Kamis, 12 April 2012

Sekolahan


Apa dosar besar institusi?
Apa yang dibawa pada nama sebenarnya? Apakah dosa- ataukah doa?
Perbedaan kedua kata tersebut sangat tipis dosa-doa.
Peran “s” hanya lah penyekat antara “d-o” dan “a”.
Menghambat harmoni karna munculnya ego yang menyekat,ialah “s”
Lahirlah dosa. Yang ganjil jika digenapkan akan membuat tatanan yang harmoni rusak.
Kita tidak harus menggenapkan hal yang sudah berjalan sempurna dengan keganjlianya.

Aku selalu menutup mata dengan mereka yang berjalan membawa mahkota nama besar. Tak baik jika kebencian ditemukan kesombongan. Tidak kawan, aku tidak membenci mereka secara bulat-bulat.

Lucu saja jika ada yang berjalan dengan dada diangkat. Menyombongkan diri seraya berkata

“lihatlah, aku yang menusuk naga disana! Lihatlah kalian wahai manusia lemah” lalu ia berjalan dengan pedang terangkat diudara.

Ia tak tahu jika ia hanya menusuk naga mati. Yang membunuh naga itu adalah orang-orang yang datang sebelumnya.

Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar dari seorang teman bahwa ada satu institusi pendidikan yang sangat bagus. institusi tersebut memberikan apa yang orang inginkan, tapi lupa membekali apa yang orang butuhkan. Semua lulusan dari institusi tersebut berotak kristal. Tapi hatinya hanya susunan kertas toilet yang rapuh disiram air. Orang-orang institutsi tersebut sangat gila teori-teori. Orang-orang ini melupakan ilmu yg diberikan dongeng-dongeng lama.

Lalu “beberapa” orang dari institusi tersebut biasanya berteriak seperti pemuda yang menusuk naga terakhir. mereka lupa bahwa ada orang yang datang lebih dulu, yang menusuk naga itu ketika masih beringas. Ia lupa bahwa di luar sana masih banyak orang yang mencoba menusuk naga beringas, ia lupa bahwa ia hanya menusuk naga mati. Ia hanya meneruskan apa yang pasti dan tanpa resiko.


Aku ingat ketika dulu memilih tempat kuliah. Aku ingat kenapa aku masuk sekolah swasta yang namanya belum meroket. Aku ingat kenapa aku tak mencoba universitas dengan nama yang sudah besar. Aku ingat ketika aku bertemu sosok yang memberi jawab setiap aku tenggelam dalam pertanyaan.

“le, ngger, cah bagus, kamu boleh masuk institut itu. kamu bisa masuk sana le, tapi apa nggak dipikir lagi? Memang bagus sekali pendidikan disana. Memang besar sekali namanya. Tapi itu kan Cuma masalah nama dan prestasi. Eyang lebih seneng kalau kamu nanti “besar” bukan karna sekolah di universitas besar. Apa yang bisa kamu banggain le kalo kayak gitu? Sing apik kan sekolahmu, bukan kamunya ngger. Bagus lagi kamu cari sekolah yang namanya biasa saja le- ndak usah yang besar, asal kamu dapat pendidikan yang cukup. Nah masalah pengembanganya, kamu jangan kembangin disekolah tok, kamu keluarlah-bergaulah dengan semua orang,berjalananlah sejauh mungkin. jangan mung mubang-mubeng nggon kuliah mu iku. Metu dolan. Dadi wong sing kendel tapi eling. Yen pingin dadi wong sakti goleko konco sing akeh. Yen koncomu akeh, musuhmu sithik. Yen musuhmu sithik, koe sakti le, cah baguus. Sejating wong sakti iku dudu mergo gurune le. Bukan dari padepokanya. Banyak padepokan silat yang bagus dulu, tapi apa banyak yang jadi pendekar disana? Banyakan bajingan le. Pendekar padepokan itu memang bagus, tapi itu hasil cetakan. Kui wis akeh pendekar koyo ngono, akeh tur ora iso ngubah jaman. Lha koe opo arep nambahi sing akeh tapi ra iso ngubah jaman? Luwih apik dadi pendekar sing sinau seko alam, seko lingkungan, seko gunung, laut, alas. Dadio pendekar menurut versimu dewe – ra sah melu-melu. Dadi wong sing kendel, wani sinau macem-macem, wani mlaku sing adoh nganti ngrusuk, yen perlu nganti mlebu jurang. Tapi ojo lali. Dadio wong sing kendel tapi eling. Pie ngger? Goleko sekolahmu dewe. Ora usah memaksakan kehendak buat masuk universitas besar- nggon njobo iku akeh banget sekolah sing gede tapi ora nggedeni. Wujude sekolah sing gede tapi ora nggedeni iki ciri-cirine yo ora gede. Malah ora wujud sekolahan le. Kampung, alas, gunung, laut, laan ndalan iku contone. Kui sekolah sing ora nggedeni”


Setelah itu sosoknya hilang, tapi aku yakin akan bertemu sosok itu lagi. Bukan, aku tidak beranggapan bahwa sekolahku sekarang ini masuk dalam ciri-ciri yang diungkapkan sosok tadi. Aku, sampai sekarang masih mencari dimana sekolah itu. mencari sekolah sing gede tapi ora nggedeni. Aku ingin menjadi besar untuk memayungi yang kecil dari terik siang. Bukan yang besar lalu jatuh menimpa yang jauh kecil dibawah. Sosok itu akan kalian ketahui nanti...

Lalu apa dosa institusi yang membawa nama besar?
mungkin ia menyublimkan dosa dan doa itu sendiri. Menghasilkan hal yang samar. Dan jika yang samar menjadi jelas, munculah gelap bayangan. Bayangan inilah yang akan mewujud orang-orang penghunus naga terakhir. orang-orang semacam ini adalah bayangan. Dan kalian tahu bagaimana bayangan tercipta. Bayangan tercipta dari adanya sebuah benda yang menghalangi cahaya. Lalu munculah hal yang gelap, yang merupai bentuk benda asli, tapi tak tersentuh. tak memiliki berat dan bau.

Ahh, apa yang aku bicarakan sekarang? Aku rasa ini terlalu kusut..biarlah institusi yang congkak tetap congkak...yang penting yang tak congkak berusaha agar tak menjadi congkak, bukan begitu kawan?


-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar