Jumat, 11 Mei 2012

Happy Ending.

pki. fpi. nii.
fpi. pki. nii
nii. fpi. pki.
pki. nii. fpi.
fpi. nii. pki.
nii. pki. fpi.

entah apa maksudnya. entah apa yang aku tulis itu.
tapi aku yakin pasti ada yang mengkutuk dalam hati.
memaki dalam hati. mengepalkan tangan sembari mencaci maki
fpi, nii, pki
semua pernah ada di indonesia, semua masih ada di indonesia.
untuk apa? untuk menggapai impiannya masing-masing.
maafkan aku, jika rangkaian kata-kataku itu membuat kalian berprasangka.
sungguh, aku hanya suka mendengar akhiranya yang sama-sama bernunyi "i". mereka ini sama-sama sedang berusaha melakukan sesuatu untuk Indonesia. entah salah atau benar cara yang mereka anut. aku hanya penonton. yang latah, dan suka mendengar rangkaian bunyi-bunyian yang harmonis. fpi,nii, pki. semua melakukan sesuatu untuk indonesia. entah salah atau benar cara yang mereka tempuh.

untuk menjatuhkan kebenaran-kebenaran yang mereka anut.
untuk meng-universalkan pandangan-pandangan.
untuk menyamakan batasan-batasan.
untuk menjaga impian-impian.

hah, betapa televisi kita dipenuhi konflik-konflik yang memuakan. yang sepertinya tak berhenti. yang sepertinya membanjiri mata, telinga, menyumbat saraf-saraf otak. menumpulkan taring-taring kemanusiaan. sebentar, kemanusiaan tak butuh taring. yang memakai taring untuk bertahan hanya binatang. manusia bisa bertahan tanpa taring. tanpa pedang, tanpa senapan, tanpa balok kayu, tanpa kepalan tangan.

betapa kelamnya sejarah indonesia. perlu berapa peristiwa berdarah lagi agar kita tahu kekerasan demi alasan apapun itu selalu menyambungkan dendam tak berkesudahan? berapa darah lagi yang dibutuhkan? berapa hati yang hatus dimakan, berapa darah yang harus diminum, berapa peluru yang harus dimutahkan? harus berapa kaum yang manangis? berapa umat-umat lain yang terluka? berapa kepercayaan-kepercayaan terinjak-injak? berapa wanita menangis? atau butuh berapa anak kecil yang kebingungan? agar kita mulai bisa melupakan kepentingan kita masing-masing?agar kita bisa meletakan seragam-seragam kita, pangkat-pangkat kita, dan bergandengan tangan untuk mulai membersihkan puing-puing sejarah, dan membangun masa depan bersama?

Tuhan, Engkau memiliki timur dan barat. kemanupun aku menghadap aku akan selalu bertemu padaMu. kemanapun aku berjalan, aku akan berakhir padaMu. aku yakin, sangat yakin bahwa Engkau pasti akan mengakhiri konflik-konflik ini. Engkau lebih tahu daripada aku yang buta sama sekali. aku tak tahu apa rencana-rencanaMu. dan apa hakku untuk mengetahui keputusan-keputusanmu? yang aku yakin, bahwa setiap apa terjadi pasti memiliki maksud tertentu, semua mengarah agar kita mau memperbaiki diri masing-masing. bukankah begitu Tuhan? semua manusia memiliki pilihan untuk mengubah konflik ini atau diam, seolah-oleh masa depan akan cerah dengan tangan-tangan terkepal.

seorang teman, pernah bertanya kepadaku, sebuah canda yang tragis, ironi sebuah lelucon.
"apakah tuhan benar-benar sedang menjalankan sebuah sinema maha besar?jika memang demikian, aku rasa aku hanya figuran. sepertinya ada tokoh utama yang bisa melakukan sesuatu untuk dunia ini. karna apapun yang aku lakukan tak berarti apa-apa"

temanku, cah lanang. ia sedang dibalut rasa galau. ya, galau! sebuah istilah yang berwarna abu-abu. sebuah perasaan yang berayun-ayun ditengah batang putus asa, dan ketidaktahuan. sebuah perasaan yang mengambang, kemudian tenggelam, lalu timbul lagi. seperti rasa pesimis yang enggan mati.

temanku, cah lanang.jika kamu adalah figuran. bapakmu adalah figuran, kakek mu adalah figuran, maka kau akan mati dengan biasa saja jika terus mengira kau adalah figuran. kau tak akan tersorot kamera. mukamu yang berminyak itu tak akan pernah mendapat close up dari lensa-lensa kehidupan. bukan, aku tak menyarankanmu menjadi orang gila yang narsis dengan aksi-aksi. aku hanya menyarankanmu melakukan lompatan. tapi jangan tanyakan aku temanku, cah lanang. akupun masih tak tahu. aku masih belum bisa tersorot kamera, aku belum bisa melakukan apa-apa untuk manusia, untuk kebaikan-kebaikan bersama. dari dulu yang aku lakukan hanya untuk kebaikanku sendiri. 

sebutlah aku egois. tapi manusia mana yang tak egois sekarang? manusia mana yang rela menyerahkan daun telinganya untuk digigit orang yang kelaparan ditengah gurun pasir yang sedang gonjang-ganjing ini? 

apa?kau yakin ada? memang ada. orang-orang itulah yang mungkin kau katakan sebagai tokoh utama. dan jika memang manusia terdiri dari figuran-figuran dan tokoh-tokoh utama, maka kenapa kau tak mencoba menjadi tokoh utama kawanku? kenapa kau tak mengajak keluargamu, tetanggamu mulai memberikan daging-daging dari badanmu sendiri untuk kau berikan kepada orang-orang lapar? aku yakin kau mampu, aku yakin semua orang mampu memberikan kuping, jari, atau paha sekalian untuk diberikan kepada orang lapar. persoalan manusia hanyalah, apakah mereka mampu menahan derita dari pengorbanan-pengorbanan? bukankah setiap pengorbanan manusia selalu memiliki tujuan-tujuan terpendam? mungkin jika kita hanya memberikan saja sebagian dari daging kita, tanpa tujuan-tujuan terpendam, maka dunia akan indah. dan setiap sinema yang berakhir indah akan segera berakhir. happy ending adalah akhir dari sebuah cerita. jika cerita belum berakhir dengan happy ending, aku yakin cerita itu belum selesai. lalu apakah siap kita mengakhiri dunia ini? mengakhiri sinema ini? apa konflik-konflik itu memang direka-reka manusia agar sinema panjang ini tak berakhir. seperti sinetron tersanjung satu sampai tersanjung enam? apakah tak bosan? apakah manusia-manusia memang selalu terobsesi dengan panjang umur?

hah, aku belum mengerti. jika apa yang kau ucapkan benar, jika kita terbagi dari figuran-figuran dan tokoh-tokoh utama. maka mari kita bersama-sama merasa menjadi tokoh utama. dan merasa memiliki peran untuk memperbaiki cerita ini. agar kita cepat menuju happy ending dan cerita ini selesai dengan semua orang yang tersenyum. semua orang yang tertawa bahagia. atau ditutup dengan ciuman-ciuman kasih sayang seperti film-film drama cinta.

tapi aku rasa orang-orang itu memang sedang menikmati konflik-konflik, sedang menikmati klimaks-klimaks yang panang, agar sinema ini benar-benar tanpa ujung. agar jam tayang semakin lama. agar kita bisa lebih kenyang dan terhibur. apa orang-orang terlalu takut dengan akhir yang menyenangkan?

ayo, sudah saatnya anti klimaks, mari saring berangkulan, bergandeng tangan menyongsong happy ending, agar sinema besar ini tak kepanjangan.setidaknya tidak menjadi sinetron tersanjung satu, tersanjung dua, tiga, empat, lima, enam...............aku tak mau Tuhan bosan melihat kebodohan-kebodohan kita.


-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar