Kamis, 19 April 2012

Simbah dan 66


Simbah yang menjual jadah tempe di depan gapura itu ternyata orang bali.
Kemarin ia memakai baju hitam, dan celana kain abu-abu. Ia tampak masih sangat kuat. Tapi tatapan matanya gelap. Dan selalu menatap tanah dengan penuh amarah.

Pagi ini aku membeli jadah tempe, aku tak suka. Tapi aku rela bersepeda untuk menyapa matanya yang gelap. Sejak beberapa hari yang lalu aku kesana. Pagi ini ia memakai baju hitam lagi. Seperti dua hari yang lalu, seperti hari-hari yang lalu. Tapi celanya sudah tak sama.

Simbah itu seperti memiliki dua muka, atau lebih. Kadang tampak sangat keras wajahnya. Matanya selalu menatap tanah. kadang ia lembut dan dingin bau sabun sehabis mandi. namun dalam keadaan lembut pun ia selalu menatap gelap pada tanah yang diam. Tapi ia selalu tersenyum. Tahukah kau kawan, kadang senyum digunakan untuk menyimpan kata-kata yang tak disetujui.

Aku selalu mencari cerita dari orang tua. Karna nyawa menyimpan cerita dalam berbagai versinya, tahukah kau itu?

Tak beberapa lama ada seorang bapak paruh baya, ia memegang seluler berwarna hitam, dan sungguh, aku tak sengaja mendengar percakapanya. Mungkin simbah itu juga.

“hallo..iya, aku kesana nanti siang. Kamu sudah siap? Iya..beneran? kamu ndak takut mati kan? Apa? Hahahaha aku yo ora wedi mati. Yen wis siap tak lungo saiki, aku percoyo karo koe..ra sah wedi..tak sebut jenenge mati ngko. Ra sah wedi!”

Aku hanya mendengar dialog itu, selepasnya otak ku menjadi tak fokus lagi. Ia menutup telponya dan mendatangi kami. Membeli dari simbah. Bayar dan pergi. Aku heran, rencana apa yang akan ia lakukan pagi ini?

“haha lucu yo mas manusia saiki. Banyak yang aneh-aneh. seenaknya mau bunuh orang. koyo sing kuwoso. Ndak pernah beda sama wong mbiyen mas”

Ia menatapku. Ia sungguh menatapku dalam, ia seperti sadar bahwa aku menanti sebuah cerita.

“aku ini lahir di bali mas. Bukan asli jogja. Dulu orangtua terpaksa merantau kesini mas, tak dengar jogja ini lebih aman dari bali”

Ia menatapku sejenak, kemudian kembali merapikan daganganya yang sudah rapi. Dagangannya itu selalu rapi. Sendok,garpu,pisau tak pernah berantakan. Tapi ketika ia mengobrol ia selalu menyentuhnya lagi. Untuk dipindah kesisi lain, lalu ia angkat dan kembalikan lagi kesisi sebelumnya. Selalu seperti itu saat ia mulai mengobrol.

“lho aman dari apa mbah?”

“simbah pindah kesini waktu umur simbah 20 tahun le. Orang tua simbah itu dikejar polisi, simbah denger mereka ini agak ke kiri-kirian. Simbah tak percaya apa yang simbah dengar. Wong keluarga simbah ini petani hindu biasa yang taat”

Ia mengambil nafas dalam, menyiapkan sebuah cerita panjang

“pernahkah kau dengar cerita tentang tragedi 66 mas? Dulu simbah kejogja juga karna tragedi itu mas. Banyak orang bali yang disembelih. Yang pakai seragam atau pakai busana keagamaan sama saja mas. Keluarga simbah takut kalau-kalau jadi korban 66. Wong katanya bapak simbah itu nggak tahu apa-apa. Kamu kira yang dibantai waktu 66 itu Cuma orang jawa? bali semakin mistis setalah tragedi 66, banyak mayat dimana-mana. Teror untuk semua orang yang kekiri-kirian. Banyak temen simbah yang hilang entah dikubur dimana. Untung bapak simbah ini terlalu sayang sama nyawa, akhirnya ia merantau kejogja pake sarung-peci yang katanya nyolong di masjid. Ia mengaku perantauan dari ntt, dan namanya diganti menjadi muhamad ali . nguweeeeri pokoknya le. Untung kamu lahir sekarang mas( bagaimana jika aku ini reinkarnasi dari salah satu korban 66 mbah)?

Ia pun tak melanjutkan ceritanya. Ia memotong ejakulasiku ditengah-tengah cerita. Katanya ia mau pergi mau niliki banyu. Ia lupa mematikan air dirumahnya yang entah dimana. Dan aku disini sendirian. Hanya berkawan jadah tempe yang hanya diam tak bicara apa-apa. Tak berkomentar tentang cerita-cerita yang didengar dari simbah. Apakah jadah tempe ini memiliki sangkut pautnya dengan kata jadah dalam kalimat “anak jadah” ? ahh untuk apa memikirkan kata-kata yang seharusnya merdeka. Aku kembali pada benang kusut yang sekarang malah basah. Membuat tokoh simbah semakin tak jelas historinya.

Apakah ini alasan mengapa matanya yang gelap selalu menuju tanah. Apakah ini alasan mengapa ia selalu memakai baju hitam. Apakha ia sedang melakukan laku berkabung abadi? Sedih sampai mati? Apakah simbah terlalu tak percaya bahwa semua teman dan saudara-saudaranya hilang dimakan cerita? Aku tak tahu itu. aku juga tak tahu apa-apa tentang 66. Generasi kita tak tahu tragedi itu. mungkin ulah librisida.

Tak lama kemudian simbah datang. Dan entah mengapa kami sama-sama tak mau kembali menyambung cerita yang ia ucapkan tadi.

Aku pun pulang dengan kebingungan.
Simbah, apakah simbah menyaksikan tragedi 66 didepan mata? apakah simbah melihat orang-orang hindu yang menjadi vigilante menyembelih komunis-komunis itu? apakah simbah tak menangis ketika kepala terpisah dari leher, lalu menggelinding jatuh kesungai? Apakah saat itu menyangka bahwa Tuhan kehilangan kemanusiaan untuk melindungi namaNya? Sebentar..Tuhan tak memiliki kemanusian..yang Tuhan miliki itu Ketuhanan. Ahh kenapa pikiranku jadi sangat ruwet dan berkabut. Aku butuh rokok saat ini.

...


Tragedi 66. Adalah pembantaian masal. Sebuah genosida yang paling mengerikan,yang disembunyikan agar orangtua tidak harus malu karna melakukanya. Dan akhirnya kita tak dapat berkaca dari cerita lama. Kita tak dapat berkaca bahwa membunuh, demi alasan apapun itu sangat tak masuk akal. Apalagi deengan alasan membela Tuhan. Tuhan itu sangat  Mahasakti, untuk apa kalian bela Tuhan, yang ada kalian ini malah menyempitkan nama Tuhan. Apa kalian anggap Tuhan tak mampu membinasakan yang ingkar kepadaNya?jika ia mau ia bisa, kun fayakun! Tapi ia memiliki rencana, ya paling tidak Ia mau kita berkaca. Ia memberikan kita bandingan-bandingan.

Saya pernah mendengar pedagang roko yang marah dengan salah satu ormas agama, ketika ia menghancurkan kedai miras di pinggir jalan

“koe iki sopo? Putune Gusti Allah opo?!”

Kawan, tahukah kau betapa sejarah kita ini tertutup dengan cat tebal. Sebuah sejarah di tutup dengan cat biru, lalu ditumpuk kuning, merah, abu-abu, hingga biru lagi. Lalu disemen hingga keras. Di plamir, dan dicat putih polos, lalu dicat biru lagi, merah,kuning dan biru lagi.

Pengecat sejarah bisa saja meninggikan nilai estetika. Ia anggap bahwa cat biru itu lebih nyeni daripada tembok yang Cuma warna semen nglumut. Ia anggap bahwa asal-usul tembok kumuh itu tak harus diketahui anaknya yang masih bayi. Ia tak mau anaknya galau karna mengetahui hal-hal aneh yang terjadi pada temboknya. Galau lah anak itu sepanjang masa.

Kini aku tahu kenapa tak banyak orang cina yang hidup di gunung, atau pesisir laut nusantara. Konon katanya waktu tragedi 66, semua orang tionghoa diusir oleh orang-orang dayak.diusir orang-orang pribumi asli. Diusir dari gunung, diusir dari pesisir. Tak jarang pembantaian besar-besaran terjadi saat itu. korbanya adalah semua orang yang tak seseragam, tak sekeyakinan. Orang yang tak bertuhan dibunuh, dibantai, dan dicincang oleh agama.

Tahukah kalian mengapa bengawan solo meluap pada saat tragedi 66? Mayat-mayat korban 66 yang dipenggal, dicekik, dan ditembak itu di buang di sungai besar itu. sehingga menyumbat pintu-pintu air. Aaah, betapa ngerinya sungai waktu itu. barangkali yang belum mati ikut membusuk perlahan ketika ia dibuang ke mulut begawan dalam keadaan sekarat. Ahh...gila.

Buku sekolah tak menceritakan kebengisan manusia indonesia pada tahun 66. Mungkin bukan manusia, mereka ini hanya segumpal amarah yang meluap-luap rakus. Pemerintah membakar setiap buku yang bercerita tentang 66. Media dibredel jika menceritakan itu. dan kita buta, kita tuli dengan cerita itu.

66. apakah 66 satu level dibawah angka sakral 666? Kemana 6 yang terakhir pada saat 66? Apakah mungkin suatu saat terjadi pembantai yang lebih besar? 6 6 2016 atau 16 06 2016? Hingga lengkaplah trinitas 6. Dan iblis melakukan syukuran masal pada hari yang dijanjikan itu?hahaha hayalan yang aneh.

Aku tak mengira, bahwa orang tua saat itu begitu bengisnya.
Dan kitapun lucu. Kita yang mengkutuk genosida nazi, mengkutuk terorisme, mengkutuk yahudi di palestina ternyata berakar dari generasi yang memiliki cerita pembantaian kental. Generasi dari genosida tak bercerita. Yang muncul hanya film tentang pki yang menculik para jendral. Mana film yang mengangkat epic 66? Bioskop mana yang menayangkan film itu? dulu anak-anak sd menyaksikan film tentang pki yang bengis hingga tak tahu sama sekali apa yang dilakukan orang non-pki pada angka 66. Tak hanya yang berseragam. Semua orang menjadi vigilante. Semua orang bebas memilih mau jadi batmen, superman, atau spidermen yang bisa mengalahkan musuh dengan cara sesuka hati. Dan sampai saat ini kita tak tahu.

Ahh..kenapa aku meluap-luap? Aku tak lahir pada kala itu. aku bukan berasal dari jaman itu, aku tak tahu yang sebenarnya. Aku tak tahu siapa yang yang salah dan siapa yang benar, lalu kenapa aku meledak-ledak? Kenapa aku begitu peduli? Ahh, biarlah..semoga kelak kalian mau menceritakan dongeng tragedi ini pada anak cucu kalian. Untuk apa? Kalian akan bertanya untuk apa menceritakan cerita lama ini,untuk apa mengunkit luka lama ini? Akupun tak tahu alasan mengapa aku meledak-ledak setelah mendengar tentang tragedi 66 dari simbah, dari teman, dari buku dan berbagai media jaringan maya, lalu jangan kau tanyakan alasan untuk apa mengungkit cerita ini. Akupun tak tahu kenapa menulis ini kawan. Aku tak tahu alasan emngapa simbah bercerita. Aku tak tahu kenapa seorang teman, jamaah sunrise, yang mengaku bernama Matahari itu begitu keras menentang semua lembaga-lembaga yang menutupi cerita 66. Tapi aku ingat kata Matahari

“tidakah hati nurani merasa ditipu oleh keadaan. Tidahkah hati nuranimu selalu berguncang saat kemanusiaan di singkirkan dan genosida di adakan demi kepentingan lembaga-lembaga?”

Wahai matahari, temanku yang selalu tak mau aku kunjungi rumahnya, teman yang pergi sendiri, aku tersentuh, aku marah karna merasa ditipu. Tapi apa yang bisa lakukan sekarang wahai temanku matahari yang tak mau aku kunjungi rumahnya? Apa yang bisa aku lakukan agar mata simbah kembali bercahaya dan mampu menatap awan barang lima menit saja? Aku ini anak peradaban pincang kawan, mataku baru dibuka. Aku tak tahu kemana harus melangkah. Aku tak tahu. Aku tak seperti bayi kura-kura yang mengerti arah pantai meskipun berbulan-bulan dipendam dibawah pasir dan cangkakng. Harus kemana aku?

“kau hanya perlu peduli dan tak mengulangi hal-hal seperti itu lagi. Kau hanya perlu menebar kasih sayang kawan” matahari memberiku saran saat di kaki merbabu dulu.


Kalian ingat dengan sosok yang aku janjikan identitasnya nanti? Belum, aku tak akan memberitahu siapa dia sekarang kawan. Sosok itu akan kau ketahui nanti. Suatu hari aku bertanya, kenapa ia selalu memakai topi saat aku bertemu dia.

“topi ini untuk melindungi kepala ngger. Manusia ini lucu, kadang kemana-mana selalu memakai sepatu untuk melindungi kaki. Memakai dasi untuk melindungi wibawanya. Tapi mereka lupa melindungi kepala yang menggerakan kaki dan membangun wibawa. Jangan kamu terima mentah-mentah ngger. Maksudku iku, kenapa manusia tak menjaga pikiranya? Ia selalu menjaga langkahnya. Ia selalu mepertimbangkan langkahnya. Apakah jalan itu becek atau mulus. Tapi ia lupa untuk melindungi pikiranya dari hujan batu. ia tak tahu bahwa kepalanya sudah bocor kena hujan batu saat melangkah dijalan aspal yang mulus. Karna ia tak peduli dengan yang tak terlihat. Ia tak peduli dengan otak dan hati yang didalam. Ia lebih peduli pada kaki yang tampak. Contohe ngger, seperti tragedi 66, manusia yang melindungi agamanya rela sembelih sana sini, agar langkah sucinya tak terganggu. Mereka lupa bahwa saat itu otaknya sudah hancur lebur diremuk cerita seram komunisme. Mereka lupa menyambungkan otak dan hatinya. Mereka lupa menghidupkan lampu kemanusiaan. Apa kalo tetangganya itu komunis sembahyangnya jadi ndak khusyuk? Mereka terlalu menghargai apa yang tampak, tanpa mencoba memakai apa yang disediakan otak dan hati. Jadi topi ku ini simbol, agar orang yang lupa bisa ingat bahwa mereka perlu melindungi otaknya dari hujan cerita konyol. Dan melindungi hati le. Kalau solar plexus kita bisa ditopine le yo tak topini cah bagus. Tapi kan lucu kalo kita make topi di dada? Opo ra dikiro wong gendeng?”

Aku baru tahu arti solar plexus dari serial supernova karya dee, konon disanalah “hati” kita bersemayam. Itu kata ilmuwan, benar tidaknya akupun tak tahu. Dan ajaibnya sosok itu mengerti solar plexus yang seharusnya di pakaikan topi, tapi sebaiknya jangan, kalian akan dikira gila jika memakai topi didada.

Hari ini, aku tahu bahwa pernah ada jutaan manusia dibunuh dibumi indonesia dalam tahun-tahun gelap. Dengan alasan dendam karna peristiwa madiun, ataupun alasan lainnya. Hari ini aku tahu bahwa untuk melindungi segala hal, manusia rela menghilangkan banyak hal. hari ini aku tahu bahwa pemerintah siap menumpas jutaan nyawa manusia demi melindungi pancasila. Aku tahu bahwa pada suatu masa,yang berwenang bisa sewenang-wenang.

Tapi aku masih belum tahu, apakah sekarang semua hal itu sudah benar-benar berhenti? Masihkah ada yang memenggal manusia demi menyelamatkan sesuatu. Masihkah orang rela mandi darah demi hal yang tak tentu arah? Sudahkah genosida manusia di nusantara benar-benar berhenti?

Ah aku tak tahu apa-apa. tapi hari ini aku mulai tahu apa fungsi hukum yang sewenang-wenang. Hukum itu, hukum yang sewenang-wenang, membiarkan manusia menjatuhkan sanksi sesuka hati. Membuat manusia menjadi tenang-tenang saja walau ia sudah menghunuskan pisau di dada tetangganya yang baru saja menempelkan poster palu arit. Hukum yang mengesahkan pembunuhan hal-hal yang tak sesuai dengan perspektifnya membuat manusia tenag-tenang saja setelah ia memukul tetangganya yang ahmadiyah. Hukum yang sewenang-wenang membuat manusia tenang-tenang saja setelah membakar maling motor didekat pasar baru. Membuat manusia tenang-tenang saja setelah merajam lonte yang membunuh pelangganya karna payudaranya disulut dengan rokok. Membuat manusia tenang-tenang saja setelah menyembelih maling sapi di ponorogo. Ia kira semua itu benar. Karna hukum menguatkan amarah mereka, sehingga ia mampu menyembelih dan tersenyum seraya berkata “semoga engkau jera!”. Jika semua orang meyakini hukum-hukum seperti ini , maka nurani manusia selamanya akan terkunci di salah satu sudut hati yang paling dalam. Dan entah dengan kunci apa manusia mau membukanya lagi. semoga besok, masa depan, kita tak membiarkan otak dan hati kita diserang cerita konyol, sehingga lupa menggunakan fungsinya. Semoga kita bisa melawan tanpa harus mengangkat senjata dan marah. Semoga kita bisa melawan semua hal yang tak pantas dengan kasih sayang.

Tapi apakah kita bisa melawan musuh kita hanya dengan cinta dan kasih sayang?
Entahlah. Akupun tak tahu.


-IA-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar