Senin, 09 April 2012

Sebelum terlalu kusut

Sebelum kita menuju hal yang berat dan semakin tak jelas mari kita syairkan sebuah hal yang bukan syair. Kita bacakan sebuah sajak yang tak sajak.
persepsi Udin tentang Pagi
pagi adalah zombi.
Karna ia datang mengendap namun pasti.
Kehadiranya adalah rasa muak kepada malam yang panjang.
Kepada gelap yang tak kunjung terang.
Bangkit dari kuburan remang-remang.
Pagi selalu datang dengan optimismenya sendiri.
Datang sebelum kita masuk ke semua hal yang kejam..
Dari siang hingga petang
Sampai mata terpejam
Ironi memang.
Setiap pagi, damai selalu tumbuh dengan sendirinya.
Namun, dua jam berikutnya kita sudah mulai bergulat,
Dengan segala rutinitas yang membosankan.
Disinilah pagi berperan.
Pagi membawa nuansa bahagia yang tak pernah sama.
Sempurnanya pagi hari ini selalu berbeda
Dengan pagi dua hari yang lalu
Dengan pagi tiga hari kedepan
Atau pagi satu hari kemarin
Pagi memberi efek bahagia sesaat yang membekas
Seperti narkoba – tapi ia positif bagi kita.
Kata seorang teman yang mungkin lupa
Dan semangat paginya tak ia bagikan lagi
Pagi adalah jam terbaik.
-IA
......
Rasanya pagi kurang melankoli, ayo nyanyikan satu bait lagu pagi yang tak seperti lagu.
Pagi membawa kesimpulan,
Bahwa apa yang gelap tak selamanya bertahan
Ia menyadarkan kita dengan caranya sendiri
Dengan suara cicit anak burung
Dengan kabut tipis yang lembut
Dengan matahari yang membias malu
Ia seperti mengatakan
Bahwa hidup ini selalu
Tak ada yang abadi
Kegelapan akan segera diubah oleh optimisme pagi
Tapi percayalah,
Pagi juga tak akan bertahan lama
ia akan segera tercabik
oleh keputusasaan siang
namun tunggulah hingga siang berakhir
dan malam bergulir habis
pagi masih akan datang lagi
-IA-
....
Cukup. Aku takut kalau-kalau pagi kalian menjadi buruk karna mantara-mantraku tak berguna
Aku seorang penggila berat pagi.
Tapi aku tak segila orangtua siti nurbaya
Aku masih wajar sebagai orang gila.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar