Minggu, 07 Oktober 2012

Di sebuah Jalan Pulang

sebuah cerita tak selamanya menyimpan sebuah petuah. nasihat hidup yang terselubung.

jam lima pagi, aku pulang dari kota yang pura-pura tenang, kota yang ganjil dan mengambang. tak pasti. kota salatiga.

menuju jogjakarta melewati daerah salib puith kemudian menuju kopeng yang dingin. dingin dalama arti sebenarnya. sendirian, menatap gunung yang tampak samar-samar. kabut dan gelap yang tanggung selalu mengingatkanku dengan satu hal yang kadang kita lupa, suasana pasar saat pagi. saat pedagang sayur, dan bermacam daging potong mulai menata lapak dan membersihkan dagangannya. mengipasi ikan-ikan yang terbujur kaku agar lalat tak menaruh bibit telurnya di tubuh sang ikan. karna tak ada harga untuk ikan dengan belatung yang menggeliat di mata ikan yang terlampau amis. aku tak tau akan bercerita tentang apa, karna sisa-sisa dari perjalanan tadi pagi hanyalah rasa dingin dan tulang yang terasa kaku.

saat kau melewati salib putih dini hari, kau akan mendapatkan gambaran perkampungan nasrani yang teduh. dengan hotel-hotel kecil, dan sekolah-sekolah teologi kau merasa, sedang tidak ada di indonesia. karna mata kita selalu dihadapkan dengan masjid dan plang-plang sekolah berwarna hijau atau biru. bukan, bukannya aku bosan melihat itu, aku tidak bermaksud berkata ada yang lebih baik dari masa sekarang. aku hanya merasa tak seperti biasanya, ganjil.

aku diam dan menghirup nafas dalam-dalam. menikmati matahari yang terlanjur dicuri awan mendung. awan kali ini hanya menawarkan warna kelabu. kusam dan penuh duka.

salib putih sudah dilewati, dan sebuah perkampungan yang "Seperti bukan kampung biasanya" itu menjadi kenangan. membentuk sebuah pertanyaan. apakah mayoritas selalu mendominasi? tidak hanya di indonesia. seperti halnya di amerika, saat kau akan sangat jarang menemui mushola atau sekolah dengan plang warna hijau atau biru. betapa mayoritas selalu tak mau rendah hati untuk mencoba tak mendominasi apapun di belahan dunia manapun. aku rasa, banyak hal yang tak bisa dijelaskan. termasuk adanya kemungkinan dominasi anomali.

sampailah aku pada titik dingin yang menggemaskan. di sebuah dataran tinggi bernama kopeng, dimana kau akan menemukan suasana pasar yang sedang berbenah. sayur-sayur yang diletakan dilapak-lapak sederhana. buah-buahan besar seperti semangka tak mendapat alas, tergeletak dijalan begitu saja. daging-daging digantung, dan ikan (entah bagaimana ada yang menjual ikan didaerah pegunungan. mungknkah itu ikan air tawar?dulu kakek kita yang pergi berkebun di gunung menukar kan sayur untuk mendapat ikan laut dari kakek kita yang pergi berlaut.hah, sudahlah..) ikan diletakan dalam ember putih yang berair keruh. sisa darah dan lendir-lendir kematian. di kopeng kau akan menjumpai kebun yang tak habis-habis. jalan panjang berkelok dan gerimis membuatku berhenti pada sebuah warung makan yang sepertinya baru saja buka.

seorang bapak yang sedang menanti teh hangat sama sepetiku mengambil rokoknya dan kita saling menyapa, dan basa-basipun terjadi. bapak itu berhenti saat aku menyebutkan nama kota pekalongan. ia mulai mengambil nafas panjang.

"tahukah kamu dengan sejarah haij misbach? orang kiri yang dibuang di pekalongan?"

aku belum menangkap kenapa dia  bertanya hal itu kepadaku. mungkin ia kira aku seorang aktivis atau mahasiswa yang mengebu-gebu dan gemar beorasi. kala itu aku memakai baju bergambar penulis tetralogi buru, dan di tas, pin merah bergambar seorang penyair yang hilang cukup menyita perhatian. aku sempat berpikir bahwa bapak ini salah dan terlalu cepat menilai orang. bapak terlalu sering melihat orang dari luarnya, aku hanya pengagum tokoh-tokoh itu pak. aku bukan mahasiswa yang gemar beorasi atau seseorang yang menulis artikel di koran untuk mengadukan argumen-argumen ideologisnya. aku hanya suka dengan cara mereka hidup pak, apakah aku salah?apakah aku harus mengikuti jejak langkah mereka?membuntuti dan menjadi followers yang buta?apakah bapak pikir seseorang tak boleh memiliki cara nya sendiri dalam berjalan?ah bapak terlalu cepat menyimpulkan bahwa aku tau banyak hal. tapi..aku segan dan kedinginan, aku tak memberi jawaban kepada bapak itu.

aku mencoba bersikap seperti bapak itu yang sejak awal menelanjangi pakaianku. menelanjangi barangg bawaanku. aku menatapnya dengan terperinci. dari ujung kaki tak ada yang salah, ia tak memakai boot, ia tak memakai sepatu kulit atau sepatu aneh yang biasa dipakai para intel dan polisi. disamping tempat duduknya ia hanya membawa karung yang kosong dan terlipat dan sebuah arit kotor, tampaknya seperti basah. ia tak memakai caping, ia hanya memakai kaos dengan tulis petani bersatu. aku lupa detailnya, yang pasti mungkin bapak itu mungkin mengerti tentang banyak hal, termasuk petani dan perlawanan.

"siapa haji misbach pak?"

dia diam, membuang muka seakan berkata betapa tololnya kamu, seorang mahasiswa tak mengerti siapa haji misbach. seorang islam yang komunis, aku tau itu pak. tapi aku ingin mendengar cerita bapak.

"haji misbach adalah tokoh yang gigih berjuang membela kaum tertindas. ia seorang haji yang gemar mengganyang kapitalis. jihadnya adalah melawan kapitalis. ia bergabung dengan partai komunis berlambang palu dan arit. ia tak bergabung dengan bintang dan bulan sabit. ia seorang muslim, tapi komunis juga. tapi komus sama atheis itu kan beda, iya nggak si mas?"

aku tersenyum. bapak ini pintar, mungkinkah ongkos berkebun bapak habis untuk membeli buku?

"apakah di pekalongan ada pergerakan yang memperjuangkan kaum tertindas mas?mungkin saja haji misbach membuat jaringan disana yang sampai saat ini masih bergerilya dari generasi ke generasi berikutnya. adakah anak-anak muda disana yang gencar melawan kapitalis mas?"

kalo yang bapak maksud adalah sekumpulan pemuda yang ortodok, yang tanpa ampun mengganyang hal-hal yang "Tampak" erotis. ada pak, tidak banyak. mereka suka berteriak dan memakai seragam yang sama. mengidolakan gaya hidup negeri yang nun jauh disana. namun aku tak berkata apa-apa kepada bapak itu, aku diam. diselimuti dingin yang tak kunjung lari.

"haji misbach itu mas, muslim (aku tau itu pak, karna siapa lagi yang menyandang gelar haji selain umat muslim), agamanya kuat saya rasa ia pasti membuat jaringan di pekalongan juga mas. dua tiga tahun bukan waktu yang sulit untuk membuat jaringan, meskipun didalam tahanan. pasti ada orang yang simpati dan mengikuti jejaknya, tapi kenapa mas tidak tau?"

saya meremas erat gelas teh yang hangat, berharap dingin lari dan tak kembali. saya pun tersnyum kepada bapak itu. bingung

"saya ini ndak tau apa-apa pak. mungkin ada pak, tapi memang belum banyak yang keluar untuk menunjukan eksistensinya. karna pastilah ada orang yang bersimpati kepada siapapun yang memperjuangkan rakyat kecil, meskipun cuma sekedar janji" aku tersenyum karna hanya ngomong nglantur.

bapak ini diam. menatapku
"ya banyak orang yang simpati dengan orang yang sepertinya (ia menekankan intonasinya pada kata ini) memperjuangkan rakyat lemah. banyak yang pura-pura membela petani untuk mendapat simpati, mendapat suara untuk kontes jabatan. rakyat sering terperdaya"

aku hanya menganggukan kepala. agar bapak itu tak menganggapku menyepelekannya.

"akeh wong kang ketipu, kabeh iku mergone tipi mas. beritane yo ngapusi. filme yo mung gawe wedi. nggawe wateke rakyat tumpul. bujel lan ora wani golek bener kang sejati. koyo wingi pas telongpuluh sepetember. 30 september kemarin semua mengibarkan bendera setengah tiang. agar semua tetap terperdaya dan tertipu. akeh konco-konco sing mbiyen keluargane pki dadi ra iso kerjo. padahal agamane wes islam, sholate yo wes jamaah, tapi bapake mbiyen ik mantan pki, eh ra iso kerjo. jare pki iku koyo setan, seneng mangan daging manungso, padahal setan iku yo ora ketok. setan itu nggak kelihatan, menghisap darah rakyat namun kita tak tau siapa pelakunya. setan sekarang iku nyamare dadi pejabat, nganggo dasi, nganggo peci. pokoke akeh informasi sing asline mleset mas. becik ketitik olo ketoro, ngko bakal ono jamane kawulo ngerti sopo-sopo sing setan lan sopo-sopo sing konco"

bapak ini terlalu banyak bicara. ia berbicara banyak hal di sebuah warung umum, ia seperti tak mau tau jika tiba-tiba ada intel yang datang menyamar untuk mengorek informasi dari agenda forum petani. ah, tapi agaknya bapak ini tau bahwa intel indonesia terlalu pekok-pekok dan paling tak bisa menyamar. rambut gondrong, sepatu kulit jaket kulit dan jelana jeans. memakai kacamata hitam norak. mereka sebut itu pakaian preman. hahaha preman jaman sekarang saja tak suka jika gayanya disamakan intel yang gayanya payah.

pak sudah jangan banyak bicara. bapak harus bekerja. saya tak tau apa-apa pak. namun sekali lagi aku bungkam, karna aku memang benar-benar tak mengerti mengapa bapak ini bercerita tentang banyak hal.

"bukannya bapak berkata pki benar dan harus dibangkitkan lagi. bapak hanya kasihan melihat orang-orang yang sampai mengasingkan diri karna urip ning kota iku sulit sekali kalo kita eks-pki. padahal lebih banyak eks-koruptor yang lebih nggilani. pemerintah iku koyone wedinan. wedi banget yen ngadepi wong-wong kang njaluk keadilan. wedi marang liyan." bapak itu menambahkan dengan asap rokok yang tak berhenti keluar.

aku tersenyum. bapak ini pintar dan mengerti banyak hal..

"nggih pun mas kalo mas nggak mengerti. tapi saya tau mas ini mengerti, walalupun mungkin cuma sedikit. dari tadi mas senyam-senyum tok saya bingung mau ngomongapa. mas nggak kenal haji misbach ndak apa-apa, tapi kalo mas kenal "pki yang jahat" saya minta mas coba kaji ulang, apa benar pki dan gerwani gemar mengiris kontol para jendral. ada banyak hal yang disembunyikan mas dan jangan mudah percaya, termasuk karo aku iki mas, ojo percoyo wae, cobo goleki dewe, soale kabeh iku mung perang kekuasaan mas. mbiyen taun enem-limo enem-enem ribuan pki dibantai, sekarang semua heboh dan lupa, semua terfokus kepada aksi penculikan jendral oleh pki. dewe iki butuh keadilan informasi. pki salah, negoro juga salah. kabeh podo rebut kuwasa. hanacaraka datasawala padhajayanya magabathanga"

aku tersenyum. menunjukan bahwa aku simpati terhadap arguman bapak ini. bapak yang didepanku. yang sedang aku kira-kira bahwa dia adalah aktivis kaum tani.

dia mengambil uang dari kantongnya dan ia taruh di meja. uang yang tak lagi bagus. banyak noda tanah. banyak bekas yang dihasilkan dari ratusan tangan. uang itu mungkin sudah berpindah-pindah. seperti halnya kaki bapak itu. mungkin ia sudah berjalan di ladang yang basah dan rumput yang berembun. ia pun langsung meminum teh hangatnya. sembari menelan air yang berjalan pelan, ia matikan rokoknya.

"yu, iki duite ning kene yo yu, turnuwun" ia berdiri dan mebawa serta air yang ia gulungkan dengan karung kosong.

ia menolehku, tersenyum
"monggo mas.."
"ohnggih..monggo pak" aku tersenyum.

seperti kecewa bahwa percakapan mengambang tak jelas kemana akhirnya. seperti sedang ingin mendengarkan sebuah cerita yang biasa diceritakan simbah dulu. simbah, dulu ia sering bercerita sambil menynyikn lagu-lagu jawa. sedang apa simbah?apakah simbah ikut mendengar percakapan bapak tadi?ah simbah terlau asik bermain bersama bidadari..

ibu itu datang, ia menatapku. matanya seperti mengajaku untuk melihat tempat yang diduduiki bapak tadi. ia memonyongkan bibirnya pada tempat itu dan mengangkat tangan kanannya. ia miringkan jari telunjuknya tepat didepn jidatnya yang puith bersih.sebuah simbol. sebuah kode.

aku menarik nafas panjang.
dan tersenyum kepada ibu itu. akupun pergi setelah membayar dan berbasa-basi untuk sekedar tanya jalan ke arah jogja. ia bilang , aku hanya harus mengikuti jalan ini dan menuju arha magelang. akupun pergi.


kini aku kembali di sebuah dingin.
menatap gunung-gunung yang diselimuti kabut teduh. di temani gerimis kecil. daun-daun dan jalanan tampak basah dan begitu ramah. aku ingat tentang merbabu dan bromo yang riang mengajaku menikmati matahari. namun matahari tak kunjung sempurna untuk berkolaborasi dengan awan pagi. ia hnya menghasilkan segurat warna oranye,sedikit kecewa aku terus berjalan pulang.pagi ini awan begitu kelabu, namun gunung-gunung tampak begitu jelas dan seperti memanggil untuk didaki. hari ini apalagi yang lebih indah selain menikmati pagi di samping gunung-gunung yang ramah?

-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar