Rabu, 23 Mei 2012

Pagi yang Berat

semakin hari, hal-hal yang kutemui, kulakukan semakin tak masuk akal, jauh dari kata rasional.
aku seperti mengejar keajaiban, mencari-cari kantong doraemon yang mungkin jatuh di trotoar.

aku seperti menjatuhkan diri dari tebing, bermimpi tak akan hancur terhempas kebawah, berandai-andai bisa terbang seperti elang atau rajawali yang gagah.
aku jatuhkan diriku dari tebing, tanpa baling-baling bambu..tanpa kain terbang supermen, atau permadani aladin. 

entah aliran sungai yang mana yang menggiring aku sampai jalan ini.

percayakah kalian pada keajaiban? pada sebuah optimisme? atau sebuah kata "mukjizat" ?
haha mungkin orang kota sudah tak percaya pada energi-energi yang tak kasat mata. mereka merasionalkan semua fenomena. seakan otaknya mampu mencakup tentang ruh dan lain sebagainya. 

pada pagi-pagi buta, saat cahaya hanya remang-remang dilangit. saat sejuk sangat terasa murni, aku terbangun, oleh sebuah bebunyian digital. sedikit sadar aku baru tahu itu berasal dari ponselku. sedikit lebih sadar lagi, itu sebuah panggilan. dari nala. ketika aku mencoba meraihnya, dan menekan tombol, ia memutuskan panggilanya.

asu!!! miskol esuk-esuk!

aku acak-acak kulit mataku, aku memaksa kantuk pergi. aku menggusur lemas dan meregangkan otot-otok tangan, kaki, leher, punggung. kulihat lagi ponselku. satu pesan masuk. dari nala. sang penggusur mimpi.

"apa yang kamu lakukan? apa yang kamu pikirkan sampai mau pusing buat sanggar? apa kamu kira kamu ndak akan mencetak bajingan-bajingan dari sanggar? apa kamu kira sanggar kamu ini rumah suci? apa kamu kira kamu bisa mengentaskan semua masalah mereka? kamu ini buang-buang waktu!!!"

hah, dia mempertebal keraguanku. dia menambah daftar orang yang tak setuju denganku. dan parahnya, dia melakukanya pada waktu-waktu sakralku, pagi hari yang murnni! bajingan cantik yang tengik!

"nala, yang cantik, yang busuk, yang menggusur mimpiku, aku juga belum tahu apa yang aku lakukan. otaku ini seperti tiba-tiba di lubangi, dibor oleh alien, di bilas, di cuci bersih sampai tiba-tiba merasa harus membuat sanggar, tolong aku nala..aku butuh orang sepertimu"

aku mulai bangkit, layar pada ponsel ku lap dengan sarung bantal. aku kembali mengacak-acak mataku, menunggu pesan, dan menunggu pagi benar-benar terang.

"hedonis! kamu ini terlalu gila dengan dunia, apa yang kamu kira duniawi itu cuma mabuk, dugem, konsumerisme? kamu sekarang sedang menjadi seorang hedonis, yang kamu gilai saja yang beda. kamu terlalu gila melakukan ini itu, kamu terlalu gila dengan rencana-rencanamu. mengubah negara?jangan harap aku mau menemanimu, buang-buang waktu!"

dia benar-benar racun. keraguanku semakin kental.

"haha biarlah nala, biarlah, aku ini memang hedonis yang berlagak baik, sok-sokan peduli, padahal aku ini cuma memenuhi nafsuku sendiri, nafsu rencana-rencanaku yang entah kapan akan berakhir, tapi nala, apa kamu ndak ngerti, bahwa sanggar yang aku buat ini ndak muluk-muluk? aku ndak mau ngubah negara, aku ndak mau ngubah dunia, aku cuma mau anak-anak kembali percaya dengan keajaiban, aku nggak menebar mimpi palsu, aku ini sedang mencoba menabur optimisme!"

aku gila. aku gila. aku mau bunuh diri

"kamu punya apa? kita berdua ini baru kemarin belajar, kita belum tahu apa-apa! kita ndak punya apa-apa untuk kita bagi..optimisme? motivasi? untuk apa?! agar mereka ini buta dengan kenyataan? agar mereka mengira bahwa tahi itu rasanya apel? agar mereka kira sampah itu rasanya pisang? optimisme apa yang kamu bangun? tahi kucing rasa coklat? jangan perparah kenyataan dengan impian-impianmu..! yang mereka perlukan ini membuka mata lebar-lebar!"

aku diam, lesu, aku mengharap keajaiban terjadi, aku berharap ada meteor jatuh tepat ke arah kepala wanita ini.

"tolong jangan tekan aku terus, aku tak serasional kamu nala. aku ini sedang membentuk kerajaan mimpiku.aku ndak mau menipu mereka, aku ndak mau mengajarkan mereka bahwa keledai itu sehebat harimau, aku tak akan mendongengkan mereka tentang tikus yang memakan kucing. aku ini mau mereka melihat kenyataan disekitar mereka dengan optimisme. agar saat mereka tahu bahwa tahi itu busuk, mereka tak mutah. agar saat mereka melihat darah keluar dari kaki, mereka tak berlama-lama menangis. aku ingin mereka berani menatap kenyataan"

aku menarik nafas, berjalan kearah kamar mandi. kantong kemih sudah sangat penuh. sudah tak kuat menampung air. sudah sesak dan rasanya mau meledak. setelah dari kamar mandi aku kembali ke kamar, kali ini dengan segelas air putih.

"hahahaha! keberanian? kamu mau membentuk sekelompok preman? mau mengumpulkan kekuatan untuk menggulingkan penindas dengan cara menindas balik?mau apa dengan keberanianmu, kamu sudah sering lihat tayangan di benda kotak dirumahmu! berapa banyak orang dengan keberanian mengobrak-abrik kemanusian. mengobrak-abrik nurani para pendosa"

aku minum air dalam gelas. aku tarik nafas panjang.

"nala, aku ini sedang belum tahu mau apa, aku cuma mau menebar cintaku tok, cara satu-satunya yang terbesit waktu itu ya cuma sok-sokan membuat sanggar. aku ini cuma pingin melakukan sesuatu yang ndak merugikan, mana mungkin aku didik anak-anak jadi preman-preman semacam itu? won aku ndak bisa mendidik, aku ndak ngajar, aku ndak mbimbing, yang aku bisa cuma bermain dan belajar bareng-bareng, dengan rasa kebersamaan, dengan cinta"

lama. ponsel ku lama tak berdering lagi. aku pikir nala sudah muak. atau sudah lelah menyadarkanku.

"temanku, yang sama-sama menggilai kedatangan matahari. yang sama-sama mencintai gunung dan lautan. yang sama-sama suka tidur dibawah rerimbunan hutan. aku tak tahu apa yang kamu lakukan. aku mencoba menyadarkanmu, aku tak ingin kau membuang waktumu untuk eksistensi-eksistensi. aku tak mau kau jadi pemuja tepuk tangan dan puja-puji. aku doakan sanggar mu terbentuk, tanpa ketenaran. aku tak mau kehilangan seorang teman yang tenggelam di lautan puja-puji"

aku diam. menutup mata. membayangkan jika aku bersama teman-teman mampu mewujudkan sanggar itu, apakah kita akan tenggelam di lautan puja-puji. aku bayangkan jika tepuk tangan itu menyumpal aliran nafasku. pujian menyumpal kerongkonganku. sampai aku mati tersedak oleh puja-puji. ah, betapa mengerikan mati dengan cara tersedak seperti itu!

"maaf nala, aku ini bukan tarzan! aku tak seliar kamu. aku hanya hedonis, benar katamu tadi. aku terlalu mencintai alam, dan kemanusian. tanpa tahu harus bagaimana untuk menjaga alam dan kemanusiaan. aku harap kamu mau bergabung dengan kami, aku harap kamu mau membantu ku, aku harap kamu mau menyadarkanku, mau mengingatkanku saat aku mulai keluar arah, mau mengangkatku, mengentaskanku dari lautan puja-puji"

aku keluar dari kamar, membuka pintu rumah, dan betapa gilanya! sosok itu, sosok yang akan kau ketahui nanti sudah duduk dengan kretek dan kopi! aku masih terkejut, dan mencoba fokus. aku ingat-ingat lagi apa yang sedang ia lakukan. 

oh aku ingat, ia bermalam ditempatku. semalam hujan, di tak bisa pulang. bukuku yang mau dipinjam semalam sudah dibaca. ia mau meminjam buku semalam, lalu hujan dan tak mau pulang.aku ingat sekarang.

aku duduk disampingnya. dan melihat ponsel lagi. 

"aku ini cuma bisa menebar omong kosong, seperti kamu. tapi aku tak mau ambil resiko dengan mengganggu omong kosongmu. aku hanya akan mengusikmu, tanpa kau ketahui, sudahlah, matahari sudah tak jinak lagi. daaagh...!"

hah..sudah?pesan demi pesan tadi cuma berakhir seperti ini?nala, kenapa kau tak membantuku?!
aku perhatikan tokoh itu, sosok yang akan kau kenali nanti. ia senyum-senyum melihatku.

"ono opo? mumet? kamu ini mau buat yang baik kok repot sendiri! kalo ragu ya ndak usah buat. kalo mau buat ya ndak usah ragu. kalo ndak kuat ngangkat dewe yo diajak konco-koncomu kui! inget, dulu aku pernah ngingetin kamu, kalo mau lekukan apaapa itu ya dicoba dulu, kalo jalanmu di tutupi bambu yang rimbun, ya coba disingkirkan dulu, kamu singkirkan pake tangan, jangan ditebas! kalo ndak bisa ya berarti harus muter, kalo capek muter gunung istirahat dulu, cari sungai, mandi. nanti akan sampai, pasti akan sampai!"

aku menatapnya, matanya tak bisa ditembus, matanya dilapisi dinding yang aneh, yang membuat kita gentar untuk memanjatnya. 

"aku ini ragu, benar salah apa yang aku lakukan dimata mereka. baik atau ndak baik"

dia menatapku, meletakan kopinya

"berarti kamu belum tulus! kamu masih mengharap apa yang kamu lakukan ini baik. kamu ini masih membangun nama besar atau bener-bener mau mengabdi sama mereka? kalo mau membangun nama kenapa tak buat pondok pesantren sekalian, lalu jalan-jalan pake gamis, peci? kalo kamu mau mengabdi berarti kamu harus siap diludahi! siap dianggap gila, siap dianggap melenceng, siap di celeng-celeng kan orang-orang tertentu, dikafir-kafirkan orang-orang. kamu harus siap, tapi apapun yang kamu lakukan harus benar-benar untuk kebaikan semua orang! jangan kebaikan kamu tok dan kelompok kamu tok!"

saya diam, dia menarik panjang nafasnya, mengepulkan asap kretek, dan aku tahu ia akan berpanjang-panjang bicara

"saya sering ngomong sama kamu untuk selalu memelihara sifat angon, jadi cah angon, anak gembala. tapi dengan menjadi anak gembala kamu ndak bisa seenaknya mem "bebek-bebekan" manusia lain. kamu kira kamu harus mengarahkan semua orang? kamu kira manusia ini bebek semua? setiap manusia memang pemimpin, tapi sebelum jadi pemimpin buat yang lain, kamu pimpin dulu dirimu itu. kamu atur dulu bebek-bebek dalam tubuhmu. kamu rapikan dulu itu kandang-kandang bebek di otak dan hatimu! setelah bebekmu sudah nurut sama kamu, baru kamu ajak orang lain untuk menggembalakan bebek-bebek mereka dengan benar! jangan seenaknya nyuruh anak untuk berbuat begini begitu untuk mencapai ini-itu. biarkan mereka merapikan kandang bebek mereka dulu! kamu juga harus terus jaga bebek yang ada didirimu dulu!"

aku diam, bingung, tak tahu harus apa

"tapi sudahlah, kalo kamu benahi kandang bebekmu terus ya ndak bisa buat apa-apa. kamu harus pinter-pinter bagi waktu, kapan saatnya benahi kandang pribadi, kapan saatnya bareng-bareng merapikan peternakan dunia"

aku mau meledak, keraguan yang ditebalkan nala ditambah ceramah tentang bebek oleh sosok didepanku ini..

"sudahlah! aku usahakan yang terbaik, tak lakuin semampuku dulu, aku ndak bisa ngatur kandang bebek di tubuhku ya biarlah, aku juga ndak bermaksud mengatur kandang bebek orang lain kok. aku ndak sedang membuat perserikatan bebek!!!"

orang itu malah tertawa.

"hahaha ya sudah, kamu tak dukung kok, asal jangan maksain diri, inget tentang cara muterin gunung, oke?"

aku tak menjawabnya. bingung atau entah kenapa.
yang aku yakin, aku tak sedang tebang tanpa parasut....

-IA-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar