Selasa, 16 Oktober 2012

Bahagia

malam sudah lewat. dan aku bangun terlalu pagi untuk bercerita kepadamu.
hujan turun begitu sempurna malam ini. hampirtanpa cacat. hari ini aku menjadi ringan. bahagia. 

aku melihat beberapa orang tersenyum dan tertawa setelah melihat bu sumirah. yng tetap bernyanya-meski bapak dan ibunya sudah mati,meski ia belum makan sejak pagi,meski a datang dari gunung kidul yang jauh tanpa alas kaki-busumirah tak memberikan ruang untuk mengeluh didepan banyak orang. ia bernynyi dengan semangat.tanpa harus hafal kunci untuk bermain ukulele ia gerakan ujung kakinya mengikuti iramanya sendiri. ia larut dalam seuasana kekeluargaan. entah dimana yang salah disini. kami ikut tertawa. ikut bahagia. mendengar bu sumirah diatas panggung. tanpa kesedihan ia bernynyi dan memetik ukulele sesuka hati. aku yakin bu sumirah juga bahagia. terlebih kami, kami terlampau larut melihat ia mau bergabung kepada kami.

lantas kebahagian dengan mudah datang malam itu. tanpa menunggu dipanggil dan dicari. apakah semudah itu kita mendapatkan rasa bahagia?datang seperti angin. begituringan seperti debu.
kebahagiaan tak selamanya melupakan rasa haru. kadang ia adalah manifestasi dari kesedihan itu sendiri.

 
aku bertemu bnyak hal hari itu. seorang kawan dari kota yang sama. kami tak saling kenal. tapi kami mencoba saling mengenal waktu itu. ia bercerita tentang desa dan mindset orang-orang dikampungnya. ia bercerita banya hal. dan aku duduk mendengarkannya. mungkin beginilah ceritanya:

ia seorang barista. dengan tattoo di lengan kiri, pierching dan rambut gondrong yang diikat. bicaranya ramah,meredamkan bentuknnya yang dianggap mengganggu kenyaman sekitar desa. ia bercerita tentang konflik yang nyata. yang masih dengan sangat bodoh dipelihara. tentang kepemimpinan.

didesanya,mayoritasadalah muslim. dan beberapa orang disana memeluk nasrani. saat itu ia menceritakan pemilihan kepala desa. sebuah partai demokrasi untuk orang-orang yang tak mampu heboh ditelevisi. dan ia bersikeras memilih seorang nasrani, yang baik dan bijak katanya. dan seluruh kampung geger. semua menghampiri rumahnya berteriak dan mengepalkan tangan. temanku keluar. orang semakin ribut. ia bilang ada apa ini. orang-orang menjawab dengan tak karuan. salah satu dari gerombolan itu berkata bahwa iakafir,tak mendukung pemimpn yang seiman. temanku yang baru aku kenal beberapa menit itu masuk kembali kedalam rumah. ambil baju. lalu keluar. 

kau pasti akan menganggap ia akan menyelesaikan masalah. berdiskusi dengan banyak orang itu. tapi,bukan itu yang ia lakukan. ia keluar beserta tas punggung yang tampak apdat. ia merantau. dikota besar. pergi meninggalkan orang-orang desa dan mindsetnya yang tak sejalan.

di perjalanan ia menangisi kampungnya. tempat ia mulai petama menginjak tanah dan tempat ia bercita-cita untuk mati. ia berkata bahwa berulang kali ia disepelkan. dicap sebagai preman karna sebuah tattoo yang masih tetap tampak meski kaos sudah dibuat besar. dan ia tak mampu menahannya lagi saat ia dicap kafir gara-gara ia memilih tuan dari ujung gang. yang setiap minggu kegereja. yang setiap imlek mebagikan kua ranjang dan amplop merah. yang lebih ramah dari siapapun disana. termasuk orangtuanya yang mulai dingin sejak ia hidup dengan prinsipnya.

ia menangisi orang-orang kamoung yang semasa kecil menjadi teman-temannya. ia heran mengapa mereka harus begitu mengkotak-kotakan keadaan. ia tahu benar bahwa sebagian calon kepala desa waktu itu memang banyak yang muslim, tapi ia tau bahwa kinerja mereka tak kompeten. salah satu diantara mereka malah p[ernah tertangkap sebuah sekandal. kini orang itu malah menampakan fotonya dengan peci dan senyum hasil rekayasa penata model fotografer. ia bilang,bukan agamanya yang jelak. ia tak mengaitkan agama sama sekali disitu. ia dengan semangat dan menggebrakan meja didepanku berkata bahwa kita seharusnya tak terkotak-kotakan oleh banyak hal. agama memili tempat sendiri saat kita berbicara tentang demokrasi,ia bilang seperti itu. dan orang-orang kampung ini begitu sadisnya menolak pengabdian seorang nasrani yang mencoba menjadi indonesia. ia berkata ini bukan masalah siapa muslim dan siapa nasrani. ini bukan masalah siapa yang melarangku tatto atau masabodoh dengan tattoo ku. bukan,bukan itu. air mukanya berubah saat itu. ia mengharapkan indonesia yang lebih humanis dan plural. yang mau bersama-sama duduk sejajar memikirkan banyak masalah yang sama,tanpa membawa privasi-privasi individu. tanpa membawa ruang agama dan ruang ketuhanan. kemudian ia membuang muka. menyalakan rokok dan memulai basa-basi yang lain.


aku mengambil nafas dalam. berharap ia mau pulang dan bertemu orang-orang kampunnya. berharap ia mau memahami mereka lebih-lebih. tapi aku bukan dia,bukan juga orang-orang kampung itu. ia bilang aku sepertinya berada disebuah kasta yang berbeda dengannya.

aku tersenyum dan mengelus dada.

bisakah manusia bersama-sama menghimpun sebuah rasa kebahgiaan?bisakah mereka melupakan kota-kotak yang ia bawa?melupakan jejak-jejak yang dibawa sejak lahir?melupakan kasta-kasta?untuk menjadi bahagia?untuk setidaknyaseperti bu sumirah yang masabodoh dengan orang-orang didepannya, asal ia bisa bernyanyi dan orang itu tertawa melihat tingkahnya?mungkin disini kita harus belajar kepada bu sumirah. yang benar-benar masabodoh dengan banyak hal. asal kamu terhibur,ia pasti tertawa. dan sat kau tertawa kau akan memberikan keping-keping rupiahmu. dan ia tambah bahagia. lalu meneruskan menyanyi dan mungkin kamu akan melihanya sedikit menari. bisakah bahagia selalu muncul sesedaerhana itu?karna temanku mencari kebahagiaan itu dikota orang. karna temanku sedih orang-orang kampungnya tampak rasial dengan hal agama. karna temanku menganggap aku dari kasta yang berbeda. karna temanku...mungkin belum melihat bu sumirah bernyanyi,yang tanpa harus bisa memainkan ukulele,ia memetik benda kecil itu,menganggukan kepala,menyanyi dan menghentakan kaki. bu sumirah yang sejak pagi belum makan itu tampk selalu bahagia, dan kita harus banyak belajar dari dia...mungkin.

-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar