Kamis, 19 April 2012

Mata Kuliah Kepala


Dalam sebuah pagi yang sunyi, seekor jangkrik berkata:
“ketidakpedulianmu itu yang membuat kamu tak bisa melihat kami yang kecil..kau mengabaikan suara nyaring kami, mana tahu kau siapa jantan - siapa betina? Jangan anggap sepele, karna kami pula lah yang membuat malam mu menjadi merdu”

Aku pun tersentak, jangkrik yang bersuara kita kembali menelusuri ilalang.
-IA

Kadang kita tak tahu apa fungsi anatomi kepala. Kadang kita lupa, tepatnya, bukan tak tahu. Karna sebagian dari kita ini sudah tahu banyak hal, namun melupakanya begitu saja.

Kawan,kau ingat tentang jamaah sunrise?
Ketika itu di pos dua dalam perjalanan menuju puncak merbabu. aku bertemu salah satu dari mereka. Aku ajak dia dekat tendaku yang pintunnya robek ditusuk teman waktu badai datang. Kami berdua menikmati teh hangat, pada saat matahari tenggelam. Ingat mereka tak menolak matahari tenggelam. Kita berdua melihat segerombolan monyet di atas pohon. Ada satu yang besar, diam di pohon yang batangnya agak putih dan daunya jarang. Monyet itu diam tanpa gerak. Melihat awan yang berwarna oren kala itu. oren atau orange? Aku pernah ditegur dosen karna menuliskan kata “oren” untuk mendefinisikan warna kuning yang bertemu merah, tapi bunyi dan kata di indonesia memang selalu di permasalahkan. Apakah kau tahu nama anak calon arang yang sebenarnya? Manggali atau manjali?sudah lah, kenapa kita membahas kata-kata yang seharusnya merdeka?

Monyet itu, yang diam di atas pohon berbatang hampir putih dan jarang daun sepetinya menikmati fungsi mata. ia menikmati tatanan warna yang tepat di langit.  Tuhan maha Designer, tahukah kau sifat Tuhan yang satu itu? Aku berpikir sejenak tentang fungsi mata seorang kera. Apakah keindahan dimatanya sama? apakah keindahan visual tersebut mampu ia kirimkan ke otak untuk direfleksikan menjadi laku bersyukur? Kita tak tahu kera, dan parahnya kita anggap kera ini sebagai saudara tua kita. Maaf, salah, saudara tua sipil adalah militer. Itu kata tetangga saya yang kerja di kodim. Seraya menepuk bahuku, biasanya ia memberi nasihat seperti “jadilah penerus negara yang baik” dan aku akan jawab “nggih om”.

Monyet. Sebagian dari kita percaya bahwa monyet memiliki kecerdasan yang mendekati kecerdasan yang sama dengan manusia. (saranku untuk monyet, tetaplah menjadi monyet, jangan kau dekati kecerdasan manusia. Manusia itu lebih rakus dari pada kalian wahai para monyet, tak usah kau meniru kami, akan repot jika kau mengikuti kecerdasan kami dengan rupa yang masih berekor dan berbulu. Manusia kebanyakan ini melihat segalanya dari fisik, hanya manusia yang masih memiliki sisi kemonyetan yang tak mempedulikan fisik..hahaha). jika monyet itu memang bisa menggunakan otaknya seoptimal manusia (ini sudut pandang manusia) apakah ia mampu menggunakan inderanya?

Suatu saat ada monyet sedang berdiri di pohon. Dibawahnya ada satu desa yang sedang dibantai oleh kekuasaan tiran. Apakah monyet akan menangis? Sepertinya tidak, karna ia tidak mengerti. lalu ada seorang manusia, yang tertawa melihat monyet di ikat dengan rantai kecil, lalu dipaksa menarik gerobak. Sesekali dicambuk. Dan tendang bertalu-talu mengiringi adegan monyet membawa gerobak. Biasanya monyet ini dipanggil sarimin. Lalu apakah manusia akan menangis? Tidak, karna manusia tidak mengerti. malah manusia memberi uang seribu kepada pencambuk monyet itu. disinilah letak “optimalisasi indera berperan”.

Mari kembali pada sore dan teh hangat yang sedang kami nikmati. Biarlah monyet menjadi apa maunya. Sore ini, orang disampingku, yang mengaku sebagai jamaah sunrise mulai membuka pertanyaan, dan seperti biasa, kretek lah yang membawa kami pada percakapan
“tahukah kau betapa sangat diperhitungkanya jumlah struktur dalam tubuh kita?”

Aku melongo, masih belum menangkap apa yang ia katakan

“contohnya apa yang ada dikepala. Sungguh. Kau harus memanfaatkannya sesuai bilangan. Yang ganjil tak perlu kau bagi kepada orang lain, jika kau bagi sesuatu yang ganjil harus hati-hati. Dan yang genap harus kau gunakan. Harus kau bagi sama rata dan jangan berat sebelah. Pahamkah kau maksudku?”

“ganjil dan genap? Pada hal apa? Gelap, aku tak tahu maksudmu” saat itu aku tak begitu peduli.

“mata, telinga, lubang hidung kita ada dalam bilangan genap. Sedangkan mulut hanya dalam bilangan ganjil. Tuhan tak sembarangan”

Ia melanjutkan

“kita memiliki dua mata, itu genap, maka gunakanlah mata kita sebaik-baiknya. Tekankan penglihatan kita agar optimal, lihat apa yang tak terlihat tapi pantas. Telinga kita, ada dua, itu genap. Maka dengarkanlah setiap keluh kesah yang lemah. Bantulah sebisamu. Percuma jika kau mendegar atau melihat tapi tak bergerak. Percuma guna dua tangan dan dua kakimu. Lalu hidung. Itu dua, dan itu genap. Hidunhmu itu, tak hanya berguna untuk mencium bau-bauan yang kasat. Tuhan itu puitis. Maka ciumlah penderitaan mereka yang membutuhkan, dan bantulah”

Takjub. Ia melanjutkan kuliah dadakan sore itu

“ dan mulut. Ganjil, satu. Hal yang ganjil, terutama satu itu sangat ampuh, tapi berbahaya. Kau bisa lihat kenapa pedang berbentuk lurus macam angka satu, karnanya pedang tak berbentuk angka delapan. Bicaralah seperlumu”

Aku memikirkan hal yang aneh tentang jaman sekarang
“lalu bagaimana dengan fungsi jari-jari. Kita sekarang mewakilkan telinga, mata, lidah dan hitung dengan fungsi jari-jari. Apakah kita bisa sesuka hati dengan jari?”

Saat ini giliran dia yang diam mendengar pertanyaanku waktu itu. aku memperjelas pertanyaanku

“kita sekarang mengenal internet, facebook, twiter dan lain sebagainya. Dan kita mengaksesnya menggunkana jemari kita. Kadang lewat tuts-tuts yang keras atau lembut. Kadang hanya dengan sentuhan touchscreen

Ia seruput tehnya, dan berkata

“tak kau pikirkah betapa hebatnya Tuhan? Ia sudah memikir tentang facebook dan hal-hal lain yang kau gunakan itu! jemari, yang pada kasus formal berjumlah sepulu (jari tangan). Itu genap. Tapi ia membawa sepuluh angka ganjil. Betapa harus hati-hatinya kita dengan sepuluh pisau kecil di ujung lengan tangan? Dengan angka sepluh kita harus ekstra hati-hati, karna kita menyangkut sebelum sampai pada sepuluh, kita memiliki lima angka ganjil. Dan hanya empat angka genap. Dibawah sepuluh terdapat 1-3-5-7-9 melawan 2-4-6-8. Dan sepuluh menyempurnakan yang genap, agar kita menyikapi yang ganjil seimbang. Betap rumitnya? Tidak. Kalian hanya perlu berimajinasi. Dan yakin bahwa setiap fungsi tubuh ini sudah digariskan, sebenarnya kamu, kalian para manusia, tak perlu repot memikirkan formasi jumlah jari, tapi apakah kalian bisa terima begitu saja jika diperintahkan untuk “hati-hati memakai seluruh tubuhmu”. Kita ini perlu berdialog agar apa yang dilempar mau kita tanam kuat”

Jancuk! Dia bisa menjawabnya juga. Aku Cuma geleng-geleng. Kera diatas pohon yang nyaris putuh dan berdaun jarang itupun Cuma garuk-garuk pantat. Lalu meloncat kepohon lain, dan pergi entah ke mana, masa bodoh.



Kita tak jeli, bahkan tak mau melihat dengan perspektif yang imbang. Kita hanya menggunakan satu mata tok. Dalam hal apapun, sepertinya kita sudah dibutakan oleh sesuatu (mungkin hantu kotak?). kita menilai yang buruk kata mereka juga buruk bagi kita. Apakah kalian pernah mengupas Tragedi 66?

Apa kalian tahu bahwa untuk menyelamatkan pancasila, para penjaga ideologi itu melakukan genosida yang sangat memilukan. Apakah kalian pernah mencoba melihat dari sudut pandang keluarga yang dibinasakan tersebut? Betapa butanya kita saat itu.

Apakah kalian pernah memikirkan kenapa rumah-rumah di porong sana tak pernah di cat baru lagi? Apakah kalian tahu bahwa jawabanya adalah keputusasaan karna lumpur yang menggila? Kesalahan sebuah perusahaan yang dianggap sebagai bencana alam , sehingga negara yang menampung seluruh biayanya. Kemana uang pemilik perusahaan itu? aku dengar pemilik perusahaan lumpur itu seperti bisa mencetak uang sendiri. Semalam ia hasilkan satu kamar uang lembaran sepuluh ribuan, itu sangat mungkin ia lakukan.

Batapa jarangnya mata kita ini digunakan, jangankan telinga atau hidung. Kita terlalu asik memakai mulut kita. Atau jari-jari kita.

Apakah kau, kawan, pernah mendengar cerita tentang anak kecil yang menyusu mayat ibunya yang mati kelaparan di daerah timur indonesia? Apakah kau pernah mencium bau bangkai, pesta mayat, di istana negara? Kita telalu asik menggunakan mulut dan jemari kita.

Sebentar, sepertinya aku juga seperti manusia-manusia korban hantu kotak itu. memang aku mendengar, aku melihat, bahkan aku mencium hal-hal ganjil. tapi aku juga terlena dengan mulut dan jari-jariku. Apakah aku sudah bergerak? Apakah aku sudah mengoptimalkan fungsi tangan-kaki, dan dompet? Hahaha sepertinya aku hanya bertugas mengganggu pikiran kalian...

Setidaknya aku tak seperti korban uya kuya
jika lihat api kalian akan tidur”

Aku masih membuka mata kawan, walaupun belum bergerak dari depan ranjang monitor yang empuk...tapi aku tak tidur ketika melihat api..
-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar