Senin, 09 April 2012

Ngawi

Kafein..entah bagaimana cara menulisnya.
Jika ia berwujud, pagi ini akan aku kutuki dia
Dia membuat aku menjadi seorang penghayal
Yang depresi karna kantuk tak mau datang berkunjung.
-IA
Udin around the world.
Tinggal beberapa jam lagi aku akan melangkah untuk pergi. Tapi aku tak tidur. Mata terlalu ringan untuk dijatuhkan. Bangun lagi – tidur lagi. Aku tidak tidur pagi ini.
Tinggal beberapa menit aku akan jalan menyusuri jawa timur. Berjalan mengikuti apa yang ada di internet semalam. Kagum karna “Bromo adalah tempat terbaik menikmati pagi” dan..hell yeah, aku adalah seorang fanatik pagi yang militan. (beberapa hari kemudian aku menyesal karena tak tidur waktu menuju jawa timur).
aku pergi juga dari rumah kontrakan berwarna ungu. Dan kini aku berdiri didepan lampu merah – yang entah apa fungsi sebenarnya- menghentikan waktuku selama 40 detik. Dan ketika lampu hampir hijau, bau pagi terpaksa tercemar oleh suara klakson mobil di belakangku. Mobil perlente.
Entah kenapa aku selalu membenci bunyi klakson saat lampu baru saja berubah menjadi hijau. Orang itu – yang membunyikan klakson – seperti tak punya panjang yang cukup untuk urat lehernya. Ihate slow- but i hate fast too.
Aku tak akan menuliskan catatan perjalanan bagaimana akomodasi ke bromo. Bagaimana keadaan alam disana. Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang manusia-manusia yang hidup penuh kecewa. Manusia-manusia yang biasanya bungkam (atau dibungkam) tapi dengan keberuntungan yang hebat mereka membuka sedikit cerita. Setitik dari sekolam darah anyir.
Sebut saja yang pertama bapak tukang bensin. Dia adalah sosok tua yang penuh minyak diwajahnya (bukan oli hitam-ini minyak alamiah tubuh manusia). Dengan kumis tebal ala jawa timuran. Dan suara semangat yang parau karna rokok yang ia hisap terlalu berasap. Kalian bisa temui bapak ini di pom bensin daerah ngawi. Salah satu basis daerah PKI (ini kutahu dari bapak tukang bensin). Aku serius. Ini bukan hanya dongeng. Bapak ini juga merokok di pom bensin – dan aku serius soal hal ini.
(apkah mungkin aku terjemahkan dalam bahasa indonesia saja?) aku mencoba bilingual seperti tivi tapi repot sendiri. Bahasa jawa itu kompleks bung jika kita coba tulis dalam aksara universal.
“pak kok ngrokok?”
Bapak itu senyum tulus
“hahaha ngrokok aja dek nggak apa-apa di pom bensin ini. Tapi adek Cuma boleh ngrokok di pom bensin ini, malam ini. Soalnya cuaca malam ini dingin dek. Potensi meledak sedikit” (ngrokok wae lah dek, ora opo-opo. Howone adem dek- potensi njeblug mung sithik. Tapi mung oleh ngrokok ning pom iki lho yo?)
Aku mengambil rokok kretek yang memang laki.
nggih pak. Umm..tahu kapan bensin jadi naik pak?”
Dia tertawa-tulus,sekali lagi.
“wah bapak ini Cuma buruh pom bensin dek. Nggak tahu. Tapi kalo isunya tetep naik” (wah bapak iki mung babu dek, ora ngerti. Tapi isune naik kok dek,mbuh kapan)
Aku menyimaknya. Mungkin sekedar firasat saja bahwa ia akan bicara panjang, maka aku diam. Melihat wajahnya yang berminyak dan bau sandal tujuh rupa. Tapi ia tulus,sekali lagi.
“ini sudah disandiwara sama yang punya kepentingan dek. Rapat,demo,bahkan yang ngomong menolakpun itu Cuma salah satu adegan sandiwara dek. Yang nolak itu sama saja pembohongnya. Mereka ini Cuma mau narik simpati rakyat. Kalo udah tertarik ya sudah, terserah mereka yang kuasa” (iki sandiwara dek. Rapate yo sandiwara, demono yo podo wae. Ojo maneh sing masang tulisan KAMI MENOLAK BBM. Sing ngomong koyo kui asline yo podo asune. Podo bajingane dek. Cuma nggo ngrayu rakyat,yen rakya wis seneng, bakal sak karepe dewe. Wis sering kui dek)
Aku memandanginya lagi. Ia yang tulus,sekali lagi. Berbicara tanpa menatap wajahku. Mungkin ada sebuah prihatin melihat mahasiswa jaman sekarang.
“yang demo itu lho dek. Kayaknya Cuma emosis sesaat. Kejadian-kejadian yang dulu kan mahasiswa yang nurunin suharto (tanpa pak-aku tak mengerti kenapa) itu setelah koar-koar bakar ban, ndak lama diangkat dan ditawari kursi,dapat uang banyak. Terus lupa sama apa yang diperjuangkan dulu. Semuanya seperti itu dek. Tapi ada yang bener-bener patriot. Tapi sedikit. Tahukan tokoh yang bapak maksud mantan demonstran yang menjadi lupa?ya itu..amin rais,dulu kan semangatnya gimana nglawan tirani,tapi setelah merasa cukup ya sudah. Lupa kali ya hahaha” (sing demo kui dek, paling wong emosi- yen ora dibayar,ditunganggi yo paling melu-melu. Ngerti tho dek sopo sing ngudunke pak harto. Setan orba. Bar njerit nganggo speker,tempel poster, bakar ban akhire lali dek yen wes ketemu kedudukan lan kursi. Opo ora edan? Kabeh ngono dek. Tapi ono sing memang ksatria sejati.tapi sitihik dek. Ngerti tho sopo mahasiswa sing lali karo rakyate sing mbiyen dibelo?yo kui..amin rais. Mbiyen semangate emang jos dek nglawan penjajahan orba. Tapi saiki wes lali karo dewe-dewe iki. Wis tuo yo mungkin. Loyo hahaha)
Bapak itu. yang tulus sekali lagi menatapku. Curi-curi pandang. Mungkin sedang mendeteksi apakah aku mahasiswa semacam itu. tenang pak, aku ini bukan mahasiswa seperti itu. aku bisa lebih dan bisa kurang dari mereka.
“tapi dek, kota ini aman. Tentrem. Semua sudah tidak peduli dengan politik yang menipu. Kita orang ngawi lebih memilih bekerja sendiri daripada bergantung pada negara. Wong negara nggak mikirin jatah anak kita makan. Jatah sangu anak kita. Iya kan? Kemarin pemilihan yang ikut pawai sedikit,semua muak dengan janji dek. Bapak aja golput. Daripada milih calon yang nggak bener semua. Mending cari kerja buat anak istri. Kenyataan di lapangan itu beda dek. Mungkin adek yang tadi bilang dari jogja ini mahasiswa yang suka membela rakyat, semoga adek tulus, tapi di lapangan kita ndak bisa bertahan dengan hal macam itu terus dek. Kita mau demo-eh anak minta uang saku,minta jajan. Anak istri itu merubah segalanya dek hahaha” (ngawi iki aman, tentrem. Kabeh wes wegah karo cangkemane politik sing mung golek duit. Wong ngawi wis ora peduli blas, luih milih kerjo daripada pawai dek. Negara ora peduli anake dewe arep mangan opo mengko sore, arep jajan opo sesuk pas sekolah. Dewe sing ngurusi awake dewe. Iyo tho? Wingi pas pemilihin aku yo golput dek, wegah aku. Ora pas kabeh. Kenyataane memang angel, adek mahasiswa jogja mungkin tau melu demo, mugo-mugo tenanan yo, tapi dewe ora iso ngono terus dek. arep demo anak njaluk sangun- njaluk jajan. Bojo anak iki ngubah segalane dek, kui kenyataane. Bapak tenanan lho iki hahaha)
“ oh terus kemarin gimana pak waktu h-1?ada antrian panjang?” aku menatapnya yang berminyak dan tulus. Dia menebarkan bau sandal tujuh rupa. Tapi,sekali lagi, ia tulus.
“hahaha pedagang ini pinter dek. cerdik. Maksudnya bukan mencari untung sebanyak banyaknya. Bukan maksudnya menimbun untuk berbuat jahat. Yang jual kan rakyat kecil juga dek. masa mau menipu rakyat kecil juga. Beda kalo yang jual orang kaya. Mereka ini,penjual eceran, jauh-jauh hari sudah beli bensin banyak. Sehingga ketika h-1 saat nggak akan heboh. Mereka tahu ada intel-intel yang menyamar. Yang siap meringkus mereka. Tujuan mereka beli bensin banyak sebelum naik itu ya satu. Kalo sebelum naik bisa beli sepuluh liter pas udah naik tetep bisa beli sepuluh liter. Biar nggak rugi terlalu besar dek. jangan salah paham dengan penjual bensin eceran.” (haha bakul kui lui pinter dek. akal-akalane pinter. Tapi ora mbodoni liyane. Sing adol yo wong cilik, ora bakal nipu wong cilik liyane. Bedo karo wong sugih. Wong dodol bensin eceran iki wis kulak bensin sui dek. dai pas dinone ora kaget. Bakul yo ngerti ono intel. Dadi ora bakal dipenjara. Bakul kui tuku akeh maksute pas regane munggah dadi ora kaget. Maune iso tuku 10liter yo sesuk pas munggah biso tuku 10literjuga dek. ben ora rugi bandar dek. ojo salah paham lho yo)
Memang sepertinya bener apa yang bapak bensin ini katakan. Ada sebuah pelajran dari ibuk. Belilah bensin eceran kalo mampu, kamu bisa membantu mereka yang memang butuh. Uangmu nggak Cuma jatuh sama raja minyak, tapi orang lain bisa kecipratan. Kui amal juga lho le,cah bagus..
“tapi bukan berarti lantas pom ini sepi. Bapak suruh sama pedagang biar beli sewajarnya. Paling nggak motor penuh. Kalo pom sepi pas h-1 kan intel-intel ini curiga. Digeledah bisa-bisa rumah pedagang eceran. Gawat itu dek. intel ini kerjaanya kan nyium darah orang. Mereka ini drakula dek.hahaha” (tapi pom ora sepi dek, bapak wes ngongkon konco-konco bakul supoyo tuku sak wajare wae. Ben ora dicurigai intel. Pom sepi kan iso gawat. Intel iso curiga. Intel kui irunge koyo curut dek)
Kita tertawa. Bersamaan. Yang tulus menceritakan dan yang kaget mendengarkan pengakuan bersama-sama melepas tawa. Sedikit bau asap tembakau tercium disana.
“ada demo pak disini?” mencoba bertanya lebih dalam. Sambil mengulur waktu istirahat. Aku lupa jika percakapan ini terjadi saat aku dalam rute pulang dari bromo menuju jogja. Rute yang melelahkan. Dan percakapan ini sedikit membantu mengendurkan otot pantat yang tertekan jok motor metik (aku lupa menulis otomatis dalam sistem kata yang gaul dan singkat). Jok motor yang tipis digerus dengan sengaja, entah apa alasanya aku tak tahu. Ini motor kakak ku.
“nggak ada aksi anarkis disini dek..walapun ini sebenararnya salah satu basis besar PKI” (ia berbahasa indonesia mulai dari sini)
Aku menyimaknya. Aku sempat mengingat sosok bernama aidit ketika melewati madiun, sebelum ngawi jika dari arah timur menuju jogja. Dan aku sempat kembali membuka memori tentang PKI. Tentang cakrabirawa dan gerwani yang baru minggu kemarin aku baca habis. Aku ingat bagaimana sekolah-sekolah formal menutupi fakta yang ada tentang pembersihan pancasila dari komunisme. Aku ingat bagaimana cakrabirawa yang ceroboh menculik para jenderal membuat anggota pki lainya menjadi korban emosi masa yang pongah. Aku ingat tentang gerwani yang di lecehkan oleh tentara-tentara pembersih komunisme. Aku ingat mereka yang tak bertuhan dibantai habis dengan sadis oleh mereka yang mengaku bertuhan. Aku ingat jika pancasila memang sakti. Sangat sakti.
Sejarah memang selalu memberikan absurditas yang nyata. Ia menawarkan dua sudut pandang. Sudut pandang pahlawan, atau sudut pandang penjahat. Tapi pahlawan dan penjahat juga hasil dari sudut pandang garis sejarah yang biasa kita tarik seenaknya tanpa melihat perspektif lain. Kita biasa menarik garis aman, agar tak terlalu pusing memikirkan yang hitam dan putih sebenarnya. Aku bukan fanatik pki. Apalagi tentara. Aku hanya mencoba melihat dari sudut pandang manusia yang memiliki hati. Apakah pantas ribuan orang dibantai karna mengaku tak bertuhan?hak apa yang kita miliki untuk itu?untuk membunuh dan memperkosa?apa karna atas nama bangsa dan dengan didorongkan keingingan luhur kita berhak mengintimidasi manusia lain yang tak tak seiman. Tak se ideologi?
Sadarkah kalian jika sekolah kita terlalu menutupi apa yang ada. Sekolah hanya menawarkan satu sudut pandang. Sudut pandang bahwa komunisme selalu menjadi setan. Hantu yang mencekik mereka yang lengah tak terjaga. Lalu dari sekolah kita tahu bahwa PKI, gerwani, atapun cakrabirawanya adalah sosok yang kejam. Yang suka mencabut kuku orang. Menyilet muka para jenderal hingga rata. Atau mengkebiri testis para tentara. Tapi korban tak hanya dari ia yang bersimbah darah. Korban yang nyata ada pada para anggota pki yang ikut karna merasa keadilan ada ditangan sosialisme. Tahukah kalian tentang janji PKI tentang pembagian tanah yang rata. Yang menyublimkan tuan tanah dan para budak? Maka mereka yang tergiur akan janji komunisme menjadi korban. Menjadi korban hingga anak dan keturunanya. Setiap keluarga “bekas” komunis. Eks-PKI tak bisa berusara dengan merdeka. Ini yang membuat anak-anak aidit, yang tak tahu apa-apa kocar-kacir hingga keluar negeri.
“dek..hutan ngawi yang adek lewati sebelum pom ini sebenarnya kuburan masal pki. Warga ngawi dulu mayoritas pki dek. nah semua dibantai dan dibuang dihutan tadi sama tentaranya pak harto (kali ini ia memakai pak-seperti ada getaran ketakutan kepada sosok yang memiliki sifat militerisme fanatik)
Aku kaget.bingung untuk berekspresi. Hutan gelap tadi adalah kuburan masal. Tanpa nisan dan kain kafan yang layak. Mungkin peluru masih menancap di dagingnya saat ia dikubur. Atau mungkin masaih ada belati yang sengaja ditinggalkan didada-atau di punggung. Dibiarkan berkarat bersama mayat dan tanah. Ahh kejam betul manusia-manusia pada waktu itu.
Memang pki juga kejam. Tapi jika kita memang berTuhan. Kita tak seharusnya seberingas mereka. Atau menjadi lebih kejam dari mereka. Membuat sebagian gerwani yang hanya ikut dalam organisasi dicoreng sebagai lonte-lonte komunis. Yang suka menari telanjang sambil menyanyikan lagu genjer-genjer. Lalu memotong penis para jenderal. Ini bukan keadilan sepertinya. Lihatlah relief yang ada dimonumen pancasila sakti. Kita cukup ngeri melihat gambar tentang pristiwa lubang buaya. Kita dibuat tak mampu untuk menggali fakta dalam kekejaman bersimbah darah. Tak ada yang seratus persen benar- dan seratus persen salah. Semua relatif, tergantung sudut pandang kalian.
Aidit yang satu orang itu dibunuh oleh mereka yang mengaku berTuhan. Tahukah kalian aidit Dibunuh dengan keji oleh para aktivis pemuda Ansor. Jika kalian tahu tentang kolonel yasir hadibroto yang menyimpan arloji aidit setelah ia meninggal kalian akan kaget (jika kalian memiliki kemanusiaan). Aidit yang tak bertuhan diberondong habis dengan AK sampai habis satu magasin peluru oleh mereka yang mengaku berTuhan.
Ini menghancurkan kesimpulan dosen PKN saya sore dilain hari. (kalian tahu aku terlalu malas untuk menyanggah dosen – atau mungkin tak mau menecewakan kawan-kawan yang memburu waktu pulang sambil berteriak seperti binatang-ini sungguh lucu-tapi kadang sedikit menjenuhkan jika terlalu sering, sadarlah sobatku..kalian hanya akan lucu di waktu dan tempat yang tepat. Tapi kalian menghibur sobat. Bertahanlah dengan suara hewanmu. I like you kok. Aku suka saat dosen kikuk mendengar suara kambing atau monyet. Hahaha kalian keren.)
Ia berkata bahwa
“yang berTuhan pasti berkemanusiaan. Tapi yang berkemanusiaan belum tentu berTuhan”
Seharusnya ia menambahkan “yang bertuhan pun belum tentu berkemanusiaan” ilmu logikanya kurang tepat. Kalian lihat contoh pembersihan PKI. Atau mereka yang naik haji dua pulu delapan kali tapi tetap masih suka mencuri.
Bapak itu terus bercerita. Ia juga bercerita tentang rumus “semakin tinggi jabatan semakin santai pekerjaanya” tahukah kamu jika sosok seorang RT adalah sosok pemimpin yang paling nista. Dengan bayaran yang mungkin hanya “terimakasih” ia rela dicaci maki tetangga saat pembagian raskin tak adil. Atasanya tidak menanggung. Sosok RT ada seperti untuk kambing hitam. Semoga sejahtera untuk kalian RT yang bersifat mulia.
Hari ini mungkin cukup disini, masih ada nirmana yang perlu dibelai. Semoga Tuhan memberi kesempatan agar aku bisa bercinta dengan mereka.dengan pena,kertas,keyboard,monitor, dan jaringan dunia maya. Mungkin aku akan menceritakan tentang bapak penjual angkringan didaerah sragen yang benci dengan segala nama militerisme. Tapi tunggulah sobat.
aku terlalu malas dalam kapitalisasi huruf. Mungkin aku memang hanya udin yang menawarkan anonimitas luar biasa. Jika kalian mau, beri aku kabar tentang huruf yang kurang tepat. Terimakasih J

-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar