Jumat, 11 Januari 2013

cerita singkat untuk hati yang tergesa-gesa berangkat.

kopi sudah terlanjur dingin. banyak yang tak selesai hari ini. novel yang berhenti pada halaman tiga belas, buku pramoedya yang hilang dan tak sempat aku selesaikan, lukisan yang aku akhiri di tong sampah depan rumah, puisi yang aku bakar sendiri karena begitu cengeng menangisi seseorang, kopi yang sudah seperti mayat, dan genggaman tanganmu juga berhenti dipagi hari. kopi sudah terlanjur dingin saat kita berdiskusi, dan tanganmu yang sedari tadi aku perinci dengan jemariku kau renggut kambali untuk sendiri.

"kamu ini binatang buas, mungkin seperti singa-dan aku ini belukar yang kamu bilang berbunga," temanku yang akan kau ketahui nanti berkata disela-sela pagi setelah ia merenggut tangannya sendiri.

aku diam. menggapai makana yang tak kunjung sampai.

"kenapa kamu memilih aku? singa tidak makan bunga," kau menatap ragu kesudut kamar yang redup.

"singa juga tak memilih bangkai," aku menyela.

"aku bukan buruanmu, aku kagum padamu sepenuh hati, tapi aku bunga dan kamu singa"

"omong kosong," aku mulai cemas dan mengambil rokok di samping kaki kananmu.

"kita tak bisa begini."

"kata siapa? mungkin kamu yang tak bisa, aku bisa."

"kamu tak punya hati."

"kamu tak punya nyawa."

kemudian kami berdua diam.

setelah itu arak dua belas ribuan yang menjawab. seteguk. dua teguk. tiga teguk. rokok memberi kan opsi. satu hisap. dua hisap. tiga hisap. kemudian arak dan rokok saling mengisi. seteguk,kemudian satu hisapan, seterusnya hingga aku merasa meloncat menuju dimensi lain.

"kamu bukan bunga, dan aku bukan singa. kita berdua adalah pemabuk yang selalu memperkosa malam dan memberi tepuk tangan kepada pagi yang menjinjing matahari. lalu apa yang kau cari sebenarnya?apa yang kau katakan dari dulu hanya akan menjadi omong kosong jika kau menutup mata. mana mungkin ada orang yang mengeluh kepanasan saat tubuhnya basah diguyur hujan?mana ada? mana ada yang kehujanan sambil mengipasi lehernya agar tak kepanasa?mana ada orang yang kehujan dan berkata bahwa bajunya masih kering dan tak basah kuyup?ia menipu dirinya sendiri. kamu adalah pendaki yang menutup mata dan memalingkan pandangan saat tujuanmu sudah didepan muka. ataukah kau hanya pembual?kau bilang,kau begitu menggilai gunung begitu rupa, namun saat kau mencoba mendaki kau sudah mengeluh bahkan sebelum kau masuk hutan dan menuju jalan menanjak."

"terserahmu.aku bukan pemabuk. dan kamu bukan pula seorang yang memperkosa malam. hubungan kita selalu menjadi oposisi biner."

"apa yang kau takutkan sebenarnya?" aku mencoba membuka ruang kepada rokok dan arak. seteguk kemudian satu hisapan.

kau tak menjawab. malam ini banyak hal yang tak selesai. kau lipat wajahmu agar aku tak melihat cemasmu yang sedari tadi mencoba muncrat. aku mengerti. kau diam, mungkin kau berang kepada keadaan. aku mengerti. kemudian aku memilih pergi, aku beri kau kesempatan untuk intim kepada dirimu yang lain yang kau sembunyikan. aku berikan ruang agar kau berdiskusi dengan dirimu yang lain.

aku lari perlahan. kuambil botol-botol yang belum aku selesaikan. aku ingin menyelesaikan mabuk ku hari ini. setidaknya aku telah menyelesaikan sesuatu hari ini. setidaknya arak-arak dalam botol bekas itu bisa aku sudahi ketenangannya. dan aku mabuk-halusinasi mulai datang tergesa-gesa. aku memejamkan mata. dan bayanganku adalah perang yang dibekukan, kapal yang terbalik dengan awak kapal yang hilang, biola yang dawainya terbuat dari kawat jemuran, dan anak kecil yang berjudi. aku bingung dengan halusinasi ini. dan kemudian seseorang yang tampak rapuh tapi sangat tegar matanya menghampiriku. ia melambai-lambai. aku mendekat.

"kamu bukan singa, bukan pemabuk. kamu bukan buaya, bukan kancil, bukan elang, bukan mawar. ia pun demikian. ia bukan kambing, bukan domba, bukan rerumputan. kamu ini manusia-dia juga manusia. dan kau tau sendiri cucuku, bahwa banyak perang tercipta karena pengambilan keputusan yang tergesa-gesa. senjata dibuat karena adanya pihak yang tak kunjung sepakat dengan kemauan. dan jika kau tergesa-gesa cucuku, jika kau tergesa-gesa, mengambil keputusan dan jika kalian tak kunjung sepakat, maka perang akan pecah. hati dan otak kalian akan sesegera mungkin membangun  pabrik senjata.dan...kau tau anak ku, kesepakatan kadang tercipta karna adanya satu hak yang mengalah."

orang itu kemudian menghilang, entah dengan cara gaib, ambles bumi, sublim dengan udara, atau aku yang terlalu mabuk hingga tak sanggup melihat kepergiannya. yang tersisa hanya mual.

aku datangi dirimu yang menatap jendela dengan lipatan muka yang tak bisa kau sembunyikan. aku kibarkan bendera putih. aku tak akan memaksamu mengerti. aku tak mau kau membangun senjata, karna aku sendiri sudah lupa bagaimana cara memegang senjata, bagaimana memegang dendam dan menebaskan amarah. aku  ingin kau nyaman. dan aku tak ingin perang pecah. karena sepertinya kau sudah mulai menyusun strategi gerilya.

aku tersenyum. kau mengerti. kita bercakap-cakap. kau mengerti. aku mengerti. aku berkata kita baik-baik saja, kau mengangguk paham. padahal kau tak tau apa yang kusembunyikan. kau tak tau bahwa aku mengibarkan bendera putih agar kita tak saling tembak dan tikam dari belakang. mulai hari ini kita rapikan perang yang hampir saja pecah.

aku kedapur. saat ini pukul lima tiga puluh. artinya teh hangat yang pantas disajikan. aku buat teh hangat. dan kita selesaikan gelas-gelas kita.

hari ini ada banyak hal yang tak selesai, termasuk persaan yang dipaksa bungkam. hari ini banyak yang tak selesai termasuk kopi yang terlanjur dingin. hari ini banyak hal yang tak selesai, kecuali arak,rokok dan teh hangat.

-IA ,dua puluh enam jam setelah tangan melepuh karna dengan tolol memegang arang yang merah marah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar