Rabu, 10 Oktober 2012

ah sepertinya aku galau..!

temanku itu..


seorang temanku, kini mulai menulis banyak hal. ia menjelma menjadi sosok samar-samar. ia seorang pelukis yang menggambar dengan pena dan kata-kata. menerjemahkan pagi dengan puisi, dan malam dengan prosa panjang. temanku itu, menolak konsep-konsep umum. ia bukan tak peduli dengan norma dan "kebiasaan banyak orang". ia hanya tergelitik, betapa kadang, kita, manusia, terpaku hanya dalam satu pers
pektif saja. termasuk dalam menerjemahkan "cinta".kita terjebak dengan konsep kekasih dan pasangannya, suami dan istri, linga dan yoni. ia sering tertawa jika melihat seorang laki-laki mati langkah saat cintanya patah. ia bilang "betapa laki-laki itu tak tahu, bahwa cinta sebenarnya adalah alam semesta menyeluruh". agaknya kini aku tahu, temanku itu adalah seorang wanita sinting untuk ukuran orang kebanyakan,orang-orang kaku yang hanya terpaku pada satu sudut pandang.





IA /06/10/2012





---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------






menunggu mendung

pernahkah kalian rindu dgn hujan?dengan langit gelapnya dan sore yang diiringi mati lampu?duduk diatas ranjang sederhana,dgn selimut atau kain sarung yg memberikan perasaan nyaman,menghadap jendela yg tak mampu bercerita tapi kita setia mendengarkannya..menatap apapapun yg tersapu air,mencoba menerjemahkan perasaan mengharu biru..dan akhirnya terhisap dlm bau tanah yg menyenangkan

-I.A /6/10/2012/
-----------------------------------------------------------------
perjalanan

disebuah perjalanan
aku hanya berdialog dengan sepi
karna siapa lagi 
yang abadi
selain dirimu sendiri

-I.A /08/10/2012-

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Puisi 

tiga hari yang lalu, disebuah acara baca puisi pinggir kota, suasana ganji. aku dan beberapa kawanku meratapi sesuatu yang kami tak tahu. bukan, bukan tentang anak-anak pesisir yang selalu kecewa saat tau kami tak membawa cukup banyak kuas. tapi seperti merindukan sesuatu yang pernah kami himpun bersama. kami meratapi suara biola yang sendu malam itu, tapi kami tak tau, untuk apa kami meratapi sebuah lagu. dan air mata pun menolak keluar. atas nama keganjilan akupun muntah, dan selanjutnya terhanyut. apakah puisi hanya mampu mempertegas keganjilan? hingga hari ini, aku tak tau itu..

-IA- oktober

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar