Rabu, 11 April 2012

Seragam dan Problemnya (mungkin)



Mata berat bukan karena haru pilu
Bukan karena biru
Ini panggilan malam
Pejamkan saja..

Berontak kornea ku dan berteriak
Kopipun mengisi sekat lidah
Jangan dipaksa
Pejamkan saja
Malaikat,dan iblispun telanjang diatas malam
Tidak,aku sudah bermimpi..
Aku terpejam..
Gelapnya terang datang
Mata ini kejam
Merajam waktu yang berputar
Aku terpejam
Terpejam sebentar

Saat mata terbuka menyalak
Martilnya pun menghantam
Mengepingkan puncak kepala dan membuyarkan mimpi
Kepalapun dikuasainya

Dikuasai pusing karena kantuk
Dan kantuk bukan karena pusing

-IA

Hari ini aku bisa tidur. Walaupun dengan pusing yang mengambang tapi tak apalah.
Semalam aku bermimpi lagi tentang perjalanan di bromo. Tentang bapak yang mukanya berminyak. Dan tentang satu bapak lagi yang belum sempat aku ceritakan. Dalam mimpi semalam, kedua orang ini saling menatap satu sama lain. Seperti berkaca. Tapi entahlah, aku bukan penafsir mimpi.

Bapak yang kedua adalah seorang penjual angkringan di daerah karanganyar,solo.
Wajahnya lelah. Mungkin karena terlalu sering melihat lampu bus sumber kencana yang jalan seenaknya. Bus sumber kencana yang mencari uang tapi melupakan nyawa orang. Kalian akan menemukan bus ini dengan kecepatan gila-gilaan jika kalian dari jogja menuju surabaya. Ada juga bus sumber selamat. Entah mungkin pemiliknya mau buang sial. Tapi aku rasa percuma. Walaupun kata “kencana” nya sudah dihapus. (kalian tahu betapa hebatnya aura kata kencana-mengingatkan setiap orang dengan penguasa ratu selatan..suatu saat mari kita cerita tentang sosok wanita tersebut).

Bapak ini menunggu gerobak angkringnya bersama seorang istri yang rambutnya sudah mulai memutih. Dibawah gerobak bapak ini hanya sebuah tanah merah yang basah karna sisa hujan beberapa jam yang lalu.

Ketika usia menemani pernikahan seseorang hingga sangat lama. Yang ada tak hanya cinta. Tapi rasa pasrah menunggu mati bersama. Dan setiap hari mereka akan berdoa agar pasanganya tak meninggal lebih dulu..
Setelah perut sudah terasa sesak. Aku merokok. Bapak ini juga merokok. Lalu lahirlah percakapan.

Rokok, yang sedang kalian coba larang, sebenarnya salah satu tali penghubung percakapan yang ringan.

“dari mana mas?”

“dari bromo pak..ini mau kejogja”

“oh..aku malah belum pernah kesana lho mas, padahal orang malang sendiri..masnya asli jogja?”

“bukan pak, aku asli pekalongan”

“wah...! dulu pas aku masih sering nyetir suka berhenti di sana lho mas haha (aku rasa maksud bapak ini, dulu waktu masih suka nyetir truk beliau sering “jajan” di daerah pantura karisidenan pekalongan)”

“oh bapak nya dulu supir? Supir apa pak?”

“supir truk mas-tapi terakhir jadi sopir travel” ia melihat ke arah jalan yang ramai kendaraan besar. Matanya memandang jalan. Dia berada dijalan hampir 30 tahun, aku tahu ini kemudian setelah percakapan. Pandanganya seperti kembali kememori masa lalu ketika ia dengan gagahnya mengendarai truk besar. Atau mungkin menyusuri gang tikus saat menjadi supir travel.

“mas, pulangnya hti-hati, banyak bis yang suka makan jalan. Juga jangan lupa hati-hati sama lampu merah disini mas. Kadang polisinya nungguin”

Aku hanya mengangguk. Lalu ia tertawa sendiri

“hahaha lucu ya mas polisi ini, disekolahin mahal-mahal kok malah jagain lampu . Apa duit tilangnya mau buat balik modal sekolahnya?hahha” dia tertawa nyaring. Seperti ada bekas luka yang mau di korek lagi-Sendiri. Dikorek diri sendiri mungkin.

“mas nya mau kalo jadi polisi atau tentara?”

Ia melihat tattoo di ranting-ranting jariku. “anti tank”. Anti pada jari kanan, dan tank pada jari kiri. Ya, ini salah satu siksa kulit pertama yang aku alami. anti tank adalah nama anonim dari seorang penggiat poster di jogjakarta. Jika kalian pernah melihat poster Munir “menolak lupa”. Itu salah satu karya anti tank. Aku suka nama itu. aku merumuskanya sebagai sikap melawan kepada senjata pemusnah kemanusiaan. Senjata yang besar, gagah menyeramkan namun sebenarnya sangat pengecut. Ya kalian tahulah sifat semua senjata. Untuk menutupi ketakutan dari pihak lawan-lahirlah senjata. Tank adalah salah sayunya. Aku tak hanya membenci tank. Aku membenci semua perangkat militerisme. Aku tak membenci orang-orang militer. Tentara polisi dan sebagainya. Aku membenci militerisme yang mereka terapkan.

Tidak semua tentara dan polisi – dan aparat lainya – jahat. Tapi seberapa banyak aparat yang masih menyisakan hati? Setelah di indoktrinisasi – mereka akan menaruh hatinya dirumah. Cuma ksatria sejati yang membela negara sambil membopong hatinya-kemanapun ia pergi. Kebanyakan dari “mereka” sudah menjadi mesin. Salah satu senjata negara. Dan ada kemungkinan aku mebenci mesin-mesin seperti ini. Tapi hanya “ada kemungkinan”.

Bapak itu menunggu jawaban sambil tersenyum.

“ndak pak..saya ndak bisa jadi tentara sama polisi, yang bisa jadi tentara dan polisi itu sedikit pak”

“lho kalo mas duite cukup mesti iso kok.. banyak mas tetangga saya yang masuk, tapi bayarnya mahal

“hahaha yang bener pak? Tapi maaf ya pak.. menurut saya mereka ini bukan tentara- atau polisi. Yang tentara sama polisi sungguhan itu sedikit sekali pak. Kebanyakan Cuma jadi pebisnis yang kebetulan pake seragam terus nenteng senjata hahaha”

“betul juga mas..haha jujur saja mas..saya ndak pernah ada rasa jadi aparat. Tentara-polisi. Atas nama apapun saya nggak suka mas. Kok ketoke ngencoti wong cilik terus.ora sing mbelo negara, ora sing mbelo agama, kok koyone podo sak karepe dewe. Untung anak saya juga ndak suka mas hahaha”

Bapak ini sepertinya benar-benar ada dendam pribadi. Saya menyimak terus. Apa yang terjadi sebenarnya masih buram. Gelap.

Lalu istri bapak itu, eyang putri, menepuk pundak bapak

uwis tho pak, nek sengit yo wes sengit wae..ora usah diceritak-ceritake..doso lho pak..ora ilok ah”

lhoo bu..yo ora opo-opo tho. Wong mas’e iki yo podo-podo ora seneng’e kok. Iyo ra mas? Sing penting aku kan ora mempengaruhi. Dasare wes podo ra senenge bu’e”

Aku tersenyum kecut. Bapak ini terlalu cepat menarik kesimpulan. Aku ini ndak suka militerisme nya pak. Bukan orang-orangnya.

Kalo ada orang pake seragam tentara, lengkap, dikampung sambil mainin burung perkutu, itu militer pak. Tapi kalo ada orang pake seragam tentara, lengkap, dikampung sambil nembak orang-orang dusun, itu militerisme pak. Tapi, aku urungkan untuk mengucapkan kalimat ini pada bapak itu. takut-takut dia semakin membenci para “mesin negara” ini. Aku bukan penebar benci.

“dulu mas. Saya pernah dipukulin tentara. Enam orang ngroyok saya yang Cuma satu orang”

Olala..tepat sekali dugaanku!

“wah itu jaman waktu saya masih nyopir mas. Awalnya dikejar mas. (si bapak tidak menceritakan alasanya) Waktu dilampu merah, saya terpaksa berhenti. Saya takut dihajar dobel. Sudah dipukul tentara-dirampok polisi gara-gara nrobos lampu merah lagi. Mending saya berhenti aja mas. Eh kok dijalan di hajar habis saya. pake seragam lengkap”

Mungkin kesalahan bapak ini fatal. Tapi sekali lagi – semua orang tak memiliki hak untuk menghakimi orang lain. Semua orang.

Semua orang tak memiliki hak untuk menghakimi dosa orang lain. Kecuali jika ia tak pernah melakukan dosa sama sekali. Dan aku rasa, tak ada orang semacam ini.

“wah dulu itu mas. Pas jamanya pak harto. Sing jenenge tentara kui wis rumangsa koyo sing Kuwoso mas. Wis rumangsa kaya gusti Alloh. Wis ora ono sing iso nandingi wong seragaman mas. Mbiyen sing jenenge truk XXXXX (bukan karna disamarkan-aku lupa nama truk ini) kui iso jalan lewat jalur kanan mas. Ora ono sing wani nyeneni. Wong truk kontainer kui sing due anak rojo mas. Tomy soeharto. Lhah sopo sing wani mas urusan karo keluarga cendana? Wong tentara mbiyen sing ndue cendana. Yo wedi kabeh mas”

Jujur, aku baru tahu. Nama truk itu. kekuasaan itu. dan ia mengucapnya dengan serius. Entah nyata atau tidak. Aku tak pernah mengalami jaman-jaman itu secara langsung. Tapi bukan kah sejarah tak memerlukan fakta. Manusia bisa percaya begitu saja dengan sejarah asal ia bersumber dari omongan seorang cendekia atau kaum intelektual. Jika sejarah keluar dari mulut para buruh dan petani- semua hanya akan menganggapnya opini yang penuh emosi. Sejarah selalu menawarkan kita banyak cerita.

Amarah bapak itu redam sendiri. Mungkin sudah kantuk karna hari sudah melewati angka 12. Dan detik yang berlangsung mengganti hari yang lama dengan hari yang baru.

Lalu aku meneruskan perjalan. pulang.



Sekarang sisa-sisa perjalanan itu masih menempel . Walaupun hanya berupa serpihan-serpihan kecil. Kepalaku tak memberi banyak ruang untuk menyimpan data visual. Kadang aku melupakan detail-detail keindahan yang pernah aku lihat. Seperti bromo kemarin. Ini menyedihkan. Karena membuat rindu mendalam, menagih orgasme tertinggi. Tapi rasa ini membuat semacam spirit untuk yakin, bahwa aku harus kesana lagi. Lebih lama lagi.

Aku masih ingin mendengar dongeng dari teman yang berkemah disana. Aku ingin mendengar lelucon dari orang-orang yang sangat menyukai gunung lebih dari apapun. Bukan, mereka ini bukan mapala, bukan klub pecinta alam. Mereka menyebut diri mereka itu “Jamaah Sunrise”.

Orang-orang jamaah sunrise bukan sebuah sekte agama. Bukan pula kepercayaan. Mereka hanyalah sekelompok yang sangat khusyuk melihat keluarnya matahari dari seberang. Memang tak hanya melihat matahari terbit. Mereka juga menikmati matahari terbenam. Dan api yang menghangatkan malam.

Kalian akan menemukan mereka di gunung-gunung. Kadang berjalan soliter. Kadang juga berkelompok. Tidak banyak. Dan bukan pemuda-pemuda yang suka ria berkemah mengejar matahari. Bukan pula mereka yang mengaku “penakluk” alam – padahal tak ada yang pernah bisa menaklukan alam. Kalian bisa juga menemuinya dijalan. Membawa tas carier besar dan berbagai macam perlengkapannya – tampangya lusuh. Tapi mukanya selalu berseri-seri.

Salah satu dari pengikut Jamaah Sunrise pernah mengatakan sesuatu kepadaku. Waktu itu di atas Pos Penanjakan 2 pukul empat pagi, berharap melihat sunrise beserta tiga gunung ajaibnya. Semeru-Bromo-Batok.

“kamu tahu berapa banyak orang yang naik gunung hanya untuk sekedar menebalkan namanya? Kalau dalam istilah tipografi-salah satu mata kuliah kamu itu- mem-Bold namanya. Seleksi teks, lalu ctrl+b. Iya kan?hahaha sekarang tak hanya jabatan atau gelar pendidikan. Bahkan pendakian gunungpun dianggap menaikan gengsi. Orang-orang ini naik gunung untuk membawa bukti “kejantanannya” dikota. Sekarang banyak sekali orang-orang macam ini”

“berapa banyak?” kala itu aku bertanya dengan tangan yang kaku karena dingin.

“banyak sekali! Yang naik untuk bertemu dengan dirinya yang sejati Cuma sedikit. Lalu apa tujuan mendaki orang-orang ini. Mereka hanya teruh melaju-terus melangkah-terus memanjat- tanpa melihat kanan kirinya. Terlalu gila tujuan tanpa menghayati proses. Akhirnya rusaklah gunung, laut, hutan, dan desa! Semua karna ulah orang yang gila dengan nama tebal

Didalam kehangatan sleeping bag aku mulai menggigil.

“lho, semua orang itu nggak bisa kaya kamu mas. Kamu ini Jamaah Sunrise hahaha. Kamu ini pemuja gunung. Sedangkan kebanyakan dari manusia-manusia lainya itu pemuja keindahan-yang akhirnya memuja diri sendiri. Agama mereka itu beda. Mas nyembahnya gunung lhah mereka. Nyembahnya birahi, puja-puji, dan materi mas. Yang mengaku beragama dan bertuhan pun menyembah Tuhankarna mengharapkan Surga mas. Bukan ketulusan badano-rohani. Wong-wong koyo iku kui mung golek aman soko neroko mas”

Penggila gunung itu hanya senyum-senyum dan menjelaskan bahwa dia ini bukan pemuja gunung. Nanti suatu saat aku ceritakan konsep manusia-manusia “Jamaah Sunrise” ini. Itupun kalau aku masih ingat.

tapi biarlah – surga ini terlalu besar untuk dinikmati orang yang mengerti. Surga ini menyediakan tempat juga untuk orang-orang yang belum mengerti. tapi harap maklum jika orang yang belum mengerti hanya menyaksikan surga ini dari jauh. Dari bangku paling belakang. Biarkan ia menafsirkan sendiri apa yang ia lihat di panggung surga ini. Saya bukan orang yang mengerti, saya hanya orang yang mencari pengertian-pengertian mas. Dan orang yang mengerti itu juga belum tentu benar. Belum tentu duduk dibangku paling depan. Yang duduk di paling depan itu kebenaran dan kebaikan. Tapi semuanya itu relatif mas. Karna kadang yang benar belum tentu baik. dan juga sebaliknya. Mungkin mas akan bertanya lalu siapa yang duduk paling depan? Dan bagaimana caranya agar kita bisa duduk disana?mas akan menemukan jawabanya jika mas selalu menjalani dan membagi kebaikan tanpa harus mengukuhkan kebenaran”

Aku tersedak untuk mencerna kata-katanya yang mengalir deras. orang ini seperti membolak-balikan kata saja.

ingat mas. Jika kebenaran kamu kukuhkan, lalu hal-hal lain, akan terpukul rata antara yang baik dan yang tidak. yang berbeda dari kebenaran akan mendapat nilai salah. Dan segera munculah tirani. Carilah kebenaran sejati. Tapi jangan berhenti berproses. Karna yang benar saat ini belum tentu benar-benar benar. Dan yang salah juga belum tentu benar-benar salah. Yakini kebenaranmu tanpa harus mewujudkan tirani”

Lalu aku ingat akan Ayu Utami. Dan Parang Jati.
Dan matahari pun muncul dari seberang. Membias tipis perlahan.


-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar