Jumat, 27 April 2012

Mimpi Nala

berubahkah raut seseorang ketika tubuhnya terpendam jauh didalam tanah dan mulai digigit gigi-gigi kecil ulat pemakan daging itu?

apakah mereka bisa membela diri dari kematian?
penipu-penipu itu? penjahat, pembunuh, pemerkosa? apakah mereka bisa menipu kematian, atau sekedar mengelak sejenak dari belaian para zabaniyah? bisakah mereka memalingkan muka ketika belatung sudah berjalan mendekati leher, mendekati telinga? ah aku rasa mereka hanya akan mengumpat dalam hati.
akupun pasti hanya akan mencaci maki. berharap cacing-caing itu tak mencumbu mataku dulu.

berubahkah raut seseorang ketika tubuhnya terpendam jauh didalam tanah dan mulai digigit gigi-gigi kecil ulat pemakan daging itu?
pertanyaan itu kembali terdengar. sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat mengganggu. karna kau akan membayangkan mayat yang busuk. pembusukan adalah hal yang ditakutkan manusia, setelah kematian. manusia terlalu egois untuk menjaga wajah rupawanya dari ulat-ulat yang lapar, belatung yang mengharap makan.

tapi bukan itu yang ia tanyakan. pertanyaanya tak mengarah ke sebuah cerita sadis tentang manusia yang hidup dan busuk dalam waktu bersamaan, pertanyaanya selalu abstrak. dan dialah Nala. kawan yang aku kenal dalam sebuah perjalanan. seorang jamaah sunrise sejati.

namanya nala, dan ia selalu membawa tanya. ia selalu menyala, karna dia adalah nala, sang api.
ia sangat antusias dengan kematian, terlebih dengan pembusukan sebuah jasad. karna katanya, hanya kematianlah jawaban dari semua pertanyaan. pernah aku menawarkan dia racun serangga, atau sebuah petuah bunuh diri, tapi ia menolak dengan alasan yang semakin gelap. aku mau hidup lama untuk membawa pertanyaan lebih banyak, sehingga setelah aku mati, aku puas dengan jawaban-jawaban. setidaknya aku bisa menjadi orang pandai di alam kubur sana. dan ia selalu mengakhiri dengan senyuman dan sedikit asap rokok yang selalu hadir dalam setiap perbincangan.

nala adalah pemburu pertanyaan yang bisa dikatakan militan. tak pernah ia membagi informasi tentang jawaban, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. ia selalu menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru. selalu. ia pernah berkata, bahwa pertanyaan itu satu paket ekonomis dalam ilmu pengetahuan. karna didalamnya mengandung teka-teki yang akan kau gali dan sebuah paket obat kesadaran. kau tak akan mencari tahu dan tak akan sadar jika kau belum membeli satu paket ekonomis ini.

jangan kau bayangkan nala adalah sosok banyak bicara, seperti remaja-remaja televisi. ia juga bukan sosok menyenangkan. jika kau mengharap ia adalah sosok segar, dengan pertanyaan-pertanyaan ramah, maka pulanglah segara, dan buang harapanmu ditengah jalan.

nala adalah sosok gelap, dan kejam. ia adalah iblis yang menyerang diam-diam. (dia marah setelah aku katakan bahwa dia adalah sosok gelap, ia beralasan bahwa apa yang gelap tidak selalu buruk.bukannya setiap mimpi indah harus melewati kegelapan kelopak mata menuju tidur?hmm pertanyaan baru lagi nala!) lidahnya itu api. jika matamu cukup sering melihat pantat-pantat truk, maka pakailah nasihat dari sana. awas, jaga jarak!

ia menyerangku pagi ini. di sebuah pagi yang biru, dan masih perawan. (ah, perawan, sebuah kata yang membawa objeknya seakan terkurung didalam kotak lalu otakmu akan menggiring fantasi kedepan sosok wanita, dengan rok merah muda, dan sebagainya, dan sebagainya). mungkin pagi ini tak perawan, pagi ini adalah pagi yang perkasa. karna aku mampu berdiri dengan kopi kental, yang kata kawan karibku kopi laki-laki. (sadarkah kau bahwa manusia mulai menganggap benda-benda itu mulai memiliki kelamin hari ini?) dan kelamin, hanya akan membawamu untuk mencoba saling menaklukan. label yang membawa kita untuk mencapai ego masing-masing, dan mencari-cari siapa yang lemah dan siapa penguasa. ah, mengapa aku malah meributkan kelamin?nala sudah menggangguku pagi ini, dan mungkin nala masa bodoh dengan kelamin. didepan monitor hitam, posisi bersila, dan keyboard yang menimbulkan bunyi-bunyian khas, nala mengirim pesan. aku menemuinya dalam kotak masuk facebook. cahaya dikamarku remang-remang, karna lampu selalu kubiarkan mati kala pagi. aku merindukan cahaya yang menembus jendela dan terhalang gorden kuning tipis, yang membuat kamar ini sangat melankolik.

-selamat pagi :) sudah bangunkah kau pemalas?aku bermimpi bahwa aku ini pernah hidup sebelum kau kenal sebagai nala. aku pernah hidup sebagai seorang pembangkang yang mati tertembak. aku ingat ketika ujung pistol itu menempel pada kulit kepala. tepat diatas telinga. aku ingat detail-detail itu. aku ingat aku menjerit ketika peluru itu menembus perlahan, lalu semua menjadi berantakan. merah biru, lalu hitam pekat. dan aku ingat detail-detail itu. aku ingat baju lusuh yang aku pakai, dan kain batik yang menutupi kakiku, dan caping-caping petani. aku ingat detail-detail itu. apakah kau percaya reinkarnasi wahai pemalas?-


kau menanyakan apa yang tak aku tahu sama sekali nala. apa pula reinkarnasi itu? kopi pagi ini begitu pekat, kau seperti meminum pasir jika mencobanya. aku tak tahu nala, karna aku benar-banar buta. maukah kau menunggu sedangkan aku akan mencari tahu barang sebentar?oh aku tak bisa menemukanya!

-nala, selamat pagi. aku tak tahu apa yang kau bicarakan. ya, jika reinkarnasi berlaku buatmu, mungkin kau dulu ada di jasad seorang wanita pki, yang dibunuh dan dibuang karna kekuasaan yang sewenang-wenang. aku tak tahu apa yang kau bicarakan. tapi kemanakah jiwamu sebelum masuk kedalam sosok pki itu? ingatkah kau nala? mungkin kau adalah sri asih. oh ya, aku tak tahu reinkarnasi nala-

mungkinkah nala adalah sri asih? sebelum ia masuk ke jasad seorang wanita pki yang ia ceritakan, yang dibunuh dalam peristiwa 66, yang dikira ikut andil dalam kecerobohan cakrabirawa dia adalah sosok sri asih. atau serupa sri asih. tahukah kau kawan siapa sri asih? superhero pertama indonesia? tahukah kau kawan tentang wanita berkemben itu?

-hahaha sri asih?mana aku ingat kawan, yang aku ingat aku berada di tanah. dengan pistol yang mencumbu kulit kepala. yang diteriaki lonthe komunis sebelum peluru menembus kepala. yang aku ingat hanya jeritan yang keras, karna peluru itu begitu manis rasanya kawan, hanya darahlah yang panas ketika keluar dari kepalamu. percayalah. aku ingat semua itu-


nala. apakah kau sedang masturbasi? apakah obsesimu mengenai komunisme itu sedang mengalamai orgasme klimaks?

-nala, sudahlah. hentikan masturbasimu itu, kau bukan petani, dan kau bukan komunis!-

cangkir kopiku hanya menyisakan sedikit air hitam. yang tersisa hanya pasir-pasir hitam yang lembut, dan manis, dan pahit, entahlah. kopiku habis. dan nala belum mengirim balasanya. apakah nala marah? apakah aku terlalu berlebihan. seharusnya aku ingat bahwa akhir-akhir ini ia sedang mencaritahu tentang petani-petani korban kejahatan korporasi. ia sedang tak membela komunisme, ia sedang membela apa yang komunisme bela waktu itu. kaum petani. maaf nala, aku tak ingat kau sedang mati-matian mengingatkan aku tentang itu semua. tentang negara agraris yang melupakan petani-petaninya. kawan, negara kita ini tak akan melupakan pertanian, tapi tahukah kau bahwa negara kita ini selalu menginjak-injak petani? negara kita ini hanya mengurusi perdagangan dalam pertanian. berapa harga beras, harus impor mana, berapa laba yang diterima pejabat-pejabat itu dari panan cabe bulan ini. mereka hanya mengurusi hal-hal itu kawan. maaf nala, aku lupa. aku lupa kau sedang berduka atas peringatan satu tahun korban-korban setrojenar. aku lupa nala...

-aku bukan komunis memang, tak ada hubunganya dengan komunisme kawan, dan sekarang aku bukan petani! belum mungkin. aku tak tahu seberapa besar duka orang-orang setrojenar, aku tak tahu seberapa besar duka petani-petani yang digusur korporasi-korporasi negara. aku tak tahu semua itu! tapi "penglihatan" yang aku ceritakan kepadamu itu seperti tanda. supaya aku tidak lupa asal-usulku dulu, supaya aku ikut meringankan beban para petani-petani itu kawan! supaya kamu, aku, dan semua orang ingat bahwa negara agraris yang kita sebut indonesia ini sedang tidak memperdulikan nasib-nasib petaninya. bukan hanya dari masa pki. sampai sekarang, era reformasi tai kuda ini petani masih dianggap sekecil biji-biji beras-


aku tak ingat nala, sungguh. aku juga ingin sepertimu, yang selalu mencoba meringankan derita petani-petani itu. tapi apa yang bisa aku lakukan nala? untuk mereka? untuk petani? untukmu? aku hanya sebuah katak yang ada di sawah luas, tapi dengan imajinasi yang sudah tebunuh, mata tertutup dan telinga tersumbat. aku berharap menjadi katak dalam tempurung yang imajinasinya bebas berkeliaran. yang  keberanianya mampu memecahkan luas sebuah ruang. aku ini total buta nala, gelap.

-maaf nala, aku tak bermaksud seperti itu. oke, jika dulu kau seorang petani, pki, dan dibunuh serta diteriaki lonthe komunis sebelum ditembak ditanah, apa yang ingin kau lakukan? pertanyaan apa selanjutnya yang akan kita cari nala?-


bodoh. kenapa aku mengetik itu? sudah pasti alasan nala menceritak mimpinya adalah sebagai pemacunya. agar ia tetap survive membantu para petani. agar ia senantiasa berada dijalan itu. maaf nala. maaf. hari ini kopi telah menyumbat saraf-sarafku.


-kawan, aku ingin kau merangkum pagi. agar harimu tak jadi buru-buru. aku ingin membangkitkan kesadaran kita. aku ingin kau tetap tersenyum dan mengingat semua ini. semua ketidakadilan yang belum tuntas selesai, semua kasih sayang yang belum sampai, sehingga ketika kau terpendam jauh dibawah tanah, kau tak membunuh imajinasi bersama mayat tak bergerak itu kawan. bawalah ketidak adilan ini bersamamu, jika kau bertemu Tuhan nanti, adukan semua ini padanya sebelum kau dibakar habis dineraka.berubahkah raut seseorang ketika tubuhnya terpendam jauh didalam tanah dan mulai digigit gigi-gigi kecil ulat pemakan daging itu? berubahkah ingatan dan memorinya? daridulu kau selalu mengatakan aku ini kafir militan, tak percaya satu agama, lembaga kepercayaan, institusi keimanan atau apalah itu, tapi aku percaya Tuhan kawan..dan jika kau bertemu Tuhanmu, laporkan semua ini kawan. aku hanya ingin mulai percaya pada harapan-harapan. pada doa-doaku sendiri-


tenanglah nala, akan aku rangkum pagi ini. dan aku berjanji. akan kuubah doaku mulai detik ini, agar Tuhan membunuhku sebelum pikun membasuh ingatanku dan hilang berserakan bersama histori waktu. semoga aku mati muda dan mengingat semua ketidakadilan ini nala, sehingga akan kubawa dihadapanNya. semoga neraka tak terlalu panas untuk mebakar ingatan-ingatanku nala. semoga..

-nalaku yang selalu menjadi api, akan kuusahan. doakan aku, entah kepada siapa doa-doa kau ucapkan. entah kepada Tuhan yang mana kau beri harapan-harapan, doakan saja aku. doakan saja agar aku mati muda bersama ingatanku, bersama ketidakadilan di setrojenar, bersama ketidakadilan yang ditimpa buruh-buruh itu, kepada orang-orang di mesuji. berharaplah. tapi sebelum aku membawa satu bundel kisah sedih bumi yang tak adil ini aku mohon berusahalah nala. berusahalah sebelum kau meminta aku mengadu kepada Tuhan, berusahalah sampai mati nala. hidupkan harapan-harapanmu, aku akan berusaha sebisaku juga nala, aku janji : ) janji nala, janji-

kutarik nafas dalam-dalam. kuredam suara-suara keyboard yang mendorong perasaan emosional ini.

-terima kasih pemalas :) aku akan selalu mengingatkanmu,segeralah mandi. pertemukan badanmu dengan air-air dingin. itu akan menyegarkanmu. dan semoga siangmu tak jadi sia-sia-


cahaya kamarku mulai tercukupi. semburat cahaya biasan gorden kuning ini semakin terang. dan aku pergi kedapur. kusiapkan air panas untuk teh yang akan kuseduh sehabis mandi. kopi dan teh. teh dan kopi.atau teh dan teh. atau kopi dan kopi. selalu seperti itu. dan air dingin selalu manti dengan nyanyiaan tralala-trilili.

ahh, saatnya merangkum pagi.....

_IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar