Sabtu, 06 Oktober 2012

KEMATIAN

pramodya mati
dan dikubur dengan mereka yang percaya

ia diiringi sebuah lagu yang mengambang
Darah Juang

dan mahasiswa larut
mengingat aksi yang mungkin sejajar dengan puisi

dan nada-nada terlupakan

nanti,
saat aku mati
biarkan sang pagi bernyanyi
biarkan..biarkan..
jangan kau usik pagi
dengan sesuatu yang aku tak mengerti
antarlah aku dengan puisi
dan benyanyilah agar kalian mengerti
bahwa kematian
melebur tanya
menjadi sebuah pesta doa-doa

ia mempertemukan
nyanyian sumbang kehidupan
dengan irama-irama keabadian
melebur dalam satu tarian panjang pada sebuah festival
bernyanyi dan menghentakan kaki
menarilah, untuk merayakan
sebuah kata yang akan berhasil aku pahami nanti: KEHIDUPAN.

-IA, jogja ketika kopi tumpah dan gelas pecah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar