja dan diberi persembahan, diagungkan. dan kemudian kata "dilestarikan" akan menyusul. lalu "dijaga" dan "dilindungi" oleh masyarakat sekitar, pemuja, dan mereka yang menghargai bumi tujuh lapis dan langit tujuh lapis, beserta keadaanya.

tapi sekarang keadaan sudah jauh berubah. keadaan sudah sangat gonjang-ganjing.
manusia sudah tidak menghargai langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis, dan semua keadaanya.


entah angin apa, aku mengunjungi prambanan kemarin. satu jam dari rumah ungu.
entah angin apa juga aku memilih menggunakan transportasi umum. dan berhimpitan dengan macam-macam manusia. dari yang ibu-ibu gendut dari jakarta. kakek-kakek buta yang memakai peci, seorang atlit kejurnas (yang entah kenapa menelpon keras-keras sehingga semua orang di bus tahu bahwa dia sedang dalam latihan kejurnas), atau seorang bapak-bapak yang malu didekati dan lebih memilih mengasingkan diri duduk dikursi pojok belakang karna tubuhnya dipenuhi gatal-gatal berkepanjangan. atau dengan orang-orang dari perancis, belanda, dan turis-turis yang mukanya memerah karna udara di indonesia sangat mencekik mungkin. 

prambanan, entah apa maknanya. aku bukan arkeolog dan pendongeng yang pintar.
tapi ia menghadap tepat kegunung merapi. mengupayakan harmoni yang entah bagaimana hubunganya dan prosesnya. lalu ada nama-nama candi. dan yang terakhir aku lihat adalah candi siwa. yang sedang dipugar. kau hanya bisa melihatnya dari luar. dan berandai-andai menjadi salah satu tukang yang membangun candi pada waktu pembangunannya dulu.

batu-batu besar. keras dan tak masuk akal untuk ukuran tubuh orang jawa. tapi dulu, ketika semua orang menghargai langit tujuh lapis dan bumi hingga kerak ketujuh, semua kemungkinan-kemungkinan itu mungkin.

aku membayangkan sumur peripih. sebuah lubang yang dalam dibawah permukaan tanah. sebuah lubang untuk menyimpan kotak peripih. kotak yang akan membuat matamu berbinar ketika dibuka. kotak yang akan menceritakan kepadamu misteri-misteri kala itu. 

aku berandai-andai tentang manusia sekarang yang membuat sumur peripih. jenis manusia yang optimis bahwa kiamat 2012 akan berlangsung. manusia-manusia ini akan memasukan segala hal kesumur peripih. iphone, laptop, cek kosong, hardisk portable mungkin. manusia-manusia itu berharap bahwa identitasnya akan ditemukan kelak, entah oleh alien atau penghuni kehidupan selanjutnya.

candi ynag berhasil aku masuki waktu itu hanya candi yang berisi arca sosok perempuan. dewi durga mungkin. aku tak bisa mendapat keterangan waktu itu. atau mungkin mata ini sudah terlalu lelah untuk mencari-cari penjelasan yang ada. yang kutemui hanya seorang india paruh baya, dengan aksen seperti orang bali "photo plis" nya. selain orang itu, tak ada yang bisa memberi keterangan-keterangan lengkap. suatu saat harus kesana dengan buku panduan ditangan dan guide tour didepan, hahaha.

karnalelah, aku duduk. mencari kepulihan.
dan datanglah seseorang. paruh baya, bukan india, duduk disampingku. dengan payung merah dan kumis tipis santai. memakai baju hijau. kita muali bercakap-cakap. lalu entah karna apa ia menceritakan tentang Durga. dewi yang dikutuk karna melanggar perintah suaminya. dahulu dewi durga adalah dewi uma, dewi yang sangat cantik berkulit kuning bersih. istri dewa siwa. dewi uma , karna melanggar perintah untuk tidak menemui dewa siwa ketika sedang bercinta akhirnya dikutuk. uma dikutuk menjadi durga karna mau bercinta denga pendayung sampan yang bisa mengantarkan uma menemui siwa yang sedang bertapa. ia dikutuk karna rasa cintanya. ia dihukum karna kadar kerinduan yang memuncak, sampai rela melakukan apapun demi bertemu suaminya, siwa. hukum para dewa adalah mutlak, maka ia tak bisa menggugat kutukan-kutukan. ia tak bisa membela diri.

apakah posisi kita sekarang seperti dengan uma? jika pemerintah merasa jumawa dan berlagak seperti dewa, percayalah, kita sedang dikutuk-kutuk oleh penguasa dan tak mungkin bisa bersuara.
hahaha kenapa sampai dengan penguasa? (hahaha seorang teman pernah berkata, bahwa aktivis, LSM atau kritikus selalu suka melihat kejelekan-kejelekan orang besar, dan tidak suka jika orang-orang itu menjadi baik. taubatnya hanya akan menumbuhkan kecurigaan..haha maaf teman, tapi saya bukan aktivis, anggota lsm, atau kritikus saya ini cuma sok-sokan ngomong macem-macem, aku ini badut tok kawan, jadi santai, aku ndak akan memburu kejelekan bapakmu yang polisi atau pakdemu yang dpr, tapi kalo mereka lucu yang tak tertawakan, wajar tho?)

hahaha oke...balik lagi ke cerita seorang bapak paruh baya itu tentang durga.
"mas, apa hak dewa mengkutuk durga yang sedang jatuh cinta, sedang kasmaran dan kangen sama suamainya?"

saya bingung, blo'on setengah mati.
"mungkin dewa ini penguasa mutlak pak, jadi yo sak karepe dewe tho"

lalu bapak itu tertawa.
"mas ini pie tho, kalau semua menjadi penguasa mutlak apa yo akan tetep boleh sak karep dewe, apa ndak mempertimbangkan keadilan-keadilan? apa kamu pikir tuhan itu mung sak karepe dewe? ndak punya perhitungan-perhitungan? apa kamu pikir tuhan sebagai penguasa mutlak, pemilik hak paten manusia ini akan sak karepe dewe ngasih teluh ke somalia, ke pesawat sukhoi?hahaha mas-mas...."

aku malu bukan main. bapak itu menaparku. tamapr kanan-kiri bergantian, cepat dan tanpa jeda
"lho pak, apa tuhan itu ndak sakarepe dewe?bukannya Beliau ini yang punya andil atas semuanya pak? kan dia ndak punya tanggung jawab atas semua yang ia ciptakan, suka-suka Tuhan lah pak...apa iya manusia ini berhak menuntuk keadilan-keadilan Tuhan?apa yo Tuhan itu perlu tuntutan-tuntutan manusia pak? wong dia sudah adil, dan dianggep maha adil, kenapa harus memiliki pertimbangan-pertimbangan?"

bapak itu diam, meminum air dari botol plastik. lalu tertawa
"lho mas iki pie tho?! Tuhan itu maha adil, oleh karna itu dia wajib memiliki pertimbangan-pertimbangan, ia maha mendengar, maka ia wajib mendengar tuntutan-tuntutan umatnya mas. Tuhan tidak memiliki kewajiban kepada umatnya, ia wajib karna dia ini dzat maha super. Beliau ini pencipta yang paling hebat dan paling bertanggung jawab. maka dia ndak akan nggawe terus sak karepe dewe. tapi Pertimbangan, pertimbangan yang diajukan tuhan itu beda dengan pertimbangan-pertimbangan manusia mas. kalo manusia kan harus nimbang perut, pangkat, penis, kalo Tuhan sudah mempertimbangkan buat semuaaa nya, sudah dikaji dampaknya hingga ending dunia ini. cuma ndak ada kekuatan manusia untuk tau apa yang menjadi pertimbangan Tuhan. yang jelas Tuhan mau kita ini berbuat baik. 'baik' lho mas, bukan benar.apa yang benar belum tentu baik buat Semua orang. dan apa yang baik juga ndak mesti benar. tugas manusia itu kan mengharmonikanya mas.haduh kok malah nggelendengi tuhan tho dewe, ampuun gusti hahaha"

aku tersenyum. pusing. terlalu banyak ditampar bapak-bapak itu.
"sudah lupakan, bapak juga ngawur tok. mending kalo mas bingung mas pulang mulai buka-buka buku lagi, mulai dengar dan lihat macem-macem lagi, mulai datang keguru-guru mas. dipegang keyakinannya. dan ingat. benar dan baik harus imbang mas. kalo timpang nantin njungkel kebelakang lak repot mas. hahahaa"

bapak itu mengambil nafas panjang, melempar muka. dan kembali bersuara
"durga itu dulu dipuja oleh janda calon arang. janda ahli teluh mas. mas pasti tahu kan?"

aku mengangguk, dan mengunci kata-kata. aku meredam rasa sok tahu ku kali ini.

"ndak ada yang berani sama janda calon arang. kecuali siasat mpu baradah. calon arang lengah karna anaknya ratna manggali menikah dengan bahula, pemuda yang datang bersama mpu baradah. betapa gilanay teluh calon arang. betapa mencekamnya ketika kekejiannya tak mampu dilawan..ngeri mas kalo denger cerita orang-orang sakti jaman dulu. medeni. sekarang orang-orang juga mulai bernostalgia dengan kesaktian nenek moyang. mereka ini mulai (berlagak) sakti. dan meulai (berlagak) menyeramkan mas. cuma medianya beda mas dulu sakti ini ajimatnya rapalan, keris, dan batu-batuan. tapi kalo sekarang ajimatnya mung uang, pangkat, sama nama besar ya mas. sama tapi beda. apa ya persamaanya mereka?"

"sama-sama masih ngisep darah orang pak!"
aku menimpali bapak itu gnawur, dan seratus persen asal-asalan.

"haha bener mas! tapi ndak kelihatan aja ya mas, dulu calon arang ini keramas pake darah orang. nah kalo orang sakti sekarang kebal hukum karna habis nilep darah orang, ya yang dihisep uangnnya. terus kita yang uangnnya dicuri jadi ndak makan, kere, terus mati mas. hahaha podo wae jebule yo. bedone mung gamane mas (gaman=senjata)"

bapak itu tertawa girang, kemudian dialog kami terpisah oleh sebuah pengumuman dari speaker.

"yo wis mas, aku tak mulih sek, rombonganku wis diceluk. sudah dipanggili dari speker mas. bapak pamit yo mas, ojo lali, dibuka matane, dijembreng kupinge hahaha"

"nggih pak, ati-ati..nuwun nggih pak"
aku membalas ucapana perpisahan bapak itu. lalu ia tersenyum dan melangkah. jalannya bugar. pasti ia bukan malaikat yang berubah menjadi mansusia. karna biasanya (seperti yang televisi kabarkan) malaikat yang menjelma itu berpakaian lusuh. simbah-simbah tua. dan layak dikasihanai. bapak tadi beda. ia bugar kekar, dan arloji di tangan kirinya berwarna emas mengkilap.

-IA-

Jumat, 11 Mei 2012

Happy Ending.

pki. fpi. nii.
fpi. pki. nii
nii. fpi. pki.
pki. nii. fpi.
fpi. nii. pki.
nii. pki. fpi.

entah apa maksudnya. entah apa yang aku tulis itu.
tapi aku yakin pasti ada yang mengkutuk dalam hati.
memaki dalam hati. mengepalkan tangan sembari mencaci maki
fpi, nii, pki
semua pernah ada di indonesia, semua masih ada di indonesia.
untuk apa? untuk menggapai impiannya masing-masing.
maafkan aku, jika rangkaian kata-kataku itu membuat kalian berprasangka.
sungguh, aku hanya suka mendengar akhiranya yang sama-sama bernunyi "i". mereka ini sama-sama sedang berusaha melakukan sesuatu untuk Indonesia. entah salah atau benar cara yang mereka anut. aku hanya penonton. yang latah, dan suka mendengar rangkaian bunyi-bunyian yang harmonis. fpi,nii, pki. semua melakukan sesuatu untuk indonesia. entah salah atau benar cara yang mereka tempuh.

untuk menjatuhkan kebenaran-kebenaran yang mereka anut.
untuk meng-universalkan pandangan-pandangan.
untuk menyamakan batasan-batasan.
untuk menjaga impian-impian.

hah, betapa televisi kita dipenuhi konflik-konflik yang memuakan. yang sepertinya tak berhenti. yang sepertinya membanjiri mata, telinga, menyumbat saraf-saraf otak. menumpulkan taring-taring kemanusiaan. sebentar, kemanusiaan tak butuh taring. yang memakai taring untuk bertahan hanya binatang. manusia bisa bertahan tanpa taring. tanpa pedang, tanpa senapan, tanpa balok kayu, tanpa kepalan tangan.

betapa kelamnya sejarah indonesia. perlu berapa peristiwa berdarah lagi agar kita tahu kekerasan demi alasan apapun itu selalu menyambungkan dendam tak berkesudahan? berapa darah lagi yang dibutuhkan? berapa hati yang hatus dimakan, berapa darah yang harus diminum, berapa peluru yang harus dimutahkan? harus berapa kaum yang manangis? berapa umat-umat lain yang terluka? berapa kepercayaan-kepercayaan terinjak-injak? berapa wanita menangis? atau butuh berapa anak kecil yang kebingungan? agar kita mulai bisa melupakan kepentingan kita masing-masing?agar kita bisa meletakan seragam-seragam kita, pangkat-pangkat kita, dan bergandengan tangan untuk mulai membersihkan puing-puing sejarah, dan membangun masa depan bersama?

Tuhan, Engkau memiliki timur dan barat. kemanupun aku menghadap aku akan selalu bertemu padaMu. kemanapun aku berjalan, aku akan berakhir padaMu. aku yakin, sangat yakin bahwa Engkau pasti akan mengakhiri konflik-konflik ini. Engkau lebih tahu daripada aku yang buta sama sekali. aku tak tahu apa rencana-rencanaMu. dan apa hakku untuk mengetahui keputusan-keputusanmu? yang aku yakin, bahwa setiap apa terjadi pasti memiliki maksud tertentu, semua mengarah agar kita mau memperbaiki diri masing-masing. bukankah begitu Tuhan? semua manusia memiliki pilihan untuk mengubah konflik ini atau diam, seolah-oleh masa depan akan cerah dengan tangan-tangan terkepal.

seorang teman, pernah bertanya kepadaku, sebuah canda yang tragis, ironi sebuah lelucon.
"apakah tuhan benar-benar sedang menjalankan sebuah sinema maha besar?jika memang demikian, aku rasa aku hanya figuran. sepertinya ada tokoh utama yang bisa melakukan sesuatu untuk dunia ini. karna apapun yang aku lakukan tak berarti apa-apa"

temanku, cah lanang. ia sedang dibalut rasa galau. ya, galau! sebuah istilah yang berwarna abu-abu. sebuah perasaan yang berayun-ayun ditengah batang putus asa, dan ketidaktahuan. sebuah perasaan yang mengambang, kemudian tenggelam, lalu timbul lagi. seperti rasa pesimis yang enggan mati.

temanku, cah lanang.jika kamu adalah figuran. bapakmu adalah figuran, kakek mu adalah figuran, maka kau akan mati dengan biasa saja jika terus mengira kau adalah figuran. kau tak akan tersorot kamera. mukamu yang berminyak itu tak akan pernah mendapat close up dari lensa-lensa kehidupan. bukan, aku tak menyarankanmu menjadi orang gila yang narsis dengan aksi-aksi. aku hanya menyarankanmu melakukan lompatan. tapi jangan tanyakan aku temanku, cah lanang. akupun masih tak tahu. aku masih belum bisa tersorot kamera, aku belum bisa melakukan apa-apa untuk manusia, untuk kebaikan-kebaikan bersama. dari dulu yang aku lakukan hanya untuk kebaikanku sendiri. 

sebutlah aku egois. tapi manusia mana yang tak egois sekarang? manusia mana yang rela menyerahkan daun telinganya untuk digigit orang yang kelaparan ditengah gurun pasir yang sedang gonjang-ganjing ini? 

apa?kau yakin ada? memang ada. orang-orang itulah yang mungkin kau katakan sebagai tokoh utama. dan jika memang manusia terdiri dari figuran-figuran dan tokoh-tokoh utama, maka kenapa kau tak mencoba menjadi tokoh utama kawanku? kenapa kau tak mengajak keluargamu, tetanggamu mulai memberikan daging-daging dari badanmu sendiri untuk kau berikan kepada orang-orang lapar? aku yakin kau mampu, aku yakin semua orang mampu memberikan kuping, jari, atau paha sekalian untuk diberikan kepada orang lapar. persoalan manusia hanyalah, apakah mereka mampu menahan derita dari pengorbanan-pengorbanan? bukankah setiap pengorbanan manusia selalu memiliki tujuan-tujuan terpendam? mungkin jika kita hanya memberikan saja sebagian dari daging kita, tanpa tujuan-tujuan terpendam, maka dunia akan indah. dan setiap sinema yang berakhir indah akan segera berakhir. happy ending adalah akhir dari sebuah cerita. jika cerita belum berakhir dengan happy ending, aku yakin cerita itu belum selesai. lalu apakah siap kita mengakhiri dunia ini? mengakhiri sinema ini? apa konflik-konflik itu memang direka-reka manusia agar sinema panjang ini tak berakhir. seperti sinetron tersanjung satu sampai tersanjung enam? apakah tak bosan? apakah manusia-manusia memang selalu terobsesi dengan panjang umur?

hah, aku belum mengerti. jika apa yang kau ucapkan benar, jika kita terbagi dari figuran-figuran dan tokoh-tokoh utama. maka mari kita bersama-sama merasa menjadi tokoh utama. dan merasa memiliki peran untuk memperbaiki cerita ini. agar kita cepat menuju happy ending dan cerita ini selesai dengan semua orang yang tersenyum. semua orang yang tertawa bahagia. atau ditutup dengan ciuman-ciuman kasih sayang seperti film-film drama cinta.

tapi aku rasa orang-orang itu memang sedang menikmati konflik-konflik, sedang menikmati klimaks-klimaks yang panang, agar sinema ini benar-benar tanpa ujung. agar jam tayang semakin lama. agar kita bisa lebih kenyang dan terhibur. apa orang-orang terlalu takut dengan akhir yang menyenangkan?

ayo, sudah saatnya anti klimaks, mari saring berangkulan, bergandeng tangan menyongsong happy ending, agar sinema besar ini tak kepanjangan.setidaknya tidak menjadi sinetron tersanjung satu, tersanjung dua, tiga, empat, lima, enam...............aku tak mau Tuhan bosan melihat kebodohan-kebodohan kita.


-IA-