Selasa, 02 Oktober 2012

Sebuah Cerita

tiga kali aku mencoba
membuat sebuah prosa
tentang budaya
tiga kali pula, prosa tak kunjung hadir
ia tersesatdi sebuah euforia besar-besaran
"buah hasil kebebasan coca-cola dan aqua"
itu kata seorang penyair
dua hari yang lalu.

penyair itu, sembari melemparkan botol-botol plastik ke muka pemirsa
ia berteriak
"budaya! budaya! kau lari kemana?"
"indonesia! indonesia! kau sembunyi dimana?"
"aku tak mengenal engkau, wahai indonesia"
"aku tersesat disebuah pabrik besar bernama, Pt. Indonesia!"
dan tak ada jawaban setelah itu..
walaupun ia berteriak
di sudut-sudut kota
barangkali budaya telah tuli
termakan kegalauan arak-arak mahal

lalu aku menyerah
karna tiba-tiba eyang semar muncul dan berkata
"budaya terlalu luas untuk diterjemahkan!"
dan akupun gagal membuat prosa tentang budaya
akupun mencoba membuat cerita tentang indonesia

aku cari sang indonesia ke selatan
dan ternyata yang kutemukan australia
aku kebarat, ternyata hanya ada amerika
aku ke utara, ternyata cuma cina, india, dan saudi arabia
aku ke timur, dan ternyata
aku tak menemukannya juga..

oh dimana kau indonesia?
aku mencoba mampir ke sekelompok
mahasiswa yang sedang asyik berdiskusi
aku bertanya, "bagaimana cara menemukan indonesia?"
dengan semangat mahasiswa itu menjawab,
"cintailah produk-produk indonesia! pakailah produk-produk indonesia..."
tapi tiba-tiba, petruk datang, jalan sempoyongan, muncul begitu saja, mirip eyang semar, iapun ikut berkata-kata
"ngomong opo tho koe? pakailah produk-produk indonesia?! lha agama yang kamu pakai semua itu kan agama hasil impor luar negeri?! iki yen eyang sabdopalon kalihan eyang noyogenggong nganti krungu bakal ngguyu kemekelen nganti ambyar!"
dan ia pun pergi setelah itu
mahasiswa itupun pergi membubarkan diri
aku diam
menihilkan suara
karna takut digebuki dan
diteriaki kafir, atau JIL..haha
apapula itu jil, pil nil, til...ahhh

ah,mungkin indonesia
hanyalah berisi sekumpulan tukang pentung
beda sedikit pentung
lain dari yang lain pentung!
mlenceng sedikit pentung!
owalah...
jangan-jangan, nanti aku juga bakal kena pentung?!
ambyar!

aku tidak bisa seperti al-hallaj
yang sebelum dipancung berkata:
"Tuhan, mereka semua berkumpul untuk membunuhku dalam semangat membela agamaMu dan ingin mencapai ridhaMu, maka dari itu ampunilah mereka Tuhan, Kasihanilah mereka.."
aku tak bisa sepertimu wahai al-hallaj

seandainya saja aku memang bakal mati dipentung
aku akan berkata
"Tuhan, pie iki? wajahku iku mpun ambyar Gusti, kok malah digawe tambah ambyar...pie thoo?"
hahaha dan Tuhan hanya akan menjawab
"nananina" seperti yang dikatan seorang penyair gila yang berbicara tentang percakapan adam dan hawa, kala itu, dijogja.

hah..aku tak mampu berprosa tentang indonesia
karna akupun tak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu
katna akupun tak yakin bahwa kamu masih percaya bahwa ada satu negara yang benar-benar bernegara, yang bernama indonesia

karna kekerasan tak akan puitis
dan kebingungan hanya akan
menghasilkan lagu-lagu sendu
tersudut dalam ruang galau tanpa makna

aku menyerah..
puisiku bukanlah sabda yang akan membuat anak muda
kembali menikmati lakon bharatayudha

orang-orang terlanjur sakit dan takut
PARANOID
terinfeksi imajinasi pemilik modal
karna apalagi yang lebih menakutkan selain pasar televisi?

budayapun bungkam
dan indonesia hingga kini tak menuturkan kepadaku
betapa hebatnya ia dahulu
betapa kisah heroik tak kembali terucap untuk sebuah optimisme kekal
siapa yang mengerti benar siapa ajisaka?
siapa yang mengerti benar tentang perjalanan amongraga?
siapa yang tahu nama kakak dari kartini?yang lebih sakti dari surat-surat adiknya...

budaya bungkam
dan aku terpaksa berhenti bicara\karna cerita sudah habis
dan legenda hanya mati sia-sia
terkubur dalam konspirasi mitos
dan membusuk dalam perangkap dongeng-dongeng yang buruk
ah..kau pasti terlanjur bosan!

-IA-
jogja,setelah harga arak lokal mencapai duabelas ribu rupiah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar