Rabu, 16 Mei 2012

Bapak di Candi kala Siang

Gunung, dahulu kala...adalah pusat spiritual manusia.
dipuja dan diberi persembahan, diagungkan. dan kemudian kata "dilestarikan" akan menyusul. lalu "dijaga" dan "dilindungi" oleh masyarakat sekitar, pemuja, dan mereka yang menghargai bumi tujuh lapis dan langit tujuh lapis, beserta keadaanya.

tapi sekarang keadaan sudah jauh berubah. keadaan sudah sangat gonjang-ganjing.
manusia sudah tidak menghargai langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis, dan semua keadaanya.


entah angin apa, aku mengunjungi prambanan kemarin. satu jam dari rumah ungu.
entah angin apa juga aku memilih menggunakan transportasi umum. dan berhimpitan dengan macam-macam manusia. dari yang ibu-ibu gendut dari jakarta. kakek-kakek buta yang memakai peci, seorang atlit kejurnas (yang entah kenapa menelpon keras-keras sehingga semua orang di bus tahu bahwa dia sedang dalam latihan kejurnas), atau seorang bapak-bapak yang malu didekati dan lebih memilih mengasingkan diri duduk dikursi pojok belakang karna tubuhnya dipenuhi gatal-gatal berkepanjangan. atau dengan orang-orang dari perancis, belanda, dan turis-turis yang mukanya memerah karna udara di indonesia sangat mencekik mungkin. 

prambanan, entah apa maknanya. aku bukan arkeolog dan pendongeng yang pintar.
tapi ia menghadap tepat kegunung merapi. mengupayakan harmoni yang entah bagaimana hubunganya dan prosesnya. lalu ada nama-nama candi. dan yang terakhir aku lihat adalah candi siwa. yang sedang dipugar. kau hanya bisa melihatnya dari luar. dan berandai-andai menjadi salah satu tukang yang membangun candi pada waktu pembangunannya dulu.

batu-batu besar. keras dan tak masuk akal untuk ukuran tubuh orang jawa. tapi dulu, ketika semua orang menghargai langit tujuh lapis dan bumi hingga kerak ketujuh, semua kemungkinan-kemungkinan itu mungkin.

aku membayangkan sumur peripih. sebuah lubang yang dalam dibawah permukaan tanah. sebuah lubang untuk menyimpan kotak peripih. kotak yang akan membuat matamu berbinar ketika dibuka. kotak yang akan menceritakan kepadamu misteri-misteri kala itu. 

aku berandai-andai tentang manusia sekarang yang membuat sumur peripih. jenis manusia yang optimis bahwa kiamat 2012 akan berlangsung. manusia-manusia ini akan memasukan segala hal kesumur peripih. iphone, laptop, cek kosong, hardisk portable mungkin. manusia-manusia itu berharap bahwa identitasnya akan ditemukan kelak, entah oleh alien atau penghuni kehidupan selanjutnya.

candi ynag berhasil aku masuki waktu itu hanya candi yang berisi arca sosok perempuan. dewi durga mungkin. aku tak bisa mendapat keterangan waktu itu. atau mungkin mata ini sudah terlalu lelah untuk mencari-cari penjelasan yang ada. yang kutemui hanya seorang india paruh baya, dengan aksen seperti orang bali "photo plis" nya. selain orang itu, tak ada yang bisa memberi keterangan-keterangan lengkap. suatu saat harus kesana dengan buku panduan ditangan dan guide tour didepan, hahaha.

karnalelah, aku duduk. mencari kepulihan.
dan datanglah seseorang. paruh baya, bukan india, duduk disampingku. dengan payung merah dan kumis tipis santai. memakai baju hijau. kita muali bercakap-cakap. lalu entah karna apa ia menceritakan tentang Durga. dewi yang dikutuk karna melanggar perintah suaminya. dahulu dewi durga adalah dewi uma, dewi yang sangat cantik berkulit kuning bersih. istri dewa siwa. dewi uma , karna melanggar perintah untuk tidak menemui dewa siwa ketika sedang bercinta akhirnya dikutuk. uma dikutuk menjadi durga karna mau bercinta denga pendayung sampan yang bisa mengantarkan uma menemui siwa yang sedang bertapa. ia dikutuk karna rasa cintanya. ia dihukum karna kadar kerinduan yang memuncak, sampai rela melakukan apapun demi bertemu suaminya, siwa. hukum para dewa adalah mutlak, maka ia tak bisa menggugat kutukan-kutukan. ia tak bisa membela diri.

apakah posisi kita sekarang seperti dengan uma? jika pemerintah merasa jumawa dan berlagak seperti dewa, percayalah, kita sedang dikutuk-kutuk oleh penguasa dan tak mungkin bisa bersuara.
hahaha kenapa sampai dengan penguasa? (hahaha seorang teman pernah berkata, bahwa aktivis, LSM atau kritikus selalu suka melihat kejelekan-kejelekan orang besar, dan tidak suka jika orang-orang itu menjadi baik. taubatnya hanya akan menumbuhkan kecurigaan..haha maaf teman, tapi saya bukan aktivis, anggota lsm, atau kritikus saya ini cuma sok-sokan ngomong macem-macem, aku ini badut tok kawan, jadi santai, aku ndak akan memburu kejelekan bapakmu yang polisi atau pakdemu yang dpr, tapi kalo mereka lucu yang tak tertawakan, wajar tho?)

hahaha oke...balik lagi ke cerita seorang bapak paruh baya itu tentang durga.
"mas, apa hak dewa mengkutuk durga yang sedang jatuh cinta, sedang kasmaran dan kangen sama suamainya?"

saya bingung, blo'on setengah mati.
"mungkin dewa ini penguasa mutlak pak, jadi yo sak karepe dewe tho"

lalu bapak itu tertawa.
"mas ini pie tho, kalau semua menjadi penguasa mutlak apa yo akan tetep boleh sak karep dewe, apa ndak mempertimbangkan keadilan-keadilan? apa kamu pikir tuhan itu mung sak karepe dewe? ndak punya perhitungan-perhitungan? apa kamu pikir tuhan sebagai penguasa mutlak, pemilik hak paten manusia ini akan sak karepe dewe ngasih teluh ke somalia, ke pesawat sukhoi?hahaha mas-mas...."

aku malu bukan main. bapak itu menaparku. tamapr kanan-kiri bergantian, cepat dan tanpa jeda
"lho pak, apa tuhan itu ndak sakarepe dewe?bukannya Beliau ini yang punya andil atas semuanya pak? kan dia ndak punya tanggung jawab atas semua yang ia ciptakan, suka-suka Tuhan lah pak...apa iya manusia ini berhak menuntuk keadilan-keadilan Tuhan?apa yo Tuhan itu perlu tuntutan-tuntutan manusia pak? wong dia sudah adil, dan dianggep maha adil, kenapa harus memiliki pertimbangan-pertimbangan?"

bapak itu diam, meminum air dari botol plastik. lalu tertawa
"lho mas iki pie tho?! Tuhan itu maha adil, oleh karna itu dia wajib memiliki pertimbangan-pertimbangan, ia maha mendengar, maka ia wajib mendengar tuntutan-tuntutan umatnya mas. Tuhan tidak memiliki kewajiban kepada umatnya, ia wajib karna dia ini dzat maha super. Beliau ini pencipta yang paling hebat dan paling bertanggung jawab. maka dia ndak akan nggawe terus sak karepe dewe. tapi Pertimbangan, pertimbangan yang diajukan tuhan itu beda dengan pertimbangan-pertimbangan manusia mas. kalo manusia kan harus nimbang perut, pangkat, penis, kalo Tuhan sudah mempertimbangkan buat semuaaa nya, sudah dikaji dampaknya hingga ending dunia ini. cuma ndak ada kekuatan manusia untuk tau apa yang menjadi pertimbangan Tuhan. yang jelas Tuhan mau kita ini berbuat baik. 'baik' lho mas, bukan benar.apa yang benar belum tentu baik buat Semua orang. dan apa yang baik juga ndak mesti benar. tugas manusia itu kan mengharmonikanya mas.haduh kok malah nggelendengi tuhan tho dewe, ampuun gusti hahaha"

aku tersenyum. pusing. terlalu banyak ditampar bapak-bapak itu.
"sudah lupakan, bapak juga ngawur tok. mending kalo mas bingung mas pulang mulai buka-buka buku lagi, mulai dengar dan lihat macem-macem lagi, mulai datang keguru-guru mas. dipegang keyakinannya. dan ingat. benar dan baik harus imbang mas. kalo timpang nantin njungkel kebelakang lak repot mas. hahahaa"

bapak itu mengambil nafas panjang, melempar muka. dan kembali bersuara
"durga itu dulu dipuja oleh janda calon arang. janda ahli teluh mas. mas pasti tahu kan?"

aku mengangguk, dan mengunci kata-kata. aku meredam rasa sok tahu ku kali ini.

"ndak ada yang berani sama janda calon arang. kecuali siasat mpu baradah. calon arang lengah karna anaknya ratna manggali menikah dengan bahula, pemuda yang datang bersama mpu baradah. betapa gilanay teluh calon arang. betapa mencekamnya ketika kekejiannya tak mampu dilawan..ngeri mas kalo denger cerita orang-orang sakti jaman dulu. medeni. sekarang orang-orang juga mulai bernostalgia dengan kesaktian nenek moyang. mereka ini mulai (berlagak) sakti. dan meulai (berlagak) menyeramkan mas. cuma medianya beda mas dulu sakti ini ajimatnya rapalan, keris, dan batu-batuan. tapi kalo sekarang ajimatnya mung uang, pangkat, sama nama besar ya mas. sama tapi beda. apa ya persamaanya mereka?"

"sama-sama masih ngisep darah orang pak!"
aku menimpali bapak itu gnawur, dan seratus persen asal-asalan.

"haha bener mas! tapi ndak kelihatan aja ya mas, dulu calon arang ini keramas pake darah orang. nah kalo orang sakti sekarang kebal hukum karna habis nilep darah orang, ya yang dihisep uangnnya. terus kita yang uangnnya dicuri jadi ndak makan, kere, terus mati mas. hahaha podo wae jebule yo. bedone mung gamane mas (gaman=senjata)"

bapak itu tertawa girang, kemudian dialog kami terpisah oleh sebuah pengumuman dari speaker.

"yo wis mas, aku tak mulih sek, rombonganku wis diceluk. sudah dipanggili dari speker mas. bapak pamit yo mas, ojo lali, dibuka matane, dijembreng kupinge hahaha"

"nggih pak, ati-ati..nuwun nggih pak"
aku membalas ucapana perpisahan bapak itu. lalu ia tersenyum dan melangkah. jalannya bugar. pasti ia bukan malaikat yang berubah menjadi mansusia. karna biasanya (seperti yang televisi kabarkan) malaikat yang menjelma itu berpakaian lusuh. simbah-simbah tua. dan layak dikasihanai. bapak tadi beda. ia bugar kekar, dan arloji di tangan kirinya berwarna emas mengkilap.

-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar