Rabu, 06 Juni 2012

Lepaskan...jangan terjebak!


Dalam sebuah perjalanan pulang untuk ketemu orang-orang yang mau ikut membangun RUMAH HUJAN aku bertemu dua sosok yang wajahnya mirip wiji thukul! Ya..memang aku ndak pernah liat wajah pak wiji itu, tapi di buku atau internet aku punya pandangan tentang gestur mukanya hmm, atau obsesiku saja yang berlebihan? Orang yang pertama adalah seorang supir travel gila yang aku tumpangi. Dengan trevel tua dan bercat pudar dia gaspol teruuus jogja pekalongan tanpa tarik nafas mungkin. Yang kedua ada di warung, sosok itu, yang mirip pak wiji, memkai baju superman! Di senyum-senyum ngeliat dangdutan yang diadain empunya warung. Entah, kenapa, aku tiba-tiba menuliskan cerita ini. Sebuah cerita yang sebenarnya nggak ada hubunganya sama sekali dengan tulisanku. Mungkin dua sosok itu jadi pengingatku yang hampir-hampir lupa dengan perjuangan-perjuang pak wiji, semoga kalian yang terus berjuang tak lupa dengan yang pak wiji tempuh...dan untuk pak wiji, kita rindu bapak dalam fisik, maupun dalam sajak...hmmmm
Beberapa hari ini aku benar-benar digilakan oleh tuntutan yang tak habis-habis. Dan tahukah kalian? Disela-sela kegilaan yang sedang aku jalani, sosok itu, yang akan kau temui nanti lebih sering menampakan diri! Ya dia memang bukan genderuwo, tapi kehadiranya menyeramkan, ia bisa datang begitu saja (jangan bayangkan dia bisa menghilang!). dan terserah kalian bagaimana menyikapi tulisan-tulisan ini. Karna fakta tidak bisa membuat kalian percaya lagi. Dan apa yang kalian percaya sekarang ini hanyalah imaji-imaji yang bisa memperluas kekuasaan.
Kalau ndak salah waktu itu hari rabu malam. Rabu adalah hari yang cukup menyita keringat. Aku terpaku oleh rutinitas dari jam delapan pagi sampai jam enam sore! Dan malamnya melanjutkan apa yang tak bisa diselesaikan sore! Hahaha homunculus-ku pasti lebih sering pingsan pada hari rabu, karna akut ak mendengar kebisingan-kebisingan di hari ini. Saat itu, rabu malam, dan aku duduk di depan nasi kucing, tempe bakar, dan jeruk anget. Didepanku ada bapak-bapak paruh baya. Satu memakai jaket kulit, satu memakai kaos polo lusuh dan disamping kerahny ada lubang kecil, dari lubang itu, kulit coklat legam mengkilat tampak mengintip. Entah salah apa aku, atau mungkin dari awal mereka sudah curiga aku ikut mendengar percakapan mereka, bapak yang memakai jaket kulit bertanya.
Aku terjemahkan ke bahasa indonesia, biar ndak nulis terlalu banyaak (trnyata nulis jawa-indo-jawa-indo terus itu capek bung!)
“dek, dulu pernah dapet pelajaran bahasa jawa?”
“pernah lah pak, kenapa pak? Njenengan guru bahasa jawa ya hehe?” aku malah cengar-cengir kurang ajar

“bukan..adek pernah dengar kata ajining diri saka lathi ajining raga saka busana  agama agemaning diri?”

“pernah pak, sd saya malah nulis itu di kertas asturo buat ditempel dikelas pak”

Bapak yang memakai jaket kulit diam untuk meminum kopinya, dan bapak satunya, dengan wajah berkeringat menggntikan peran rekannya yang masih minum kopi

“adek tahu artinya?”

“hahaha ndak pak, saya tahunya bahasa indonesianya tok pak, kalau artinya ndak paham, bapak mau kasih tahu saya?”

Bapak dengan baju polo lusuh itu menghisap kreteknya, kemudian tertawa, entah kenapa

“hahaha bapak ini Cuma tukang becak dek, tapi semalam waktu bapak pergi ke musola di kampung bapak ada orang tua, orang sepuh, dia duduk di di latar sama bapak habis sholat isya..dia bilang: mas orang-orang kota itu lucu ya, mereka tahu tentang agama agemaning diri ndak tho? Kok banyak sekali orang yang merasa berpakaian ternyata telanjang bulat, dan orang telanjang kok ternyata berpakaian”

“terus bapak ngomong apa?”

“ya saya Cuma cengengesan  dek hahha orang saya ini ndak tahu apa-apa. Tapi kalo buat saya ya yang penting kelakuan kitanya dek, terserah mau pakai pakian apa. Toh Gusti Alloh itu ndak liat dari pakain kita, tapi dari kelakuan kita setelah memakai pakaian mas. Ndak patut juga sih dek kalo kita mau bantu orang tapi telanjang, anunya gondal-gandul hahaha”

Tawa di gerobak angkring pecah...

“iya..yang penting kan lakunya mas, bukan seragam atau pakaiannya”

Tiba-tiba bapak dengan jaket kulit itu ikut berbicara lagi. Mungkin ia sudah bosan dengan kepulan kopi, yang panasnya tak kunjung reda.

Dan akupun pulang, setelah melewati beberapa pembicaraan penting. Ditangan, kutenteng plastik hitam yang isinya penuh, rencanaku waktu itu untuk nonton film-film baru, dan samapai dirumah...dia, sosok yang akan kau ketahui nanti itu sudah muncul dengan kretek menyala ditangannya.

“darimana?”
 Ia bertanya dingin, hampir-hampir seperti polisi yang mengajukan pertanyaan di ruang introgasi..

“beli makanan, kamu ini tahu wae yo waktu yang pas...sial, ini gorengan, kita makan bareng-bareng”

Setelah kopi hitam kental dan gorengan tersiap, aku hapus dengan kecewa yang masih tersisa acara nonton film-film baru (atau biru)

“kamu ini masih buat lingkar diskusi?”
Lagi-lagi ia bernada seperti polisi, hmm...aku ndak pernah ada di posisi tersangka yang diintrogasi polisi dengan rokok disulutkan dikulit, aku hanya meniru apa yang televisi beri. Bukankah televisi sudah banyak mencuri peran imajinasimu?

“iya, ya masih kecil kok, Cuma dua tiga orang, belum bisa membentuk lingkaran lah kalo buat duduk haha”

“malah cengangas-cengenges! Kamu pikir dengan berdiskusi itu kamu bisa menyelesaikan ini itu?! Masalah itu kamu jalani, bukan kamu bicaraka!”

“tapi bagaimana aku bisa menjalani kalo saya ndak paham, saya bentuk diskusi agar setidaknya paham”

“ya maksudmu itu bagus, tapi tahukah kamu?pernahkah kamu dengar kata-kata, bahwa cocot iku seje ceker su! Betapa kata asu disitu menegaskan kita, bahwa kita yang masih Cuma gonggong itu belum bisa dikatan sudah menangkap maling, apakah kamu tidak tahu bahwa banyak maling sekarang yang budeg atau sekedar memakai penutup telinga, maling-maling sekarang ini kebal suara, kamu harus berjalan dan menerkam, baru kamu bisa dibilang anjing penjaga. Itu kalo kita sebagai posisi anjing, nah kalo kita ini merasa manusia yang jangan Cuma berdiskusi, ingat, awan tak akan mengubah haluanya hanya karna kita menyanyikan lagu sendu, kamu perlu melakukan aksi langsung, agar awan mau berkumpul membentuk mendung lalu memanggil hujan”

Aku tak paham apa yang ia ucapkan. Aku tak mengerti...aku pun ingin menghentakan protes, berontak barangkali

“awan mana yang bisa diatur oleh manusia, aksi seperti apa yang bisa dilakukan oleh manusia?manusia hanya bisa membicarakan awan, dan berharap agar ia mau mengikuti lagu-lagu sendu kita”

“hahaha..kamu ini sudah jadi orang kota kebanyakan, yang tak percaya dengan keajaiban-keajaibn! Apa kamu kira setiap jalan yang kamu tempuh, pilihan-pilihan yang kamu gunakan itu ndak berpengaruh buat alam? Apa kamu kira harmoni kamu itu Cuma diseputaran lingkungan manusia? Tahukah kamu tentang teori yang orang barat katakan sebagai chaos theory? Kita ini ndak tahu apa-apa, kita ndak bisa mengatur langkah-langkah alam, baik yang tampak dan besar apalagi yang kecil tak kasat mata. Kita ini maha tak mengetahui apa-apa. Setiap langkah dan jalan yang kita pilih pasti memiliki dampak. Ingat dan garis bawahi, yang akan berdampak hanya yang sudah berlaku, langkah, bukan hanya pembicaraan panjang atau buah pikiran!”

Aku merasa dikebiri, apakah lingkar diskusi ku ini benar-benar tak berati dimatanya? Dia menarik dalam-dalam kreteknya..dan menyambung lagi..

“dengarlah ini, lingkar diskusi mu itu adalah sumber mata air, yang harus dijaga benar-benar. Jangan sampai kemasukan racun! Dari sumbermu itu akan mengalir, dan mengalir. Lalu dikonsumsi banyak manusia lain. Jangan sampai kalian mempermainkan ilmu pengetahuan! Aku ragu, apakah kamu ini benar-benar sudah tahu tentang konsep ilmu pengetahuan?”

“belum..apakah untuk pengetahuan saja aku perlu konsep?”

“hahaha memang, konsep dan teori itu juga buah pikiran, masih cocot tok, tapi kamu perlu tau arti dari kata tau Tau itu ndak ada batasnya. Bahkan jik kamu ndak tahu itu berarti kamu masih tahu. Tahu bahwa kamu ndak tahu. Nah manusia kebanyakan ini merasa tahu segalanya, dan ia merasa pengetahuanyalah yang paling benar. Jangan sampai kamu menghasilkan orang-orang seperti itu di diskusimu! Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tertipu! Kamu tak bisa mengetahui segalanya. Dan jangan harap untuk bisa tahu segalanya. Setelah kau tahu segalanya kau akan jauh  denganNya. Dia yang Maha Tahu enggan memberi tahu padamu sesuatu karna kamu sudah merasa tahu akan segala sesuatu, padahal kamu ndak tahu tentang segala sesuatu, apakah kamu mau menciptakan orang-orang yang jauh dan buta tuli kepada Tuhan Yang Maha Tahu. Sang Hyang Segalanaya”

Aku diam. Untuk menghentakan nafas saja berat sekali, aku tak bisa berontak. Kubangun sedikit demi sedikit energiku, untuk membela apa yang aku bangun..

“tapi lingkar diskusiku ini hanya membicarakan aksi-aksi yang kita ambil, agar aksi yang kita ambil masih berkesinambungan dangan konsep-konsep yang kita rancang dan tidak keluar jalur, hanya itu..”

Dia tertawa dan batuk sesekali. Kreteknya terlalu dalam ia hisap...

ya, itu dari kamu, apa kamu kira semua orang di diskusi itu gobloknya sama dengan level goblok dan pekokmu? Apa kamu kira level kelicikan mereka ini sama dengan kelicikan mu?apa kamu kira kecerdikan mereka ini ndak lebih tinggi dari kamu?sehingga mereka ndak mungkin menipu daya niat lugu mu yang masih kacau balau itu?”

Saya berontak..

“saya percaya dengan mereka! Walaupun masih banyak yang Cuma bermulut besar, tapi biarlah, itu bisa menjadi acuan mereka untuk jadi lebih baik kok! Daripada kamu nyela terus apa yang tak lakuin, ceker mu sendiri sudah sampai mana?”

Dia menatapku tajam..mampus.

“hahaha! Cekerku ini ndak perlu kamu tahu sampai mana, cekerku ini tak sembunyiin, saya ndak suka orang melihat jejak-jejak kaki yang saya buat. Bukankah jejak kaki itu menunjukan eksistensi kita? Seandainya kamu benar-benar tulus, berjalanlah seperti hantu, jika kamu sulit jadi malaikat. Jangan sampai meninggalkan jejak untuk setiap kebaikanmu. Tapi biarlah, menjadi hantu atau malaikat itu terlalu sulit untuk orang-orang kota yang tak percaya dengan hal-hal tak kasat mata. Orang-orang membutuhkan hal fisik, data, dan bukti tersentuh. Mereka sudah menihilkan hal-hal tak kasat mata, kekuatan alam, atau apapun yang tak berwujud. Karna orang-orang sekarang ini suka memperlihatkan apa-apa yang ia lakukan. Ya mereka semua dan kamu ini termasuk pemuja fisik. Kamu mau orang lain melihat kerja kerasmu, untuk apa? Kamu mendustai dirimu sendiri!”

Aku mengelak waktu itu
“sudahlah, jangn terus mebunuh alam pikiranku!”

“orang kira mereka ini tulus kerja buat oganisasi sosial, padahal mereka mau dipandangan berbakti dn berguna. Orang rela mati syahid hanya untuk dianggap pahlawan, orang jadi dermawan hanya untuk memberi thu bahwa ia suka membagikan harta. Tapi biarlah, aku tak masalah juga dengan niat-niat busuk dibalik kebaikan. Asalkan kebaikan itu benar-benar dilksanakan, biar Tuhanyng menentukan. Tapi kamu? Apa kamu ndak khawatir nanti lingkar diskusimu itu Cuma terjebak di alam pikiran?kamu ndak bisa merubah sistem hannya dengan cara berpikir keras siang dan malam, kamu butuh turun lapangan dan mengganti sistemmu sendiri”

Aku semakin tak tahu dan merasa dihina. Bahkan ketika aku tak tahu sesuatu aku merasa dihina, betapa cepatny aku mengambil keputusan setiap hari...

“sudahlah, mendingan kita habisin gorengan ini, aku ndak mau kasih kamu banyak-banyak hari ini, ayo bsana buatkan aku teh hangat”

Seperti terhipnotis, kala itu aku pergi dan membuat teh hangat, dua gelas.lalu duduk diam melewatkan tempe dan pisang goreng yang habis disambar sosok itu..ia pun pergi. Dn aku sendiri dengan kebingungan-kebingunganku..

Sekarang aku sudah didepan komputer, merancang postingan blog dan artikel untuk zine minggu ini, tapi..semua itu hilang, dan aku menjadi paranoid. Aku takut jika aku jadi sosok yang hanya memakai cocot tok. Memakai mulut tok untuk mengatasi semua masalah, aku takut aku terjebak dalam alam pikiranku..

Tiba-tiba telponku berdering, dia, yang akan kau ketahui nanti mengirim pesan pendek..

“lepaskan, lepaskan semua hal yang memberatkanmu, taruh disakumu untuk sementara, kau urai lagi nanti saat waktunya tepat, jika memang kamu harus berjalan, berjalanlah, jangan sampai terjebak dalam alam pikiran. Berjalan dan uraikan hal-hal tadi dalam perjalananmu, jagan terjebak dalam alam pikiran, jangan terjebak dalam kerang-kerangka pikiran,lepaskan dan urai lagi nanti”

Aku pun berhenti menulis...dan membuat teh hangat dengan sedikit perasan jeruk nipis..aku keluar memandangi langit yang biru,jingga,oren ,gelap dan entah warna apa lagi..ternyata ini sudah pagi..dan aku belum menulis sesuatu, biarlah, aku tak ingit terpaku untuk selalu menulis, lepaskan, dan jangan terjebak kerangkan pikiran dan rutinitas yang membunuh perlahan..

jika pikiranku terlalu keras, lidahku terlalu kotak, maka imajinasiku terbungkus plastik hitam tebal. saat-saat seperti itulah aku tak bisa menulis. karna sesuatu dariku telah dicuri entah oleh siapa. entah burung nuri, entah rutinitas, atau diam-diam tersedot televisi...

-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar