Rabu, 25 April 2012

Harapan?

pada suatu hari pak tani bercerita kepada anaknya di sebuah gubuk kecil. menjelaskan tentang harapan, tentang doa agar padi menguning tanpa dikutuk hama,




"jika awan itu tak bisa disentuh, atau diinjak seperti cerita-cerita doraemon, atau tak bisa kita genggam lalu kita masukan kedalam saku dan kembali memandanginya sebelum tidur..biarlah, biarlah aku selalu memikirkan untuk tidur diatas awan, biarkan aku selalu berusaha menangkap awan. iya, kau akan anggap itu sia-sia. tapi bagiku itu berarti."
pak tani itu membuang mukanya pada penyangga gubuk yang terbuat dari bambu di di sampingnya.


"mungkin kah harapan itu seperti awan?dari harapan lalu muncul iman dan segala optimismenya?apakah segala optimisme itu hanya mengelabuhi kita? sejenak melupakan hal-hal yang sedang terjadi? lalu semua hal menjadi semu? apakah apa yang marx katakan itu benar? apakah hidup kita hanya untuk saling membantu manusia? komunitas?"


jangan kau bayangkan anaknya adalah seorang pengembala kerbau yang memegang seruling. anak petani ini memakai jas, berdasi, kacamata, dan semua pakaian "intelktualnya".


sepertinya si anak mencoba kritis. sebelum ayahnya yang petani tua bisa mencerna pertanyaanya, ia terus menerus memutahkan kata-demi kata. lalu kata bangkitmenjelma menjadi tanya.


"apakah kita bisa berharap kepada harapan-harapan? lalu apa itu doa? dan semua hal itu?"


pak tani menarik nafas panjangnya, mencoba menarik dalam-dalam. memejamkan mata sekejap. agar marahnya redup.


"bapak tau kamu ini pinter, bapak tau le. tapi, tidak kah hidupmu terlalu kosong tanpa harapan-harapan itu? apakah kau sudah menjadi manusia yang sombong? yang menihilkan hal-hal ajaib le? ada energi besar yang menggerakan kenapa padi menjadi kuning. oke, mungkin kau akan bilang padi menguning karna usianya, karna proses biologisnya atau entahlah apa itu namanya. tapi dasar segala energi itu apa? itu lah mengapa kita berdoa le, kami ini yang beragama sedang optimis. dan itu berarti buat bapak le, mungkin kau akan anggap sia-sia. tapi nyatanya apa yang bapak lakuin ini ndak sia-sia kok. bapak mantep. dan bapak suka hehe arep opo koe?"


anak itu diam. mungkin mencari keajaiban. meraba-raba harapan yang sudah menjadi remah-remah dikakinya.
"bapak tahu kenapa saya sangat membenci lembaga? semua yang dilembagakan itu sepertinya memang musuh manusia ya pak? agama, korporasi, militerisme, kapitalisme. semua itu seperti gerombolan vampir yang mencoba menghisap darah sebanyak-banyaknya ya pak?"


bapak itu mengambil cangkulnya. ia raba kayu peganganya. ia bersihkan dengan bajunya yang sudah berwarna lumpur.
"bapak ini ndak ngerti maksud kamu. tapi apa iya agama itu musuh manusia yang sebenarnya?apa alasanmu le?"


"begini pak, konflik, penindasan atas nama agama itu sudah banyak sekali pak. agama kok menyebabkan perang, saling menjatuhkan kebenaran dalam pengertian masing-masing. yang beda dianggap musuh, sang liyan. orang-orang militan yang rela bunuh, tebas leher untuk masuk surga. untuk membela tuhannya, untuk membela agamanya. apakah mereka ini tak tahu arti agama?" 


kali ini anaknya seperti meletup-letup. pop corn sudah mulai matang.


"nah itu, mereka belum mengerti apa itu agama le, A-GAMA. mereka kira mereka ini beragama, padahal mereka ini sumber dari gama. bukan agamanya le yang salah. manusianya. mereka salah konsep. mereka pikir tuhan itu perlu dibela. nah Tuhan itu kan maha Kuat bagi bapak, untuk apa dibela. itu malah menyempitkan sifat keTuhananya. kalo kita membela berarti kita anggap Tuhan itu lemah. orang-orang yang mau gorok leher orang karna urusan agama itu pekok le. ini sudah bukan jamannya seperti itu. kalo oran-orang mau agamanya maju, bapak rasa mereka harus saling membagi kasih sayang. hahaha tapi sebentar le, kok bapak ngomong koyo ngene tho? koyo bapak paling ngerti wae, haha bapak iki yo asline ora ngerti opo-opo kok le hahaha tapi buat bapak, bergama itu harus dengan cinta iyo tho? " 


"emang opo agama bapak?" 
anak itu menggali terus. kebun sudah penuh lubang.


"hahaha agama bapak itu kasih sayang le hahahaha"


mereka berdua tertawa. tawa yang menyudahi dialog berbelit tanpa hasil. tawa yang memberi jarak dan mengisyaratkan agar mereka cukup berdiri pada persepsi masing-masing.


dan anak itu pergi dengan seikat bunga ditanganya. entah kalian mau memaknai apa.


......






pak tani dan anaknya. sebuah cerita dari dialog mimpi. sebuah kisah dari jeda mata yang terpejam dan energi yang padam.


agama. seharusnya benar-benar bisa a-gama, seharusnya benar-benar anti gama. tidak menimbulkan kerusakan. tapi kenapa agama sekarang saling melabeli yang lain itu liyan? dan yang liyan lantas menjadi musuh?


tapi aku ini ndak tahu apa-apa. apakah mereka yang menggorok sambil menyeru nama tuhan itu sebenarnya tidak bertuhan, tidak beragama? ah, aku tak tahu. aku tak tahu. akutak tahu apakah orang-orang seperti itu terjebak dengan euphoria spiritualnya sendiri.
aku tak tahu ketika pemuda anshor dengan senang hati menyembelih orang-orang pki dulu, aku tak tahu kenapa agama bisa membangkitkan benci yang sangat menjijikan. mengapa bom bisa meledak ditengah orang yang tak tahu apa-apa? adapa dengan manusia-manusia itu? adapa apa dengan kalian, mereka, aku, kamu? ada apa dengan cinta? hahaha


yang aku yakin, bukan salah agamanya. mungkin tiap individu memiliki persepsi sendiri dengan agama mereka. ya, itu pasti. 


pagi ini, sekali lagi, tulisan ini tak tuntas. mana ada tulisan disini yang memberi informasi, mana ada tulisan disini yang memberi penjelasan-penjelasan? ini adalah kebun tanda tanya. dan kau akan pulang dengan membawa buah-buah membingungkan, pesan pagi ini:
awas, jangan sampai minum racun serangga!


(dan sesombong itukah manusia, sampai serangga yang tak tahu apa-apa diracun? pagi ini aku melakukan genosida kecil, pembantain drakula-drakula terbang. ah, semoga ini tak mendorongku untuk membunuh manusia)


-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar