Rabu, 18 April 2012

Asu Nesu Nesu Karo Asu

seorang teman pernah bertanya kepadaku,
"apakah kau benci militer begitu dalam? sampai kau pun enggan mencari tahu tentang apa-apa yang mereka lakukan?"

aku diam, dan aku menarik nafas panjang, tanda kata-kata akan keluar mencari cahaya
"tidak kawanku, aku tidak pernah membenci mereka. para tentara adalah satria. aku percaya itu. polisi, tentara, pemadam kebakaran, dan semua penjaga keamanan. dari mulai yang mengangkat senjata untuk stabilitas negara di perbatasan, sampai dengan mereka yang duduk dengan sabar, menarik garis keras wajahnya sebagai satpam (yang terkadang kau akan menemukan senyum mereka di bank). tapi seberapa banyak di negeri kita yang mengemban kesatriaanya dengan tulus? memang mungkin banyak yang kita tidak tahu namun kita merasa cukup tahu. kita tarik garis lurus, dipertebal, atau bahkan kita tumpuk dengan "stabilo". kita menarik opini sesuka hati setiap hari. tapi yakinlah bahwa aku tidak benci mereka, para satria. aku hanya tidak suka dengan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh sebagian dari golongan militer itu. memang tak ada bedanya sipil dengan militer, malah kau akan kaget jika kekerasan yang dilakukan sipil ternyata lebih banyak. tapi, ketika yang memiliki kuasa, seragam, dan senjata itu melakukan hal sewenang-wenang, membunuh sesuka hati, memperkosa hak-hak, merampas sana-sini itu sangat menyaktkan buatku. sepertinya sangat tidak adil. siapapun. tidak hanya tentara kawan. semua yang memakai senjata untuk melakukan hal seenaknya sendiri itu pekok! semua, sekali lagi s-e-m-u-a. tapi kau tahu sendiri siapa yang memakai semua itu seragam, kuasa, dan senjata. tolong mengerti kawan, aku tak membenci mereka. kadang aku hanya tak suka dengan cara-cara yang dilakukanya"

ia tertawa.
"lho memang yang caranya tidak sesuai itu hanya militer? kamu, aku dan semua orang yang gembar-gembor anti kekerasanpun kadang caranya tidak sesuai. aku setuju dengan pandanganmu kawan, tapi banyak diluar sana yang bengak-bengok tapi motone picek! "

aku merasa ditelanjangi detik itu juga.
"wah, hahaha kenyataan yang ada memang koyo' ngono. tapi..entahlah, aku masih tak bisa berlaku adil buat mereka yang memegang kuasa, seragam, dan senjata. aku terlanjur tak suka dengan cara-cara yang dilakukanya. tapi aku tak membenci mereka kawan, sungguh. aku hanya membenci pilihan yang dilakukan. aku merasa setiap orang, tidak hanya militer, pasti punya pilihan. dan kenapa harus menumpahkan darah jika ada pilihan yang lain?aku tak tau kawan, aku hanya tak suka pilihan-pilihan mereka"

ia tersenyum.
"kamu ini sepertinya belum bisa menepatkan sesuatu pada porsinya. tugas mereka yang kamu sebut punya kuasa-seragam-senjata itu memang begitu. tugasnya untuk menjaga. apapun yang dihadipnya ia harus menjaga. kalo perlu membunuh, bantai hingga bersih, agar ia bisa menjaga apa yang ia jaga. seperti negara-agama-dan lain sebagainya kawan. memang kasus papua mungkin gawe koe pingin misuhi tentara, nek tentara sing mateni sak penake dewe kui pancen asu-asu. tapi jangan kamu ambil garis, pertebal atau "stabilo". ada tentara yang rela mengorbankan nyawanya kawan. walaupuns sedikit. tapi aku yakin banyak tentara yang mati itu karna bukan pilihanya, kalo ndak ketembak karna apes ya ceroboh. tentara yang mati karna pertimbanganya sendiri itu satria, mung memang sitihik. hahaha"

aku ikut tertawa.
"jadi mungkin kita harus menempatkan semua pada porsinya? susu sapi pada anak sapi. susu kambing pada anak kambing?" aku menggoda argumenya

ia tertawa keras.
"susu sapi yo saiki wis dicolong menungso dab. ora ngerti po koe? hahaha intinya seperti ini, aku setuju dengan alasanmu membenci semua kekuasaan yang sewenang wenang..."

"tapi jangan ditarik garis, dipertebal dan di stabilo?hahaha"
aku memotongnya

ia tertawa lagi.
"haha asu koe iki cen. sek tho. kamu harus lihat lebih luas, bahwa tidak hanya dari militer yang begitu. yang pakai baju keagamaan juga banyak yang sewenang-wenang. menjadi vigilante yang ganas"

"tapi baju keagamaan itu kan seragam, dengan berseragam mungkin mereka merasa memiliki hak untuk melindungi agamanya. lalu dihantam rata kanan-kiri yang tak seiman. pekok tenan tho?" aku memotong

"hahahaha nah kui wis ngerti. jadi banyak kawan yang masih melakukan tindakan semaunya sendiri setelah mendapat kuasa-seragam-dan senjata. tapi ini tak hanya militer. semua orang seperti itu jika merasa diinjak. kesalahan mereka hanya tak mau mencari pilihan lain. mung senggol bacok tok kelar. semoga dengan kita sadar bahwa masih banyak orang dengan kuasa-seragam dan senjat yang pekok-pekok itu kita bisa semakin bisa memilihi tindakan. ojo melu pekok"

aku menyimaknya. ia memberiku mata pelajaran kasih sayang. pelajaran yang tak ada di sekolah-sekolahan.
"kalau kamu membenci kesewenang-wenangan dengan sewenang-wenang pula, apa bedanya kamu dari orang-orang pekok itu?kamu punya pilihan untuk menyelesaikan sesuatu. selalu ada pilihan. hanya kita kadang merasa mateni bajingan kui cara satu-satunya. lhah opo ra podo bajingane nek ngono?"

"walaupun mungkin kelihatan mustahil cobalah. lawan dengan pilihan yang terbaik bagi semua pihak, ojo mung terbaik buat kamu."

"kamu selalu memiliki pilihan. mau jadi bajingan tau bujangan, hahaha bujangan itu santai, tapi nek bajingan grusah grusuh...hahaha mungkin maksud yang lebih tepat begini kawan, kita, menungso, selalu punya pilihan dalam menghadapi sesuatu. ojo mung bengok-bengo tapi mripate micek terus. kalo mau teriak pakai tiriaklah, tapi ndak usah kamu teriaki orang yang masih nangis. kalau lihat pencuri ya kamu teriakin, kamu kejar kamu tangkep, kasih ke polisi, ra usah ndadak dibakar. nah sesuke koe ra usah melu maling. nek koe maling juga ra ono bedone. bedone mung maling itu ketahuan dan kamu tidak, maka matimupun lebh nista darinya karna kamu membawa kebohongan dalam kubur kawan hahaha wes koyo kyai rung aku?hahaha"

aku tertawa meliha ia berbicara panjang lebar. dengan muaka merah. ia pun tertawa
"oalah...dewe iki lucu yo. kok iso-isone ngomong ngene. wong padahal dewe iki podo pekok'e. podo-podo asune kok sok-sok an dadi kyai. jiaan edaaaan"

temanku tak tahan juga dengan obrolan ini. dan tertawa lepas
"haha wes dadi asu rak masalah. sing penting ora nyokoti liyane. dewe iki gaweane mung ngrusak awake dewe kok. hahaha duh Gusti ampuuun gusti"

dan setelah itu aku minggat dari muka kawanku.
dan kencing disebuah tiang listrik. dengan kaki diangkat satu .aku tersenyum sendiri
wah, aku cen asu! asu gendeng!
hahahaha

-IA-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar